Sombong Adalah Dosa Favoritku…

Tak ada satupun manusia di dunia ini (kecuali para nabi dan rasul) yang entah sengaja atau tidak, melakukan kesombongan. Pasti ada, bahkan mungkin banyak. Tapi memang ada satu nabi yang tercatat pernah ditegur keras oleh Sang Pencipta lantaran merasa lebih mengetahui dariNya, yakni Nabi Musa. Dia pun hanya nyaris melakukan kesombongan, bukan berlaku sombong. Saat itu, Tuhan memintanya jangan menatap cahaya yang datang dari bebatuan puncak Gurun Sinai. Namun dia malah menatapnya dengan pertimbangan bahwa itu cahaya biasa. Alhasil, petaka. Nabi Musa terpental hingga pingsan oleh cahaya itu.

Para nabi dan utusan Tuhan telah paham betul, bahwa kesombongan bukan milik mahluk Tuhan, karena yang berhak sombong memang hanya Dia. Dahulu, sebelum Nabi Adam turun, dari semua golongan ciptaanNya, yakni malaikat, jin, dan setan, ada satu golongan yang benar-benar mengundang murka besar Tuhan lantaran kesombongannya, yakni setan.

Irfan Rachman dari Bank Indonesia
Irfan Rachman dari Bank Indonesia

Singkat cerita, akhirnya setan dikutuk, dan manusia pun mendapat pelajaran dari peristiwa itu: kesombongan adalah salah satu dosa besar. Sehingga para nabi dan rasul sangat paham bahwa jangan sampai api kesombongan menyulut di kalbu dan nurani manusia. Pembicaraan soal kesombongan ini sebenarnya adalah obrolan pagi antara tim Bicara 131 dengan Irfan Rahman, sebagai pembuka hari ketiga The Best Contact Center Indonesia (TBCCI), yang dihelat di Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Pusat.

Sifat Tuhan

Pria berkulit terang yang akrab disapa Irfan itu, merupakan salah satu dari 394 orang peserta kompetisi TBCCI 2016 dari Bank Indonesia. Topik mengenai kesombongan ini dilontarkan Irfan saat tim Bicara 131 mewawancarainya, mengenai sejauh mana kesiapan menghadapi tim dewan juri yang akan mengujinya. Awalnya hanya jawaban ringan normatif, bahwa tentu dia siap. Bahkan sangat siap karena tahun lalu dia juga ikut dalam ajang TBCCI 2015 untuk kategori Agent English.

Namun dari perihal itu, Irfan malah tersadar. Meski ada kemungkinan cukup besar baginya untuk unggul di kategori ini karena berkaca dari pengalaman dari tahun lalu, namun Tuhan Maha Kuasa. “Saya tak boleh mendahului ketentuanNya, saya hanya bisa menjalani sebaik mungkin. Over estimate bahwa saya pasti akan menang, sama dengan sombong atau sama dengan saya mengambilalih sifat Tuhan,” ungkapnya. Malah sebaliknya, Irfan bertanya balik ke tim Bicara 131.

“Mas pernah melakukan kesombongan?”

“Jujur, masih terjadi. Tidak acapkali, tapi ada saja yang mendorong diri untuk sombong.”

“Yang penting jangan dibiarkan Mas. Padamkan langsung api kesombongan itu.”

“Iya. Pasti selalu saya redam rasa itu, meski kadang merasa sombong adalah dosa favoritku..”

“Kalau boleh tahu, penyebab utama menjadi sombong itu apa?”

“Hmmm.. Saya pribadi jujur, mudah sombong bila berhasil tercepat menyelesaikan sesuatu.”

“Begitu ya. Tips dari saya untuk meredamnya adalah Mas harus tahu bahwa tak ada sesuatu tercepat di dunia ini.”

“Oh ya? Bagaimana dengan kecepatan cahaya?”

