Sombong Adalah Dosa Favoritku…

Tak ada satupun manusia di dunia ini (kecuali para nabi dan rasul) yang entah sengaja atau tidak, melakukan kesombongan. Pasti ada, bahkan mungkin banyak. Tapi memang ada satu nabi yang tercatat pernah ditegur keras oleh Sang Pencipta lantaran merasa lebih mengetahui dariNya, yakni Nabi Musa. Dia pun hanya nyaris melakukan kesombongan, bukan berlaku sombong. Saat itu, Tuhan memintanya jangan menatap cahaya yang datang dari bebatuan puncak Gurun Sinai. Namun dia malah menatapnya dengan pertimbangan bahwa itu cahaya biasa. Alhasil, petaka. Nabi Musa terpental hingga pingsan oleh cahaya itu.

Para nabi dan utusan Tuhan telah paham betul, bahwa kesombongan bukan milik mahluk Tuhan, karena yang berhak sombong memang hanya Dia. Dahulu, sebelum Nabi Adam turun, dari semua golongan ciptaanNya, yakni malaikat, jin, dan setan, ada satu golongan yang benar-benar mengundang murka besar Tuhan lantaran kesombongannya, yakni setan.

Irfan Rachman dari Bank Indonesia
Irfan Rachman dari Bank Indonesia

Singkat cerita, akhirnya setan dikutuk, dan manusia pun mendapat pelajaran dari peristiwa itu: kesombongan adalah salah satu dosa besar. Sehingga para nabi dan rasul sangat paham bahwa jangan sampai api kesombongan menyulut di kalbu dan nurani manusia. Pembicaraan soal kesombongan ini sebenarnya adalah obrolan pagi antara tim Bicara 131 dengan Irfan Rahman, sebagai pembuka hari ketiga The Best Contact Center Indonesia (TBCCI), yang dihelat di Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Pusat.

Sifat Tuhan

Pria berkulit terang yang akrab disapa Irfan itu, merupakan salah satu dari 394 orang peserta kompetisi TBCCI 2016 dari Bank Indonesia. Topik mengenai kesombongan ini dilontarkan Irfan saat tim Bicara 131 mewawancarainya, mengenai sejauh mana kesiapan menghadapi tim dewan juri yang akan mengujinya. Awalnya hanya jawaban ringan normatif, bahwa tentu dia siap. Bahkan sangat siap karena tahun lalu dia juga ikut dalam ajang TBCCI 2015 untuk kategori Agent English.

Namun dari perihal itu, Irfan malah tersadar. Meski ada kemungkinan cukup besar baginya untuk unggul di kategori ini karena berkaca dari pengalaman dari tahun lalu, namun Tuhan Maha Kuasa. “Saya tak boleh mendahului ketentuanNya, saya hanya bisa menjalani sebaik mungkin. Over estimate bahwa saya pasti akan menang, sama dengan sombong atau sama dengan saya mengambilalih sifat Tuhan,” ungkapnya. Malah sebaliknya, Irfan bertanya balik ke tim Bicara 131.

“Mas pernah melakukan kesombongan?”

“Jujur, masih terjadi. Tidak acapkali, tapi ada saja yang mendorong diri untuk sombong.”

“Yang penting jangan dibiarkan Mas. Padamkan langsung api kesombongan itu.”

“Iya. Pasti selalu saya redam rasa itu, meski kadang merasa sombong adalah dosa favoritku..”

“Kalau boleh tahu, penyebab utama menjadi sombong itu apa?”

“Hmmm.. Saya pribadi jujur, mudah sombong bila berhasil tercepat menyelesaikan sesuatu.”

“Begitu ya. Tips dari saya untuk meredamnya adalah Mas harus tahu bahwa tak ada sesuatu tercepat di dunia ini.”

“Oh ya? Bagaimana dengan kecepatan cahaya?”

