Lain Babak, Lain Cerita

Balai Kartini, Jakarta 6 Mei 2015 – Terik matahari mengantarkan senyum penuh gairah dan semangat para peserta The Best Contact Center Indonesia 2015 (TBCCI 2015). Masih di acara yang sama, ajang prestasi TBCCI 2015 yang diselenggarakan oleh ICCA–Indonesia Contact Center Association–ini masih berlanjut. Ujian presentasi dalam pemilihan calon juara TBCCI memang berlangsung selama tiga hari sejak dimulai pada Selasa, 5 Mei 2015 kemarin. Jika pada hari sebelumnya adalah jadwal presentasi untuk kelompok supervisor, team leader, quality assurance dan trainer, kali ini merupakan waktu unjuk diri bagi kelompok peserta yang lain. Pada tahap kedua di hari ke dua ini, para peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang dengan bangga dipercaya untuk mewakili perusahaan masing-masing. Adapun untuk nama-nama perusahaan yang ikut serta mengirimkan orang terpilihnya adalah perusahaan besar di Indonesia. Babak berikutnya masih dengan jenis ujian yang sama, yakni presentasi diri. Lantas apa yang berbeda? Perbedaannya adalah kelompok peserta yang hadir. Kategori Agent Inbound, Agent Premium, orang-orang yang berjibaku di bagian Back Office, dan Agent Social Media.

Rofiq Indra Suksmana, peserta dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Rofiq Indra Suksmana, perwakilan peserta Back Office dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk. sebagai peserta Agent Inbound
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent social media
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent Social Media

Jumlah peserta dengan kategori berbeda ini memang tidak sama dengan tahap sebelumnya. Memang tidak lebih sedikit, justru lebih banyak dari sebelumnya. Sejak pagi para peserta mengisi daftar kehadiran untuk memastikan bahwa namanya betul-betul terdaftar atau dengan kata lain, tidak gugur saat ujian, dan mendapatkan jadwal presentasi berikut ruang ujiannya. Agent dari berbagai perusahaan itu juga mengangkat ragam tema seperti yang lainnya. Jenisnya sungguh tak kalah menarik. Tak kalah menariknya adalah jenis tema yang dipilih lebih berani dan kreatif. Sejak pagi sudah tampak peserta yang sudah berpakaian lengkap sesuai dengan tema. Apa sajakah? Ada yang berpakaian dan berpenampilan a la tokoh film Tarzan, pengusaha muda, pramugari, wanita Jepang dengan kimononya, sampai seperti salah satu tokoh film Matrix. Tema yang diangkat para peserta juga menunjukkan kreativitas yang berbeda-beda, mulai dari tema adat budaya seperti tokoh dalam kebudayaan Sunda sebagai Nyi Iteung, tema petualangan dengan berpakaian layaknya seorang petualang, budaya Jepang, film Matrix, perawat, dan lain-lain.

Salah satu peserta yang mengangkat tema unik adalah Fenni Fabrina, agent inbound yang mewakili PT. Holcim Indonesia, Tbk. Saat ditanya mengenai waktu persiapannya, ia hanya menjawab singkat, “Sebentar. Nggak sampai satu bulan.” Ia memilih tema mistis untuk dibawa saat presentasi. Penampilannya turut mendukung tema yang diangkat, terlihat jelas dari pakaian serba hitam legam berbentuk jubah panjang. Fenni memperkuat temanya dengan membawa tongkat hitam bak tokoh jahat dunia hitam yang sering muncul di film khayalan. Tak hanya tongkat sihir, perempuan berjilbab itu juga melengkapi penampilannya dengan mengenakan tutup kepala bertanduk seperti gambaran tokoh iblis. Totalitas!