Menanggapi pertanyaan itu, Irfan menerangkan bahwa memang ada satu partikel bernama Muon Neutron yang berkecepatan lebih dari kecepatan partikel cahaya. “Para peneliti menerangkan, partikel ini berhasil melintasi jarak dari kota Genewa, Swiss ke Gran Sasso, Italia hanya dalam waktu tak lebih dari 10 nanosecond (jauh lebih cepat dari milidetik, red) atau lebih cepat dari kecepatan cahaya,” ungkapnya.

burao1
Ilustrasi cerita Irfan (Copyright by Milad’z creations)

Secara matematika, partikel cahaya mampu melesat sejauh 9,461 x 1012 kilometer. Artinya, ketika cahaya lampu kamar dinyalakan, dalam sekejap mata, seluruh partikel cahaya menerangi sudut hingga pelosok ruangan, karena kemampuannya melesat cepat. Walau ternyata ada Muon Neutron yang lebih jauh dari itu, sehingga kecepatan cahaya akhirnya kalah pamor. Tapi satu hal yang diyakini Irfan, yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya.

“Yakni peristiwa Isra’ Miraj Nabi Muhammad.”

“Coba Anda jelaskan secara ilmiah, tentang peristiwa itu.”

“Baiklah, supaya tidak terkesan seperti mengaji, maka saya jelaskan secara logis.”

Peristiwa Isra’Miraj yang dijalani Nabi Muhammad, kata Irfan, terlepas dari kisah para sahabatnya yang digolongkan sebagai manusia sangat terpercaya, secara fakual adalah sebuah perjalanan untuk memeroleh susunan informasi sangat eksklusif mengenai petunjuk kehidupan manusia yang sangat luas.

Informasi itu mewakili kebutuhan manusia hingga diujung akhir jaman, yang dipastikan bukan informasi yang dirangkai dan disusun manusia. Maka secara ilmiah, informasi dan perjalanan Nabi Muhammad adalah sesuatu yang sakral, yang dijalani hanya kurang dari seperempat hari. Dari penuturan Sang Rasul, lokasi yang dia tuju, disebut sebagai Sidratul Muntaha yang terletak di langit ke-7 dari galaksi jagat raya.

Sementara untuk mencapai langit pertama yakni galaksi Bima Sakti (Milky Way) saja, butuh ratusan tahun dengan menggunakan kendaraan berkecepatan cahaya atau mungkin puluhan tahun dengan kendaraan berpartikel Muon Neutron. Namun apa yang dialami Nabi Muhammad, hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Kemudian, Muhammad bertemu Sang Pencipta dengan mudahnya dan bisa kembali lagi ke dunia. Padahal untuk menemui Sang Pencipta bagi manusia biasa, hanya ada satu pintu yakni pintu kematian. “Jadi layakkah kita sebagai manusia biasa sombong. Padahal para nabi dan rasul yang memiliki keutamaan saja tidak berani sombong,” ungkap Irfan. “Baiklah saya pamit, sudah giliran menghadapi juri nih.” Irfan pun pergi.

Ilmiah

Tim Bicara 131 juga hanya bisa berharap semoga tim juri menemukan keunggulan sosok Irfan yang mampu menerjemahkan aspek kehidupan yang rumit sekalipun, ke dalam analogi ilmiah. Ini lantaran caranya menerangkan tentang Isra’ Miraj dari sisi ilmiah, untuk tim Bicara 131 sangat bisa diterima. Mengenai hal ini, tim Bicara meminta tanggapan salah satu dewan juri yang berwenang menilai kualitas peserta secara akademis, yakni Elfira Fibriany Harahap dari Faklutas Teknik Industri Universitas Trisakti.

“Para peserta ajang TBCCI 2016 ini memang mutlak memiliki keahlian menjelaskan secara ilmiah. Karena pelaku contact center ini bukan saja menerangkan sebuah produk, yang keunggulannya lebih mudah diterjemahkan secara ilmiah sehingga membuat konsumen yakin, tapi mereka juga ada yang bekerja di lingkup kebijakan,” ungkap Elfira. Contohnya, lanjut Elfira, contact center dari instansi negara, bank sentral, dan departemen strategis. “Jadi mereka harus menerangkan kebijakan baru instansinya ke publik secara perfect.”