Menanggapi pertanyaan itu, Irfan menerangkan bahwa memang ada satu partikel bernama Muon Neutron yang berkecepatan lebih dari kecepatan partikel cahaya. “Para peneliti menerangkan, partikel ini berhasil melintasi jarak dari kota Genewa, Swiss ke Gran Sasso, Italia hanya dalam waktu tak lebih dari 10 nanosecond (jauh lebih cepat dari milidetik, red) atau lebih cepat dari kecepatan cahaya,” ungkapnya.

burao1
Ilustrasi cerita Irfan (Copyright by Milad’z creations)

Secara matematika, partikel cahaya mampu melesat sejauh 9,461 x 1012 kilometer. Artinya, ketika cahaya lampu kamar dinyalakan, dalam sekejap mata, seluruh partikel cahaya menerangi sudut hingga pelosok ruangan, karena kemampuannya melesat cepat. Walau ternyata ada Muon Neutron yang lebih jauh dari itu, sehingga kecepatan cahaya akhirnya kalah pamor. Tapi satu hal yang diyakini Irfan, yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya.

“Yakni peristiwa Isra’ Miraj Nabi Muhammad.”

“Coba Anda jelaskan secara ilmiah, tentang peristiwa itu.”

“Baiklah, supaya tidak terkesan seperti mengaji, maka saya jelaskan secara logis.”

Peristiwa Isra’Miraj yang dijalani Nabi Muhammad, kata Irfan, terlepas dari kisah para sahabatnya yang digolongkan sebagai manusia sangat terpercaya, secara fakual adalah sebuah perjalanan untuk memeroleh susunan informasi sangat eksklusif mengenai petunjuk kehidupan manusia yang sangat luas.

Informasi itu mewakili kebutuhan manusia hingga diujung akhir jaman, yang dipastikan bukan informasi yang dirangkai dan disusun manusia. Maka secara ilmiah, informasi dan perjalanan Nabi Muhammad adalah sesuatu yang sakral, yang dijalani hanya kurang dari seperempat hari. Dari penuturan Sang Rasul, lokasi yang dia tuju, disebut sebagai Sidratul Muntaha yang terletak di langit ke-7 dari galaksi jagat raya.

Sementara untuk mencapai langit pertama yakni galaksi Bima Sakti (Milky Way) saja, butuh ratusan tahun dengan menggunakan kendaraan berkecepatan cahaya atau mungkin puluhan tahun dengan kendaraan berpartikel Muon Neutron. Namun apa yang dialami Nabi Muhammad, hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Kemudian, Muhammad bertemu Sang Pencipta dengan mudahnya dan bisa kembali lagi ke dunia. Padahal untuk menemui Sang Pencipta bagi manusia biasa, hanya ada satu pintu yakni pintu kematian. “Jadi layakkah kita sebagai manusia biasa sombong. Padahal para nabi dan rasul yang memiliki keutamaan saja tidak berani sombong,” ungkap Irfan. “Baiklah saya pamit, sudah giliran menghadapi juri nih.” Irfan pun pergi.

Ilmiah

Tim Bicara 131 juga hanya bisa berharap semoga tim juri menemukan keunggulan sosok Irfan yang mampu menerjemahkan aspek kehidupan yang rumit sekalipun, ke dalam analogi ilmiah. Ini lantaran caranya menerangkan tentang Isra’ Miraj dari sisi ilmiah, untuk tim Bicara 131 sangat bisa diterima. Mengenai hal ini, tim Bicara meminta tanggapan salah satu dewan juri yang berwenang menilai kualitas peserta secara akademis, yakni Elfira Fibriany Harahap dari Faklutas Teknik Industri Universitas Trisakti.

“Para peserta ajang TBCCI 2016 ini memang mutlak memiliki keahlian menjelaskan secara ilmiah. Karena pelaku contact center ini bukan saja menerangkan sebuah produk, yang keunggulannya lebih mudah diterjemahkan secara ilmiah sehingga membuat konsumen yakin, tapi mereka juga ada yang bekerja di lingkup kebijakan,” ungkap Elfira. Contohnya, lanjut Elfira, contact center dari instansi negara, bank sentral, dan departemen strategis. “Jadi mereka harus menerangkan kebijakan baru instansinya ke publik secara perfect.”