Masih berwarna hitam-hitam, adalah Hanif Ardiawan, seorang agent social media dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., dengan mengambil tema futuristic, pria bertubuh tinggi ini berpenampilan menyerupai salah satu tokoh Matrix untuk dibawa dalam presentasinya. Ungkapan rasa lega tampak jelas saat ia selesai melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Berkali-kali ia menyeka keringatnya selepas keluar dari ruang presentasi sambil bercerita singkat terkait persiapannya yang juga tidak lebih dari satu bulan.

Suasana kali ini terlihat lebih santai sejak pagi sampai dengan sore hari, terbukti dengan adanya sorak sorai dari kawan-kawan tim yang turut hadir untuk memberikan dukungan. Dari kejauhan pun terdengar suara riuh para pendukung yang berseru memberikan semangat pada rekannya yang akan maupun selesai presentasi. Pendukung paling ramai adalah tim dari PT Pertamina (Persero). Tak hanya berseru, mereka juga membuat bunyi-bunyian menggunakan balon-balon berwarna merah yang saling diadukan hingga menimbulkan suara riuh yang menggema di ruangan Balai Kartini. Setiap kali ada rekan tim yang keluar dari ruang ujian, sontak mereka langsung bersorak dengan tak henti-hentinya memukulkan balon satu dengan balon lainnya hingga membuat suasana kian ramai untuk terus membakar semangat satu sama lain. Tim pendukung dari PT. Pertamina (Persero) ini tak hanya ramai karena suara-suaranya, melainkan juga mereka menunjukkan kekompakkan dengan berpenampilan berbeda dari yang lain. Jika sebagian besar tim pendukung lain memakai pakaian identitas perusahaan, tim dari Pertamina ini juga mengenakan seragam Pertamina, namun yang membuatnya lebih berbeda dari yang lain adalah tampilan dengan menambahkan rambut palsu berwarna-warni lengkap dengan styrofoam bertuliskan ‘Pertamina’.

Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)
Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)

Meskipun banyak pendukung yang berusaha menyemangati, tak lantas menghilangkan kegugupan para peserta presentasi. Dengan usaha untuk mengurangi dan menghilangkan rasa gugup karena akan memasuki ruang presentasi, mereka juga tetap harus menjaga ‘keutuhan’ tema yang akan mereka tunjukkan. Materi presentasi juga tetap harus mampu mereka sajikan dengan sempurna di hadapan para juri yang sudah berpengalaman. Tak sedikit yang bolak-balik ke kamar kecil, entah betul karena ingin buang air kecil atau untuk menghilangkan rasa gugup yang tak kunjung hilang.

Tidak hanya karena dewan juri yang berkualitas dan menguasai betul bidang layanan informasi pelanggan yang membuat nyali para peserta naik turun, jumlah dewan juri yang menguji pun mempengaruhi. Menurut pengakuan para peserta, dalam setiap ruang ujiannya, dewan juri yang memberikan penilaian berjumlah kurang lebih sepuluh dewan juri. Raut wajah para juri juga berperan utama dalam menggoyang mental, kemantapan dan keyakinan para peserta.

Saat keluar dari ruang presentasi, ada peserta yang menunjukkan ekspresi lega, senang, dan lepas. Mereka sangat bahagia karena mampu menjalani ujian presentasi dengan lancar dan tanpa hambatan. Selama berlangsungnya presentasi, peserta mampu menyajikan dengan baik tanpa kendala yang berarti. Para juri ada yang terlihat kagum dan memberikan penghargaan langsung seperti memberikan senyuman sembari bertepuk tangan, bahkan pelukan dari para juri usai presentasi ditutup oleh peserta. Bentuk penghargaan yang mungkin tampak sederhana, namun siapa sangka hadiah kecil tersebut mampu membangkitkan semangat dan keyakinan diri bagi para peserta. Alhasil, para peserta keluar dari ruang ujian dengan tangis haru bercampur senyum bahagia.