Prestasi Ksatria di Langkah Perdana

Tim Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA) 131 berhasil meraih Juara II pada Perlombaan Jambore The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015, untuk kategori Penilaian Kreatifitas. Keberhasilan meraih posisi kedua pada kategori tersebut mendapat tempat tersendiri di hati para tim BICARA 131. Selain karena Jambore TBCCI ini adalah yang perdana bagi BICARA 131, juga lantaran yang meraih posisi Juara I adalah tim dari perusahaan besar. Apa hubungannya?

Ini lantaran tim BICARA 131 meraih perolehan berprestasi tersebut, setelah bersaing dengan perusahaan yang bisa dibilang berlingkup raksasa. Tak dipungkiri, seringkali kematangan persiapan bagi yang berjumlah orang banyak akan lebih mantap ketimbang mereka yang sedikit. Peserta Jambore TBCCI 2015 ini memang hanya dibolehkan 12 orang per setiap perusahaan. Namun 12 peserta ini membutuhkan banyak masukan dari contact center mereka, untuk mendapatkan ide segar, ide kreatif.

aDSC07731
Salah satu kegiatan lomba dalam kategori Kreatifitas

Dan inilah, hikmahnya, BICARA 131 dengan hanya sedikit personel, mampu menghasilkan penuh kreasi sehingga dinobatkan sebagai Juara II kategori Penilaian Kreatifitas Jambore TBCCI 2015. Tak dinyana, tak dikira, tak diduga, ternyata BICARA 131, tim contact center kecil yang hanya berjumlah 24 personil, bisa se-kreatif perusahaan raksasa itu.

Sehingga meskipun hanya berada di posisi dua, namun secara kualitas, bila berada pada lingkup yang sepadan, maka BICARA 131 memiliki nilai istimewa. Karena secara agregat, dapat disimpulkan bahwa pada riil-nya, kreatifitas tim BICARA 131 berada pada top level. Hal ini sebenarnya sudah banyak terjadi di dunia kompetisi.

Ksatria Kreatif

Tiga bukti yang takkan hilang ditelan zaman, tentang kekuatan kecil yang mampu mengejutkan fakta adalah dari kisah strategi militer kekhalifahan Umar bin Khattab, Salahuddin al Ayyubi, dan Sultan Al Fatih. Ketiga ksatria itu berhasil mempimpin pasukannya yang jumlahnya tak sebanyak lawannya, namun berhasil mendapatkan nilai istimewa, bahkan kemenangan mutlak seperti diraih khalifah Umar bin Khattab.

Hikmahnya adalah keunggulan bukan mustahil bagi mereka yang berjumlah sedikit, asal keseluruhan personilnya adalah ksatria. Sebaliknya ribuan orang biasa mungkin harus berjatuhan keringat dan darah, dengan hanya menghadapi puluhan ksatria. Tim BICARA 131 merasa optimistis, bahwa dalam menghadapi kompetisi apapun nanti, niscaya BICARA 131 akan unggul karena memiliki para ksatria kreatif.

Ratu Guineverre melantik Lancelot menjadi ksatria

Adapun kegiatan Jambore TBCCI 2015 diisi dengan beberapa kategori lomba. Ada jenis lomba verbal yakni kategori ketangkasan dan kreatifitas (BICARA 131 berhasil meraih juara II). Lalu jenis lomba spesifik, yakni kategori menerjemahkan sandi kotak, kategori membuat neraca keseimbangan, kategori memecahkan kode morse, dan kategori mengidentifikasi bumbu masak.

Sportifitas

Sejak Sabtu dan Minggu (16-17 Mei 2015) sebagai waktu pergelaran Jambore TBCCI 2015, lomba demi lomba dilakukan dengan penuh daya upaya untuk menang dan tentunya, menjunjung sportifitas. Sportifitas dalam olahraga maupun kompetisi lainnya, merupakan sikap yang sangat utama untuk menjadikan dan memperindah pertandingan.

