TERIMA KASIH ICCA

TERIMA KASIH ICCA

“The best thing you could give someone is a CHANCE” 

Dahulu yang kita tahu hanya kerja, kerja dan kerja. Pergi pagi, absen, duduk di depan komputer, mendengar dan menjawab kebutuhan pelanggan, dan pulang. Begitu seterusnya sampai-sampai kita lupa kalau ada sesuatu yang kita miliki, yaitu bakat. Bekerja sesuai dengan passion memang menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Tapi apakah semua orang bisa, meskipun sebenarnya mampu? Ada begitu banyak keterbatasan dan keadaan yang menghalangi minat dan potensi kita. Tak apa, tidak perlu menyalahkan diri sendiri dan bermurung duka.

Ada berjuta-juta orang yang suka dan mampu menyanyi di Indonesia, tapi hanya ada ratusan penyanyi yang kita kenal. Ada jutaan orang yang suka fotografi, tapi hanya ada ratusan orang yang berprofesi sebagai fotografer. Jutaan orang lain mungkin suka menulis, tapi nyatanya hanya ada ratusan orang yang hidup dari tulisan. Ironi, tapi ini kenyataan.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menghasut kalian menjadi “pemberontak” dengan menyarankan agar keluar dari perusahaan dan kejarlah passion kalian. Karena untuk hidup, idealis saja tidak cukup. Kita harus realistis. Toh, anda masih bisa bernyanyi, tapi harus menjadi penyanyi; anda masih bisa menulis, tanpa harus menjadi penulis, dan anda masih bisa berbicara dan berbagi gagasan, tanpa harus menjadi public speaker.

Sejak berdirinya pada pada tahun 2003, Indonesia Contact Center Association (ICCA) berkomitmen untuk memotivasi, mengapresiasi dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, serta menyalurkan bakat para insan contact center se-Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Pak Andi Anugrah selaku ketua ICCA dalam Press Release pada tanggal 24 July 2017.

Kemenangan adalah anak dari perkawinan antara kesempatan dan kemampuan. Sebagai “orang tua” yang baik, ICCA menjodohkan para peserta dengan kesempatan, yaitu ajang perlombaan tahunan. Seperti hubungan pada umumnya, kesempatan harus bertemu dengan peserta yang pas, baru lahirlah seorang juara.

Ridwan Maulana (tengah) bersama-sama rekan kerja di Kereta Api Indoneisa

Ridwan Maulana yang merupakan peserta perwakilan Kereta Api Indonesia (KAI) dalam kategori “Customer Service – Large”, mencoba memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Pria kelahiran Cirebon itu sudah 5 tahun bekerja di KAI. Sebagai seorang yang bercita-cita kerja di dunia perkeretaan, dan cita-citanya itu terwujud, Ridwan tentu punya kelebihan khusus. Dia memiliki kecintaan terhadap pekerjaan. Owh cinta, kekuatannya memang begitu besar, hingga Ridwan bisa maju mewakili KAI. Mengingat seleksi ketat yang dilakukan KAI, bisa dibilang Ridwan sangat hebat. Bayangkan saja, dia harus bersaing dengan perwakilan seluruh cabang KAI se-Indonesia, baru bisa maju ke pentas ICCA.

Ridwan memang sudah lama menyukai public speaking. Menjadi peserta dalam ajang ICCA merupakan kebanggaan tersendiri baginya. Dia sangat bersyukur dan berterimakasih kepada ICCA karena sudah diberikan kesempatan untuk membuktikan diri, kalau dia bisa bicara di depan orang. “Terimakasih yang tidak terhingga kepada ICCA yang dengannya semua insan contact center se-Indonesia dapat hadir dalam satu kesempatan. Saya bisa berkaca serta belajar satu sama lain. Saya merasa bangga dapat mewakili KAI. Dan saya merasa puas telah menunjukkan kemampuan terbaik saya,” kata Ridwan yang memakai pakaian khas seorang kondektur.

Wahyudin perwakilan Angkasa Pura II di kategori “Best of Best Customer service”

Selain pakaian mencolok Ridwan, penampilan Wahyudin juga tidak kalah unik. Dengan blangkon di kepala, peserta perwakilan Angkasa Pura II di kategori “Best of Best Customer service” itu membawakan tema “Keroncong” dalam presentasinya. Pria yang akrab dipanggil Baim itu sangat percaya diri, kalau dirinya akan menang. Bukan omongan tanpa dasar. Baim sebelumnya memang lolos tes tulis dengan nilai tertinggi. Dengan rasa percaya diri yang kuat, serta konsep yang unik, maka tidak mustahil dia bisa meraih kemenangan.

“Saya berterimakasih secara pribadi sekaligus perusahaan dengan adanya perlombaan dari ICCA ini, bakat dari insan-insan contact center dapat terwadahi. Saya mampu menunjukkan bahwa diri saya layak dan berkompeten. Dan kita layak mendapatkan penghargaan ini,” kata Baim sambil membenarkan letak blangkonnya. Baginya motivasi terbesar adalah pengembangan diri. Dulu sebelum pertama kali Baim ikut ajang ICCA, dia mengakui kalau dirinya suka grogi. Namun, seiring dengan “jam terbang” dan pengalaman di lapangan, rasa grogi itu bisa teratasi. Itu sebabnya menurut Baim, kemenangan adalah mengalahkan rasa takut dan menguasai diri sendiri.

Berbeda dengan Baim, menurut Windy Pasongli yang merupakan peserta kategori “Best of Best Customer service” perwakilan BNI Life Insurance, kemenangan adalah jalan-jalan ke Eropa. Untuk meraih kemenangan itu, Windy meminjam kekuatan “Wonder Woman”. Dengan ikat kepala khas Wonder Woman, Windy menjelaskan bahwa seorang customer service yang baik itu memiliki two face. Bukan bermuka dua, tapi cantik dari luar dan cantik pula dari dalam. Cantik wajah dan perilaku.

Sama seperti peserta-peserta sebelumnya, “Gal Gadot BNI Life” itu juga sangat berterimakasih kepada ICCA. Jika bukan karena ajang ini mungkin dirinya tidak bisa mengapresiasi dan mengekspresikan diri seperti sekarang ini. “Terimakasih  ICCA. I love you,” ucap Windy penuh semangat.