Walaupun terdapat kendala pada saat presentasi, ada juga peserta yang tetap percaya diri dan bersemangat, bahkan terlihat santai. Hal ini dikarenakan mereka merasa sudah cukup berusaha memberikan yang terbaik dalam ajang prestasi TBCCI 2015 ini. Berbicara tentang kendala pada saat presentasi, rupanya tak sedikit peserta yang mengalami hal serupa. Akibatnya, ada beberapa peserta yang tiba-tiba terdiam, lemas dan menunjukkan wajah sedih, tidak yakin, dan bahkan menangis. Pasrah

Menurut keterangan yang disampaikan oleh beberapa peserta yang enggan disebutkan namanya, hambatan pada saat presentasi muncul akibat gangguan teknis terkait sarana dan prasarana di ruang ujian presentasi. Contohnya, ada peserta yang harus menghentikan presentasi karena slide powerpoint tidak bergerak atau berjalan sebagaimana mestinya. Ada juga yang menyayangkan terjadinya kendala presentasi yang lain seperti musik dan video yang tidak terdengar atau tidak muncul. Hal-hal tersebut membuat para peserta patah semangat dan sangat tidak yakin akan lolos.

Setelah ujian presentasi selesai, para peserta sedikit demi sedikit meninggalkan Balai Kartini dengan perasaan yang bercampur aduk. Akhirnya ujian berhasil dilalui walau ada kendala yang memang harus dihadapi. Bagaimanapun hasilnya, usaha terbaik telah dilakukan oleh para peserta. Kini para pejuang contact center ini tinggal menunggu hasil penilaian juri.

Totalitas Tanpa Batas

(BCA) Awan berkeliaran nakal di langit Jakarta, rona jingga dari baliknya menantang pencari nafkah untuk berangkat lebih pagi dari rumah untuk menyambung hidup anggota keluarga. Asap-asap dari ribuan kendaraan bermotor memaksa untuk sedikit menahan nafas demi umur yang lebih panjang. Perjuangan hidup tidaklah mudah, hal ini mengingatkan kami akan pertempuran para calon jawara di ajang The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015. Menyusuri hari demi hari, perjuangan presentasi individu bagi peserta kategori Agent English, Agent Inbound, Agent Premium, Agent Social Media dan Back Office. Yaahh… tanggal 6 Mei 2015 merupakan panggung TBCCI 2015 bagi mereka. Perhelatan ini cukup menyedot perhatian banyak pelaku contact center, baik peserta yang dikirim perusahannya, pendukung yang datang langsung ke balai kartini maupun pendukung yang berada di kantornya masing-masing.

Gegap gempita para pendukung patriot TBCCI 2015 terdengar hingga ke seantero kota Jakarta, memacu perjalanan kami untuk lebih cepat tiba di Balai Kartini yang berlokasi di jalan Gatot Subroto kavling 37, Jakarta Selatan. Lokasi yang memang sudah dipilih hampir setiap tahun untuk mengadakan ajang TBCCI 2015 oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA) terlihat sepi dari luar. “Apa mungkin kami datang terlalu pagi?” Tanyaku dalam hati ketika mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang balai kartini. Waktu memang baru menunjukan pukul 06.30 WIB tapi kami sudah tidak sabar ingin menyaksikan satu persatu orang yang berdatangan ke lomba ini. Pintu kaca gedung megah ini langsung dibukakan oleh seorang security lobby setelah mengucapkan selamat pagi dan melemparkan sebuah senyum semangat, tak lupa kami mengucapkan terima kasih atas pelayanan tersebut.

Warna Warni Hari Kedua TBCCI 2015

Astagaahhhh… benar saja, begitu kami menginjakkan kaki di lantai pertama gedung mewah ini sorak sorai para pendukung peserta TBCCI 2015 tak terkendali bagai banjir yang melanda ibu kota Jakarta. Belum lagi atribut yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari. Para pendukung yang datang dari semua perusahaan ini tidak ingin kalah “cetar” dengan jagoan yang selalu mereka sebut-sebut namanya. “Platinum…. Platinum…. Platinum….” teriakan mereka kompak. Para pendukung “norak” (baca: ajaib) sengaja dikirim oleh perusahaan-perusahaan yang mengirimkan wakil peserta lomba di ajang TBCCI 2015. Tidak dipungkiri lagi suntikan semangat dari para pendukung ini membuat peserta lomba yakin dengan apa yang akan dipresentasikan hari ini. “kerjaan ajah saya tinggalin mba, demi mendukung teman saya” celetuk salah satu suporter yang memegang balon tepuk ditengah kerumunan pendukung lainnya.

