Mereka Membuat Peserta Tegang

AstraWorld (03/08/2016). Sepuluh sampai lima belas orang duduk berjejer dalam ruang penilaian, menjadi penentu kemenangan para peserta lomba individu The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2016. Mereka inilah para juri yang dipercaya untuk memberikan penilaian kepada para peserta.

Berbagai macam poin menjadi pertimbangan penilaian para juri, mengharuskan mereka meluangkan waktu, tenaga, serta pikiran untuk rangkaian acara TBCCI 2016 ini. Meski tak jarang mereka hanya diharuskan untuk duduk diam dalam ruangan, tanpa berkata apa pun selama peserta mempresentasikan materi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Anita Rizqyana, salah satu panitia TBCCI 2016, perhelatan tahun ini menugaskan 145 orang yang tersebar di tujuh ruangan penjurian. Para juri ini berasal dari praktisi dan akademisi. Praktisi perwakilan perusahaan, yang menjadi anggota Indonesia Contact Center Association (ICCA) dan/atau peserta TBCCI 2016, minimal setingkat team leader atau supervisor.

Sedangkan juri dari akademisi, berasal dari perguruan tinggi yakni Kalbis Institute, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Mercubuana, dan Universitas Trisakti. Juri akademisi ini pun harus memenuhi persayaratan minimal berpendidikan S2, dan berasal dari jurusan manajemen,  psikologi, teknlogi informasi, teknik industri, atau bahasa.

Informasi tambahan dari Anita Rizqiana, semua juri telah mendapatkan pembekalan mengenai mekanisme penilaian dan telah dilengkapi dengan score card untuk setiap peserta. “Setiap pagi, selama hari pelaksanaan kompetisi, panitia juga masih memberikan informasi tata cara mengisi score card serta tata tertib”, tambah Anita.

Di hari ketiga (3/8) pelaksanaan  TBBCI 2016 penulis mencoba mendekatkan diri pada sosok-sosok juri. Dari ke-145 juri, berikut tiga juri TBCCI 2016 yang kami tanyakan kesan-kesan mereka selama bertugas.

 

  1. Sb. Diah Pudjiastuti (Contact Center Head AstraWorld)

Gimana bu kesan-kesannya menjadi juri dalam TBCCI ICCA 2016 ini?Juri TBCCI 2016 dari AstraWorld

Saya sebetulnya sudah mengikuti TBCCI ICCA ini sudah bertahun-tahun, tapi kebetulan memang sudah 5 tahun vakum sebelum akhirnya tahun ini berpartisipasi kembali. Kali ini saya jadi bisa lihat perkembangannya, ternyata saat ini pekerja Contact Center itu seperti ini, jadi saya pun belajar lagi supaya ke depannya bisa lebih baik lagi. Karna semakin tahun kan semakin banyak perusahaan yang menggunakan contact center, jadi kita bisa lihat orangnya pun sudah banyak beragam dan bertumbuh.

 

Dari semua penampilan yang sudah ibu saksikan, kira-kira ada yang mengena di hati?

Ada, saya suka penampilan anak-anak Indosat Oreedoo yang usianya masih belia, sepertinya gen-Y semua. Penampilannya casual rapih, dan slide presentasinya pun dibawa apik unik. Menurut saya ini salah satu yang cukup mengena di hari.

 

  1. Titi Kaylani (Manajer Service Suppot PT Angkasa Pura II)

Juri TBCCI 2016 dari Angkasa Pura IISelama jadi juri, bagaimana pendapat Ibu mengenai acara ini?

Dari segi kepanitiaan, acaranya rapi dan bagus. Lokasi acara dan fasilitas bagus, bersih, pengaturannya oke dan jelas karena juri dan peserta dilengkapi ID card. Saya juga sangat mengapresiasi acara ini karena bisa memotivasi pesertanya untuk menjadi yang terbaik di contact center.

Adakah dampak acara TBCCI 2016 ini terhadap perusahaan Ibu?

Bagi perusahaan tempat saya bekerja, acara ini bermanfaat untuk mengenal dan menggali potensi karyawan yang ikut sebagai peserta. Hasil dari kompetisi ini menjadi salah satu bahan pertimbangan terhadap penilaian performance karyawan

  1. Arnolt Kristian Pakpahan ST, MT (Dosen Teknik Industri dan Manajemen Universitas Trisakti)

Bagaimana ceritanya hingga bisa jadi salah satu juri TBCCI 2016?

Informasinya saya peroleh dari kampus tempat mengajar dan sayalah Juri TBCCI 2016 dari Universitas Trisaktiyang ditugaskan mewakili kampus untuk menjadi juri di acara ini.

 

Kesan-kesan selama menjadi  juri TBCC 2016I?

Saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai bisnis contact center. Selama ini saya tahunya call center tetapi ternyata sekarang sudah berkembang menjadi contact center. Jadi teknologi berkembang tidak sekedar telpon tetapi sudah mencakup di dalamnya social media seperti twitter, facebook, Instagram, Google+.

Penilaian Pak Arnolt terhadap peserta lomba individu?

Biasanya saya menjadi judge di acara-acara kampus, seperti kewirausahaan, dimana peserta kompetisinya mahasiswa. Sedangkan di acara ini, karena pesertanya adalah praktisi contact center, jadi level acaranya lebih profesional. Sangat terasa kompetisinya karena setiap peserta berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.