TBCCI, Filosofi Kopi dan Dian Wulandari

TBCCI, Filosofi Kopi dan Dian Wulandari

Dian Wulandari salah satu peserta TBCCI 2018 (The Best Contact Centre Indonesia) mewakili Bank Mandiri. Wanita kelahiran 28 Desember 1993 lahir di Bekasi keturunan darah Jawa mulai meniti karir di Bank Mandiri sejak tahun 2016 setelah lulus dari kuliahnya di salah satu kampus bergengsi Universitas Gunadarma jurusan sastra Inggris.

Bukan kali pertama, sempat ia mengikuti seleksi internal perusahaan di tahun 2017 namun tak berhasil, tapi itu tak menyulutkan keinginanannya untuk mengikuti ajang bergengsi ini, baginya kegagalan adalah cara Allah mencintai hambahnya untuk berusaha.

Ia menuturkan, persiapan untuk mengikuti lomba ini sangat luar biasa.
“Aku kudu siap-siap kehilangan waktu main, waktu pacaran, waktu sama keluarga, karena separuh hari kita bakal habis di dikantor buat semuanya, belum lagi tenaga, dan pikiran, jika udah merasa lelah, maka siap-siap lah kalah.

Mulai dari pulang kantor lewat dari jam kerja normal hanya untuk mempersiapkan materi, tema, menerima masukan dan tekhnis lainnya. Ditambah dengan kerja shifting membuat ia harus pintar-pintar mengatur waktu.

Tapi Aku berterima kasih terhadap jarak bekasi sampai jakarta, karena ia telah melatihku dengan lelah menjadi wanita yang kuat dan itu menjadi kebahagiaan yang tak bisa didefinisikan hehehe…

Ruang Juri TBCCI 2018 - Dian Wulandari
Ruang Juri TBCCI 2018 – Dian Wulandari

Butuh delapan bulan untuk mempersiapkannya, mulai dari seleksi internal sampai dengan saat ini hanya untuk berbicara di depan juri selama 15 menit. Tapi bukan itu, yang terpenting menurutnya adalah bagaimana proses untuk sampai dengan hari ini.

Dalam presentasinya ia memakai tema MotoGP. Ia menganalogikan bahwa agent call centre seperti halnya pembalap MotoGP yang harus mengetahui kekurangan dan kelebihan motor serta track balapan. Pedrosa-lah pembalap favoritnya, paras yang tampan, low profil, dan selalu tampil maksimal dalam setiap race-nya membuat ia tak pernah pindah ke lain hati. Walau tak pernah juara dunia, ia selalu berusaha untuk meraih podium dengan team pabrikan motornya. Bagianya Pedrosa itu juara tanpa mahkota.

Ia bercerita, Ruangan juri seketika berubah menjadi panas walau suhu AC 18 derajat. Bermacam-macam raut muka juri siap untuk menggetarkan para peserta. Mulai dari berpura-pura menguap ditengah presentasi, mengambil foto, terlihat bosan dan sampai ada yang bersenderan. Rasanya seperti tak dipedulikan, tapi di akhir presentasi alhamdulilah beberapa juri memberikan tepuk tangan dengan wajah yang ceria. Disitulah ia sadar bahwa para juri sedang menguji mental. Karena tak ada satupun manusia yang tak memiliki rasa gugup, hanya bagaimana mereka mampu menyembunyikan kegugupan itu sendiri.

Menjadi seorang agent english Ia berkata: tantangannya itu kalau nasabah “bule” lebih kritis, apa yang dia inginkan harus cepat kita selesaikan. Mungkin sedikit berbeda dengan nasabah orang Indonesia yang masih bisa mengerti terkait solusi ataupun informasi yang kita sampaikan..

Menjadi agent english di call centre juga menjadi kebanggaan tersendiri karena dipercaya mampu menyelesaikan masalah nasabah dengan bahasa yang berbeda. Menurutnya bahasa adalah hal penting dalam berkomunikasi, baik bagi si pemberi informasi, isi dan si penerima informasi itu sendiri. Ketiga komponen itu harus menyatu agar tercapainya solusi yang tepat, cepat dan mudah bagi nasabah.

Dian berharap, dengan mengikuti ajang TBCCI ini menjadi pengalaman berharga. Baginya, pengalaman adalah guru yang paling hebat, ia akan selalu memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk melakukan dan memberikan yang terbaik. Menang kalah itu biasa, tapi menerima kekalahan dengan ketenangan itu baru luar biasa. ia berharap Syukur alhamdulilah jika Allah mengizinkan Platinum mampu ia raih.

Kami tanya:
“Siapkah jadi juara tanpa mahkota seperti Pedrosa?
Ia menjawab:
Yang terpenting proses dan usaha maksimal. Selanjutnya hanya menunggu campur tangan Tuhan. Masih banyak jalan menuju kemenangan, jika tidak disini mungkin di ruang lain. Jika ke surga saja banyak jalan, apalagi dengan kesuksesan.

Jika gagal, ia akan bertanya kepada Tuhan, karena Ia maha memiliki segala jawaban. Jika masih belum menemukan jawaban, maka minumlah kopi, dari sana kita tahu bagaimana cara menikmati rasanya pahit.

Di ruang berbeda, Ibu Ike selaku mentor dari Dian menambahkan bahwa sebetulnya Dian adalah anak yang pendiam, jadi kita harus memberikan semangat yang lebih untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Tidak untuk Dian saja, ajang ini tepat untuk menumbuhkan atau menambahkan rasa percaya diri seseorang. Kami percaya bahwa ia memiliki potensi dan kemampuan untuk mengikuti lomba ini. Dan alhmadulilah selama beberapa bulan ini Dian memiliki kemajuan baik dari personality ataupun materi. Mengenai hasilnya seperti apa, Ibu Ike tidak berharap apapun selain harapan untuk mendapatkan Platinum untuk semua kategori. Katanya sambil tertawa.

Berbincang dengan Mentor Dian Wulandari - Ibu Ike Yulindawati
Berbincang dengan Mentor Dian Wulandari – Ibu Ike Yulindawati

M&E
Bank Mandiri