Kalibrasi Pemimpin Sejati – Bagian 1

Berbicara mengenai kepemimpinan dan urgensinya dalam kehidupan, kata “mutlak” muncul sepenuh kesadaran. Kepemimpinan adalah hal pertama yang harus ditentukan setelah beberapa orang sepakat berkumpul untuk satu atau lebih tujuan. Kenihilannya dapat berarti kegamangan, kestagnanan, kebingungan, sampai ketidak-jelasan melangkah di masa depan. Bisa tidak kita membayangkan sebuah contact center tanpa manager? Tanpa supervisor atau team leader?

Contact center butuh pemimpin di berbagai lini dan kesehariannya. Bukan hanya sebagai orang yang memastikan tujuan-tujuan bersama tercapai, pemimpin juga menjadi pembimbing orang-orang yang dipimpinnya. Dengan beragamnya jenis karakter manusia di atas dunia ini, perpecahan dapat timbul dan pastinya kelak merugikan bila tak ada yang mengarahkan. Dengan adanya pemimpin, sebaliknya, perbedaan karakter yang ada dapat dipadukan dan menjadi suatu sinergi yang menjadi roket pendorong kemajuan.

Redefinisi Makna Pemimpin

Di bagan realita masyarakat kita, ada banyak sekali posisi yang sejatinya adalah seorang pemimpin, namun namanya saja yang berbeda satu sama lain. Misalnya, direktur sebuah perusahaan. Siapa pun yang ada di posisi ini, sesuai makna asal kata dari jabatannya, direct, yaitu bertugas memerintah dan mengendalikan seluruh fungsi perusahaan. Di bawahnya ada manajer, orang yang bertugas untuk mengelola seluruh tugas yang diberikan direktur padanya, dan tentunya mengelola pula bawahan-bawahannya. Kita juga mengenal posisi supervisor yang berkewajiban mengawasi, mendidik, dan memastikan para anak buahnya bekerja dengan baik. Mereka semua adalah pemimpin. Terlepas dari kadarnya yang sedikit atau lebih, mereka benar-benar dalam posisi pemimpin. Dari mereka pula kita bisa mendapatkan definisi-definisi kepemimpinan yang kita butuhkan. Pertama, menurut Hellriegel dan Slocum, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan mengarahkan orang lain guna mencapai tujuan. Hampir sama itu, menurut Weirich dan Koontz, kepemimpinan merupakan seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka bersedia dengan kemampuan sendiri dan secara antusias bekerja utuk mencapai tujuan organisasi. Pengertian ini mungkin didasarkan pada kenyataan bahwa pemimpin adalah memang orang yang berpengaruh dan harus mampu memengaruhi para bawahannya. Jika tidak, dialah yang akan jadi korban pengaruh dari orang lain. Sehingga, secara umum pemimpin adalah orang yang harus teguh prinsipnya. Dia tidak gampang terpengaruh, dan kalaupun ia harus terpengaruh, ia punya adalah yang jelas kenapa ia harus mengiyakan pengaruh dari luar dirinya. Begitu pentingnya masalah pengaruh ini, sampai-sampai, di definisi tentang kepemimpinan mana pun, dari siapa pun, kata “pengaruh” kerap dicantumkan, baik diverbalisasikan ataupun secara tersirat.

Dalam buku “100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” karangan Michael H. Hart, para pembaca diajak penulisnya selalu menemukan kata “pengaruh” dari nama-nama yang dicantumkan penulisnya, yang kebanyakan juga seorang pemimpin dari kumpulan orang-orang yang dalam jumlah yang besar. Ambil sampel saja, Adolf Hitler. Walau Hart mengaku mencantumkan nama itu dengan perasaan tak nyaman, dengan alasan bahwa nama Adolf Hitler menjadi sangat penting dalam sejarah karena tindakan negatifnya atas lebih dari 35 juta orang, tidak bisa dipungkiri ia adalah orang yang pengaruhnya membumi pada tentara-tentara Nazi didikannya. Dengan kemampuan “pengaruhnya”, Hitler, yang pernah menjabat sebagai Kanselir Jerman, memobilisasi anak buahnya ke dalam serangkaian sepak-terjang besarnya.Ia menduduki dan memperkokoh benteng di Rhineland (1936), menguasai Austria (Maret, 1938), mengarahkan angkatan bersenjatanya melabrak Denmark dan Norwegia pada tahun 1940. Di bulan Mei, lelaki yang lahir di Braunau tahun 1889 ini menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg. Sebulan berikutnya, Perancis tunduk di bawah kekuasaannya. Setahun kemudian, kira-kira di bulan April 1941, Yunani dan Yugoslavia tumbang. Hitler juga menyerbu Uni Soviet dan Inggris, serta mengumumkan perang melawan Amerika Serikat pada bulan Desember, tahun 1941. Karena semangat ekspansinya, pada pertengahan tahun 1942, Hitler sudah menguasai bagian terbesar wilayah Eropa, yang konon tidak pernah sanggup dilakukan siapa pun dalam sejarah. Sebagai “bonus”, ia juga merambah wilayah Afrika Utara. Karena “catatan besar” itulah, lelaki yang meninggal dunia di Berlin pada tanggal 30 April 1945 ini dapat digolongkan sebagai pemimpin yang memiliki salah satu kemampuan kepemimpinan: pengaruh. Dengan pengaruh itu, Hitler menggerakkan seluruh organisasinya. (Bersambung).