 

 

Limited Edition T-Shirt
Limited Edition T-Shirt

Berbeda dengan hari pertama, para panitia lomba TBCCI 2015 yang kali ini mengenakan kaos abu-abu lengan panjang terlihat sibuk mempersiapkan ”perintilan” lomba di meja registrasi. Meja berbalut kain hijau yang sudah digunakan sejak hari pertama menyimpan nama-nama berbeda di hari ini, begitu juga papan pengumuman jadwal presentasi. Namun kali meja registrasi dipindahkan lebih dekat dengan ruang presentasi yang masih berada ruang Rafflesia Grand Ballroom guna memudahkan jalannya lomba. Meski ini hari kedua lomba presentasi individu, namun para panitia sama sekali tidak terlihat lelah. Senyum berjabat senyum terus mengembang dengan para suporter, juri dan para peserta lomba presentasi individu yang melakukan registrasi ulang sebelum nama mereka dipanggil. Tidak salah panitia yang dipilih memang kumpulan orang-orang ramah, sigap dan apik untuk mengurus administrasi lomba TBCCI 2015. Tidak hanya mengurus registrasi ulang, di meja yang diatur berjejer para panitia juga menjual souvenir berupa kaos berlengan panjang dengan 2 pilihan warna yaitu abu-abu dan putih. Kaos yang bertuliskan The Best Contact Center Indonesia 2015 sudah disiapkan dengan bermacam ukuran mulai dari S sampai XL bisa didapatkan para suporter atau peserta hanya dengan membayar Rp 85.000,- saja.

Setelah mengecek nama, membubuhkan tanda tangan, para peserta mulai melakukan persiapan diri. Ada yang langsung make up, entah itu yang bawa make up sendiri, didandani temannya, bahkan ada yang “buka salon” di pojok-pojok ruangan. Ada yang menyiapkan template dan alat peraga, ada yang menyiapkan busana, bahkan ada yang sarapan dulu. Ditengah kesibukan para peserta menyiapkan diri kami menjumpai salah satu peserta yang sudah rapi datang sebelum jam 6 pagi, Selvi, begitu dia biasa disapa teman-temannya. Dengan ramah Selvi menceritakan kisah perjalanannya pagi ini menuju Balai Kartini,

Pejuang Contact Center BCA
Pejuang Contact Center BCA

“Rumah aku kan di Bintaro, rencananya jam 05.30 WIB aku mau ke kantor aku dulu yang di Serpong. Ternyata mobil yang disiapin dari kantorku itu baru berangkat dari Serpong jam 6an. Belom lagi mobilnya itu ke kantor yang di Slipi dulu buat jemput teman aku juga, baru ke Balai Kartini. Kan muter-muter?!? Pusing pala Barbie akhirnya aku naik taksi ajah langsung ke Balai Kartini cuuzzz….” tutur Selvi. Pemilik nama lengkap Selvi Khairuman ini terlihat santai meski dijadwalkan akan presentasi pagi ini juga karena memang ini sudah kali ketiga wanita cantik ini mengikuti ajang TBCCI. Ketika ditanya soal konsep wanita ini menjelaskan “elegan donk kakak, aku kan kategorinya agent premium” jawab wanita yang mengenakan seragam customer service warna kuning dari Bank Central Asia. Sambil membenarkan rambutnya yang ditata layaknya customer service profesional Selvi masih melanjutkan ceritanya ”Pas aku mau bayar kan aku cuma bawa uang cepe’ (baca: seratus ribu rupiah) bapaknya tu gak ada kembalian, padahal argonya cuma Rp 49.100,- yaudah aku kasih semua ajah… Itung-itung perjuangan kak hehe…”. Selvi yang kesehariannya bekerja sebagai customer service premium di contact center HaloBCA tidak gentar sedikit pun meski melihat lawan-lawannya yang juga tidak kalah siap, “Yang penting jadilah pemenang disetiap tahapan, hasil akhir serahkan sama yang di Atas” prinsip Selvi.