Banyak sekarang orang yang tidak mengerti makna sportifitas dan hanya mementingkan sebuah kemenangan. Apabila dalam bertanding sikap sportifitas tidak dilaksanakan, maka pertandigan akan terlihat kacau dan tidak menarik untuk dilihat.

Sebenarnya sportifitas adalah kata sifat yang berarti jujur dan ksatria atau gagah. Dan kata sportifitas yang sebagai kata benda mempunyai arti orang yang melakukan kegiatan lomba tersebut (harus) memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan berperilaku saat bertanding. Seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati bersama.

Jadi sportifitas dalam adalah perilaku atau tindakan dari seorang atau sekelompok peserta yang memperlihatkan sikap jujur, ksatria, disiplin, dan menaati ketentuan dan peraturan pertandingan dan perlombaan, untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.

Maka itu, seluruh instruksi dari panitia Jambore TBCCI 2015 diresapi dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin demi meraih poin sempurna penilaian dewan juri.

Ketika dewan juri mengatakan agar para peserta harus melakukannya dengan cara begini, maka beginilah yang kami lakukan. Dan ketika mereka mengatakan supaya peserta berlaku begitu, maka begitulah yang mereka dapat dari kami para peserta. Tak ada satupun dari para peserta yang mencoba-coba ‘nyolong’ di sela peraturan dewan juri.

Sehingga SELURUHNYA, baik para peserta dan panitia perlombaan Jambore TBCCI 2015, layak diacungi jempol. Tak ada satupun titik noda kecurangan merusak kredibilitas peserta dan panitia. Dari perlombaan Jambore TBCCI 2015 ini akhirnya dapat tercermin bahwa secara keseluruhan TBCCI 2015 adalah ajang yang prestisius, jujur, dan sportif.

Saling Menyemangati

Meski pada hakikatnya TBCCI 2015 adalah kompetisi antar call center se-Indonesia untuk meraih satu kemenangan, namun semangat bersaing dengan cara positif selalu muncul di setiap ajang. Misalnya di hari pertama TBCCI 2015 tampak tak sedikit peserta yang baru berkenalan namun sudah saling menyemangati, dengan berkata “Anda pasti bisa menang, seperti halnya saya pun bisa menang.”

Seluruh peserta Jambore TBCCI 2015, kebersamaan dalam kompetisi sehat
Seluruh peserta Jambore TBCCI 2015, kebersamaan dalam kompetisi sehat

Karena memang kemenangan adalah hak siapapun di dunia ini. Namun sesuai hukum alam bahwa bila ada yang menang, tentu ada yang kalah. Bila ada serigala tentu ada domba. Semua berkaitan saling mendukung. Kemenangan adalah hak semuanya, namun tergantung bagaimana persiapan dan kemampuannya. Jangan harap menang bila tanpa persiapan matang dan modal kemampuan yang berada di bawah ketentuan.

Ya, seperti hakikat ungkapan “Anda pasti bisa menang, seperti halnya saya pun bisa menang” yang maknanya adalah bila Anda lebih siap dan mampu, maka kemenangan ada di Anda. Sebaliknya bila saya yang lebih mampu dan siap, maka mungkin Anda yang kalah. Itulah hikmahnya. Yang menang bisa menjadi teladan dan yang kalah bisa memetik pelajaran.

Pusat Perhatian

Adalah Lukman Hakim, salah satu peserta TBCCI 2015 dari Permata Tel yang mengatakan bahwa kegiatan kompetisi ini tak perlu dibebani dengan ambisi “Aku harus menang”. Pasalnya, hal itu hanya menjadi pecut bagi mereka yang memiliki mental juara. “Enjoy aja. Kita jalani saja,” ujar Lukman. Karena pada umumnya, mereka yang menjadi pecundang lantaran terjajah oleh ambisi sendiri.

Fokus selama lomba, mengasilkan kerapihan
Fokus selama lomba, mengasilkan kerapihan

Tengok saja orang-orang yang depresi bahkan gila di Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sebenarnya siap berkompetisi di dunia, namun semangat dan tujuan mereka dihalang-halangi oleh ambisi tak terkendali dari mereka sendiri. Alhasil, mereka bukan lagi memusatkan perhatian pada target penyelesaian masalah hidup, melainkan pusat perhatian mereka adalah pikiran liar mereka sendiri.

