Yang Tegang Untuk Menang

Zulfa, meregangkan ketegangan dengan memulas bibir
Zulfa, meregangkan ketegangan dengan memulas bibir

Siang tadi, Zulfa berjalan tergopoh-gopoh. Di tangan kanannya, terlihat lembaran script yang tak pernah lepas. Sementara tangan kirinya, terus bergerak mencari improvisasi. Di sepanjang lorong lantai 7 Kalbis Institute, dia berjalan mondar-mandir. Bibirnya tidak berhenti menghafal script. Sesekali ia membetulkan jilbabnya, memulas kembali bibirnya, atau bergumam sembari menengadahkan kepala.

Lain Zulfa, lain pula Ahmad. Di ujung lorong, Ahmad memilih berdiam diri. Kepalanya menunduk. Dia begitu fokus mendengarkan musik melalui smartphone yang terhubung dengan headset. Sesekali mengangguk-angguk, lalu bergoyang mengikuti irama musik tak lama kemudian.

Ahmad, berada di sudut untuk menenangkan diri
Ahmad, berada di sudut untuk menenangkan diri

Kedua kontingen dari Kring Pajak 1500200 untuk The Best Contact Center Indonesia 2016 (TBCCI 2016) itu, tampak berusaha keras menguasai ketegangan. Mereka mencoba fokus melakukan persiapan sebelum berlaga di depan para juri.

Tidak bisa tidak, ketegangan pasti meruah di acara bertaraf nasional seperti TBCCI 2016 ini. Ketegangan itu terlihat nyata, sedari peserta datang, hingga masuk ke ruangan presentasi.

Dalam psikologi, tegang adalah bentuk reaksi dari rasa cemas. Sementara kecemasan muncul karena tekanan, ketidakpastian, atau menghadapi situasi yang asing. Reaksi tegang nyatanya bukan cuma perkara psikologis, namun juga perkara fisik. Rasa tegang biasanya disertai mual, keringat dingin, pusing, atau gejala-gejala lainnya.

Itulah mengapa, yang dilakukan Zulfa dan Ahmad adalah hal yang lumrah belaka sebagai upaya menghilangkan ketegangan, mengusir kecemasan, dan memberi sugesti positif bagi diri sendiri.

Pemandangan semacam itu merata di seluruh lantai tujuh. Para peserta yang akan tampil berusaha mengendurkan ketegangan dengan berbagai cara yang beberapa di antaranya sangat menarik, unik, bahkan atraktif.

Misalnya yang dilakukan oleh Deska, kontingen dari Telkom Indonesia ini, sibuk wara-wiri bercengkerama dengan teman-temannya. Deska cukup populer, apalagi tampilannya unik dan menarik. Dia mengenakan parka, celana ketat, dan rambut poni. Sekilas Deska jadi mirip dengan Tria, vokalis The Changcuters.

Deska, Telkom Indonesia
Deska, Telkom Indonesia

Sesekali dia menabuh drum tam-tam kecil yang dibawanya. Barangkali berusaha untuk menyibukkan diri dan tertawa bersama dengan teman-teman, adalah terapi untuk menghilangkan ketegangan bagi Deska.

Rekan Deska, Rara, memilih untuk menatap slide presentasi melalui laptop. Berulang kali Rara bolak-balik melihat slide. Raut tegang tampak di wajahnya, seiring dengan keringat yang merembes dari pori-pori.

Rara (kanan). Telkom Indonesia

Rara (kanan). Telkom Indonesia

Kemudian terlihat sebuah senyum yang lepas, Rara berhasil meyakinkan diri dan lebih tenang. Dengan langkah mantap, Rara masuk ke ruangan presentasi.

Tingkah polah para peserta mengusir ketegangan adalah bagian tak terpisahkan dari kompetisi TBCCI 2016 ini. Bayangkan, para peserta sudah berlatih secara spartan dalam waktu yang panjang, membuat slide presentasi, sampai datang pagi-pagi demi penampilan terbaik selama duapuluh menit di depan juri.

Pada detik-detik menjelang presentasi itulah, usaha, peluh, dan harapan akan dipertaruhkan. Pada detik-detik itulah, syaraf-syaraf menegang, tengkuk terasa kaku, bulu kuduk berdiri, darah terasa lambat sekali mengaliri nadi. Serasa ada beban virtual yang berat sekali di pundak.

Ternyata yang tegang tak hanya peserta, para juri pun juga terlihat tegang. Di ruangan presentasi, juri-juri memasang muka serius. Beberapa malah cukup layak dikatakan menekuk muka. Mereka tetap mempertahankan kekakuan tersebut saat menyimak presentasi dari peserta kompetisi.

Namun ada juga Juri yang sangat santai. Arta, salah satu juri dari Indosat, contohnya. Walaupun ini adalah pertama kalinya menjadi juri di TBCCI, Arta tidak tampak nervous. Ia terlihat berbincang-bincang, melemparkan senyum, dan menyapa peserta lainnya.

Baginya, pengalaman pertamanya ini cukup disikapi dengan ringan saja. Arta sudah biasa menghadapi banyak orang dan itulah yang menjadi bekal saat menjadi juri.

Dukungan dari rekan-rekan kerja ternyata juga bisa menjadi pengendur ketegangan. Ruswan dari BNI, misalnya, yang sibuk diajak ber-selfie ria bersama rekan kerjanya. Sejenak Ruswan memang bisa tertawa lepas, sebelum dua puluh menit yang mencekam di depan juri.

Ada juga yang memilih menyepi. Memilih sebuah sudut untuk menenangkan diri. Warid, kontingen dari JNE, melakukannya untuk mengusir risau dan tegang yang menggelayut. Dengan khusyuk, Warid memejamkan mata. Bergeming. Barangkali ia berdoa, memasrahkan diri pada Sang Maha.

Walid, kontingen dari JNE
Warid, kontingen dari JNE

Dalam kondisi seperti ini, dimana manusia sudah menyerahkan semuanya, wujud pelepasan ketegangan adalah yang paling makrifat. Barangkali Walid juga begitu, dia sudah dalam keadaan kepasrahan tertinggi: manusia berusaha, Tuhan berkuasa.

Ketegangan yang meruah dan menjalar adalah fenomena dalam setiap kompetisi. Tapi sorak sorai, hingar bingar, dan tawa lepas–yang menjadi penawar ketegangan–juga menjadi pemandangan yang akrab. Tegang adalah bumbu untuk menang, mereka yang mampu menaklukkan ketegangan akan menguasai gelanggang. (FNR)