TBCCI 2017: the Story Begins

JAKARTA, KLIP DJP. Sepanjang sejarah umat manusia, sebenarnya, hal macam apa yang paling memotivasi kita untuk berkompetisi? Yang paling mendorong kita saling mengalahkan satu sama lain?

Senin, 24 Juli 2017. Langit sedang cerah belaka. Dari jendela kaca Kalbis Institute Jakarta yang lebar-lebar itu, cahaya matahari menerobos ke lantai 7, menerpa keriuhan yang telah dimulai sejak pagi. Ini adalah hari pertama dimulainya The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017, ajang bergengsi tahunan contact center se-Indonesia yang diadakan oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA).

Acara berlangsung hingga tiga hari ke depan untuk kategori individu. Diikuti oleh 561 peserta pada seleksi tertulis (tahap I). Dan dari 561 peserta itu, 478 peserta berhasil lolos dan berhak mengikuti babak presentasi.

Andi Anugerah selaku Ketua Indonesia Contact Center Association (ICCA) periode 2014-2019

Jam di gawai saya menunjuk angka 09.00 lewat sedikit saat Andi Anugrah berbicara pada sebuah konverensi pers. Ketua ICCA itu mengungkapkan ada yang baru tahun ini, yaitu kategori disabilitas. Menurutnya, 1 persen dari populasi seluruh manusia adalah penyandang disabilitas. Oleh karenanya, TBCCI perlu memberikan porsi untuk mereka. Total ada delapan peserta yang akan presentasi Kamis depan. Selebihnya, acara dan kategori berjalan seperti tahun lalu.

Hari ini adalah saatnya para agent social media, quality assurance, IT support, desk control, dan trainer memamerkan kebolehannya. Saya sempat mengintip salah satu ruangan yang sedianya akan mereka pakai untuk presentasi. Suasananya dingin. Seolah rasa gugup menguap dari para peserta, memenuhi udara, lalu merambati dinding-dindingnya. Di ruangan itu, para peserta akan berhadapan dengan minimal sepuluh orang juri dari berbagai latar belakang. Ibarat pertandingan gladiator, para jurilah yang menjadi penonton sekaligus hakim. Di acungan jempol mereka, ‘hidup-mati’ gladiator ditentukan: menjadi juara, memenangkan benchmarking ke luar negeri, dan membawa nama baik untuk lembaga masing-masing, atau tidak sama sekali.

Pelangi, ingatan itu yang melintas saat melihat aneka rupa ekspresi para peserta. Warna-warni. Ada yang terlihat begitu tegang seolah menahan sesuatu dan ingin cepat-cepat dimuntahkan. Pendingin ruangan berfungsi dengan baik, sebenarnya, tetapi ada saja yang tetap sibuk mengelap keringat. Beberapa bahkan terlihat duduk menyendiri dengan mata terpejam, hanya bibirnya yang tak henti komat-kamit. Satu-dua lainnya berjalan mondar-mandir sambil mengingat-ingat sesuatu. Ada juga yang jadi lebih muram setelah keluar ruangan dibandingkan saat sebelum masuk. Ada yang justru sumringah seolah ingin memeluk siapa saja di sekitarnya. Perasaan dan ekspresi mereka boleh berbeda. Namun, tetap ada satu kesamaan. Siapa pun peserta yang datang ke Kalbis Institute hari ini, dari mana pun mereka, tujuannya hanya satu: menang.

Hana Indriati adalah salah satu yang sumringah setelah keluar dari ruangan. Bagaimana tidak, Peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) untuk kategori Agent Social Media Large ini, telah ditunggu rekan-rekan sejawatnya di depan pintu ruangan dengan yel-yel, sebuah buket bunga, juga novel Dilan. Setelah itu, mereka (supporter dan peserta) berkumpul melingkar, saling memeluk, lalu bersorak satu sama lain untuk merayakan sebuah kemenangan—yang mereka harap akan didapat di hari pengumuman nanti. Saya kira, kamera pun tidak akan bisa mengabadikan perasaan haru itu.

“Semalam aja ga bisa tidur sih. Cuma pas tadi keluar (red: ruang presentasi) kaget.”, ungkap Hana. Matanya masih berbinar-binar, tak menyangka akan mendapat sambutan begitu rupa dari teman-temannya.

Lain Hana, lain pula Dwi Wahyuni. Peserta dari PT. Angkasa Pura II ini teramat mencintai Doraemon, tokoh kartun yang ditayangkan di RCTI tiap Minggu pagi. Tak hanya mengenakan bando baling-baling bambu, ia juga membawa boneka Doraemon, boneka tikus (yang selama ini ditakuti Doraemon—kucing kok takut tikus), dan berbagai peralatan “dari abad ke-21” yang dimasukkan ke kantong ajaib Doraemon.

Dwi Wahyuni-Angkasa Pura II

“Doraemon ini passion saya, jadi saya tadi (red: saat presentasi) ngalir aja. Bisa all out.” Saat ditanya siapa saingan terberat, Dwi menjawab peserta dari PT. Kereta Api Indonesia. “Namun, karena saya berlatih secara optimal, saya tidak perlu khawatir lagi, dan yakin akan mendapatkan Platinum.” Semangat dan kepercayaan diri wanita cantik ini sungguh patut dikagumi.

Setelah bertemu Dwi dengan boneka Doraemonnya, ada pula Aulia Rahimi. Wanita yang anggun dengan baju biru ini adalah perwakilan dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan, Direktorat Jenderal Pajak. Ia mengikuti kategori Best of the Best Quality Assurance. Terbaik di antara yang terbaik. Bagai memilih berlian terindah di antara berlian, tanpa dipoles pun ia sudah berkilauan. Ini adalah kali ketiga Aulia mengikuti ajang bergengsi TBCCI. Ia bahkan pernah memenangkan Platinum untuk kategori Quality Assurance di 2015.

Saat ditanya apakah yakin menang atau tidak, dia optimistis, “I give the best, let the God give the rest.”

Aulia Rahimi – KLIP Ditjen Pajak

Tentu tak semua kisah dapat dituliskan di sini. Yang jelas, para peserta adalah perwakilan-perwakilan terbaik dari kantor masing-masing. Mereka telah berusaha keras untuk sampai pada titik ini. Dengan segala persiapan, doa, pakaian, dan riasan terbaiknya. Lomba hari ini memang telah usai, tidak dengan harapan-harapan peserta untuk memenangkan hadiah sesungguhnya. Bukan sekadar hadiah ke luar negeri, melainkan kebanggaan untuk keluarga dan lembaga yang telah percaya kepada mereka selama ini. (NND)