Hal itulah yang akhirnya menjadikan hidup mereka rumit dan akhirnya tak dapat dibendung lagi, sehingga menjadi kusut. Bila sudah begitu, Rumah Sakit Jiwa adalah solusinya. Namun mari tengok mereka yang berdiri di atas podium di hadapan banyak manusia yang hidupnya mengabdi pada kebaikan. Ambisi liar orang-orang seperti ini dapat ditekan, dengan memusatkan perhatian pada hasil dan proses, menuju keberhasilan demi kebaikan alam semesta.

Mereka lupakan sejenak bisikan ‘setan’ yang akan mengganggu tujuan hidup mereka. Jiwa dan mental mereka kokoh, sehingga tak satupun hal bisa menaklukkan pengabdian mereka kepada masyarakat dan alam. Apapun hasilnya, mereka hanya memegang prinsip bahwa proses itu harus dilalui dan dengan persiapan yang matang, hasilnya akan terbaik.

Itulah sebabnya, Lukman, Permata Tel, BICARA 131, dan tim contact center yang bermental juara lainnya sepakat bahwa semua upaya manusia adalah pelajaran yang dapat dipetik. “Jangan lupa, sebagai umat beragama harus percaya bahwa hasil akhir semua yang kita lakukan adalah ijin dari Yang Maha Kuasa. Jadi tanpa ijinNya, tak mungkin semua terjadi.”

Menguak Sosok Misterius Kala Bening Malam

Jumat malam itu, rasa lelah Dimas Adipratama teramat sangat. Pegal, linu, serta tekanan darah di urat kepalanya, bisa dibilang sedang berada di level tertinggi. Dimas adalah salah satu dari 10 orang peserta Jambore The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015 perwakilan contact center Bank Indonesia atau Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA 131). Lho kok jadi Dimas yang disorot? Yang lain pada kemana? Kita biarkan saja dulu yang lain, karena Dimas ternyata menyimpan kisah aneh di malam menjelang Jambore TBCCI 2015, yakni Jumat, 15 Mei 2015.

Malam itu Dimas sangat lelah sehingga untuk berupaya tidur pun sulit, padahal badan sudah sangat lelah. Dia menjadi gusar karena melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB. Semakin gusar karena teman-teman BICARA 131 lainnya sudah pada tidur. Namun semakin matanya ditutup dan berupaya untuk tertidur, hasilnya malah sebaliknya. Segenap tubuh semakin berontak. “Ya sudah, sebaiknya aku jalan-jalan keluar saja,” gumam Dimas dalam hati. Beranjaklah dia menuju keluar wisma. Tim BICARA 131 dan beberapa tim peserta Jambore TBCCI 2015 lainnya, pada malam itu masih menginap di Wisma Pramuka Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Barulah pada Sabtu mereka diharuskan menginap di tenda masing-masing di area perkemahan Jambore TBCCI 2015.

Dimas Adipratama
Dimas Adipratama

Dia pun berjalan ke arah danau, yang berada dekat dengan wisma menginap. Dimas pun memilih duduk di bawah pohon di dekat bibir danau. Disundutlah rokok sisa dari kantor, yang sengaja dia bawa menemani kegiatannya. “Eh, siapa itu?” ucapnya terlontar spontan dari bibir. Tabir asap rokok sempat menggangu pandangan Dimas, terhadap sosok yang berada tak jauh di hadapannya. Lalu dikibasnya asap rokok yang menghalangi pandangannya itu. Dan tampaklah ada seorang pria berumur setengah baya, sekitar 55-60 tahun, mengenakan kemeja dan celana hitam. Dimas menyadari pasti ada yang tak beres, karena si bapak tampak seperti berjalan di atas air danau. “Masa sih penampakan. Tak percaya aku. Hari gini penampakan? Macam di acara televisi kurang kerjaan itu? Ah, tak mungkin.”

Dia pun hirau dengan si bapak itu dan mengalihkan pandangan. Lalu saat kembali mencoba mengarahkan pandangan ke tengah danau tempat si bapak tua itu muncul, Dimas tidak mendapati apa-apa. Hanya pemandangan air danau di malam pekat. Kembali dia melanjutkan menghisap rokoknya di tengah bening malam sunyi Buperta Cibubur. Satu hisap, dua hisap, tiga hisap, “Kok sendirian saja Dik? Teman-temannya sudah pada tidur?”

Sekonyong-konyong Dimas terperanjat karena si bapak berkemeja hitam itu sudah ada di sampingnya. Dimas melihat si bapak dari atas kepala hingga ujung kakinya. Si bapak itu mengenakan kemeja dan celana berwarna hitam. Wajah si bapak pucat pasi tanpa ekspresi. Tampak celana panjang hitam si bapak seperti menjurai kepanjangan. Saking panjangnya celana, si bapak seperti mengenakan sarung berwarna hitam.

“I.. I.. Iya Pak, teman-teman saya sudah pada tidur..”

“Hmmm, kau tak bisa tidur?”

“Eh, anu, bapak tadi di situ lho. Cepat sekali, kok sekarang di sini?”

“Iya, tak usah dibahas. Sekarang kenapa kau sendirian di sini? Tak baik. Kau tahu? Tak baik!”

Dimas menjadi tak nyaman dengan sikap si bapak itu. Dia kemudian melempar senyum kecut ke si bapak dan memutuskan untuk beranjak dari bawah pohon kembali ke tenda. Saat melangkah menuju tenda, si bapak memanggil. “Hei, Dimas. Jangan pernah kau pisah dari kawanan, nanti kau dimangsa.”

Semakin Dimas ketakutan karena si bapak menyebut namanya. Dimas melihat ke belakang, ke arah si bapak. Dan astaga! Tampak si bapak itu berdiri sangat tinggi, mungkin hingga 3 meter tingginya. Kemeja yang dia kenakan menjadi seperti jubah yang panjang hingga kakinya. Dan yang lebih menakutkan adalah kakinya tidak bertapak ke tanah, alias mengapung. Dimas pun lari tunggang langgang menuju arah wisma. Karena rasa takutnya teramat sangat, Dimas pun tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. “Aaaaaahhh!” teriak Dimas sekuat tenaga. Kepalanya terbentur tanah dan terasa sangat menyakitkan, hingga Dimas merasa seperti ingin pingsan.

Di pandangannya yang nanar, dia melihat bayangan si bapak semakin mendekat. Jantungnya pun jadi berdebar cepat dan Dimas berupaya keras untuk bangun. Namun upayanya percuma karena si bapak sudah berhasil mendekapnya. Dimas terasa seperti diceburkan ke kolam dengan air yang sangat dingin. Badannya serasa beku dan akhirnya… “Dim, Dimas, hei  Dim. Bangun, hei, jangan mengigau kau,” ujar Dendi sang Team Leader BICARA 131. Ternyata Dimas hanya bermimpi.

Bersama Membangun

Dimas pun segera terbangun dan membelalakkan matanya. Dilihatnya jam tangannya dan rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 05.20 WIB pagi. Dia akhirnya tersadar bahwa dirinya hanya bermimpi. Dimas pun mengelus dada, bersyukur bahwa apa yang dialaminya hanya mimpi.

Ya, kisah ini hanya sebagai pernak pernik dari kegiatan Jambore TBCCI 2015 yang digelar di Buperta Cibubur pada Sabtu-Minggu (16-17 Mei 2015). Dimas dan tim Jambore BICARA 131 kemudian melanjutkan kegiatan. Sabtu pagi adalah awal dimulainya kegiatan Jambore TBCCI 2015. Tim BICARA 131 mengikuti beberapa rangkaian kegiatan yang diperintahkan panitia Jambore TBCCI 2015.

Peserta Jambiore TBCCI 2015 dari BICARA 131, dengan pakaian serba biru
Peserta Jambiore TBCCI 2015 dari BICARA 131, dengan pakaian serba biru

Diawali dengan upacara pukul 8.30 WIB, seluruh peserta dengan khidmat mengikutinya. Dilanjutkan membangun tenda pada pukul 10.30 WIB, dengan waktu yang diberikan hanya 10 menit. Tim BICARA 131 pun bergegas bahu membahu bersama membangun tenda. Dan yeah, tenda pun berhasil didirikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Dua tenda (tenda khusus laki-laki dan perempuan) dibangun oleh tim BICARA 131. Tenda dibangun dengan perhitungan yang matang, sehingga dia berdiri dengan kokoh dan kuat. Rasa penat pasca mendirikan tenda akhirnya terobati setelah mereka merebahkan badan menikmati suasana di dalam tenda.

Pukul 12.00 WIB setelah jeda makan siang,  kembali panitia mempersilakan para peserta mendirikan gapura, yang harus khas dan menunjukkan ciri khusus masing-masing institusi peserta Jambore. waktu yang diberikan cukup longgar yakni hingga pukul 15.00 WIB. Tampak gapura milik tim PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang cukup mentereng megah. Gapura PT KAI memang menjadi sorotan perhatian para peserta lantaran paling besar dan mencolok di antara yang lainnya. Gapura milik tim BICARA 131 pun tak kalah indah. Dengan ornamen-ornamen khas BICARA 131 yang kerap ditampilkan di setiap ajang, gapura milik BICARA 131 tampak sebagai yang megah diantara gapura lainnya.

Konsep gapura BICARA 131 dibuat untuk menggambarkan Bank Indonesia dan layanan BCARA 131. Di area terdepan tenda BICARA 131, gapura yang terpasang berbentuk monumen kecil bergambar uang Rp 100 ribu. Monumen kecil itu sengaja dibuat berlubang dua, agar orang-orang bisa menaruh wajahnya di situ. Dan bila difoto dari depan, seperti wajah orang tersebut menjadi model uang Rp 100 ribu tersebut.

Gapura BICARA 131
Gapura BICARA 131

Lalu gapura area belakang tenda, adalah gapura pilar. Maksud pilar itu adalah cerminan miniatur gapura selamat datang di Bank Indonesia. Sehingga konsep gapura tim BICARA 131 adalah agar suasana berkompetisi seperti serasa suasana di kantor.

Selanjutnya, setelah pemasangan gapura, panitia memerintahkan peserta memasang ornamen bendera merah putih dengan waktu yang tersedia hanya 15 menit saja. Dan kembali tim BICARA 131 berhasil menyelesaikan kegiatan sesuai waktu yang ditentukan. Menginjak pukul 16.30 WIB dimulailah perlombaan antar peserta. Disinilah sportifitas diuji. Lomba pertama yakni menerjemahkan sandi kotak. Juri dalam lomba ini menilai siapa saja peserta yang paling banyak menerjemahkan makna sandi-sandi yang harus dipecahkan.

aDSC07576
Lomba menerjemahkan sandi kotak

Lomba berikutnya adalah menyusun batang lidi, karet, dan kelereng menjadi segitiga neraca yang seimbang. Semakin banyak neraca keseimbangan yang tercipta, maka merekalah yang mendapat nilai tertinggi. Di kedua jenis lomba, baik menerjemahkan sandi kotak dan membuat neraca keseimbangan, tim BICARA 131 menyelesaikannya dengan baik.

Tim BICARA 131 sedang menciptakan neraca keseimbangan
Tim BICARA 131 sedang menciptakan neraca keseimbangan

Selesainya lomba neraca keseimbangan sekaligus menutup sesi rangkaian lomba pasca jeda istirahat siang. Selanjutnya, acara dilanjutkan setelah pukul 20.00 WIB dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Maka nantikanlah tulisan menarik BICARA 131 tentang Jambore TBCCI 2015 selanjutnya yang tentunya tak kalah seru. Selamat berjuang para peserta Jambore, selamat mengisi petualangan hidup dengan aktivitas positif!