Entah apa yang ada di benak para peserta hari ini, sulit menebak perasaan yang disembunyikan di balik raut wajah yang tergambar dengan mimik muka senyum, tegang, gembira, panik dan santai. Kostum-kostum yang mereka kenakan pun semakin anti mainstream, ada yang mengenakan kostum kebaya, ibu peri, super hero, malefacient, badut, bahkan ada yang mengenakan kostum sri kandi. Alat peraga pun tidak kalah penting, ada yang membawa gitar, i-tree, knowledge board, cokelat dan lain-lain. Tidak kalah dengan para peserta para suporter hari ini pun lebih “brutal” dari hari pertama, mulai dari mengenakan baju seragam, membawa balon tepuk, wig warna-warni, bahkan sampai meneriakkan yel-yel yang tak henti-henti.

Menjelang siang para juri, peserta dan suporter diberi kesempatan 60 menit untuk menikmati makan siang mereka. Ada yang bawa makan siang dari rumah, delivery service, ada yang disiapkan dari perusahaannya bahkan ada juga yang “melipir” ke kantin balai kartini. Peserta yang menikmati makan siang di balai kartini dihibur oleh Pak Andi selaku ketua pelaksana ajang TBCCI 2015, beliau mengajak para peserta dan suporter bercanda dan bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan ketegangan suasana lomba. Pemilik nama lengkap Andi Anugrah ini terlihat akrab ketika bernyanyi bersama dengan para suporter dari salah satu perusahaan. “Ayo siapa lagi yang mau menyumbangkan lagu, lagunya boleh apa saja…” Pak Andi menawarkan, yang disambut baik oleh salah satu peserta dari Bank Central Asia, David Pandapotan yang baru saja menyelesaikan presentasinya. David menyanyikan lagu berjudul Cintaku yang dipopulerkan oleh Chrisye memang memilik suara yang tidak biasa. Bagaimana tidak, pria ini merupakan salah satu anggota Voice Of Halo (VOH) yang sudah sering menjuarai kompetisi bahkan pernah menjadi artis INBOX, salah satu acara musik di stasiun tv swasta.

 

Ada Artis INBOX di Balai Kartini
Ada Artis INBOX di Balai Kartini

Setelah memberi jatah makan siang untuk cacing yang sudah mulai memberontak, kami melanjutkan penelusuran ke setiap sudut ruangan. Meski matahari semakin terik, baik para peserta dan suporter semakin membanjiri Balai Kartini. Perhatian kami pun tertuju kepada salah seorang peserta yang berada di depan meja registrasi juri, terlihat peserta tersebut sedang berdoa bersama atasannya dan rekan-rekan kerjanya. Peserta yang mengenakan kostum badut tersebut terlihat sangat lucu, kami pun sempat harus menunggu untuk bisa mewawancarainya karena kerumunan para pendukung yang mengajaknya berfoto-foto. Much Chairun Muchid atau yang biasa disapa dengan Chairun, mengenakan baju badut perpaduan warna kuning dan hijau, layaknya seorang badut berperut buncit, lengkap dengan rambut warna hijau dan sandal keropi yang sepadan.

 

Kreatifitas Tanpa Batas
Kreatifitas Tanpa Batas

Pria asal Semarang yang mewakili Perusahaan Telkom ini sangatlah unik. Ketika ditanya mengapa menggunakan kostum badut, pria kelahiran 08 Des 1991 ini menjawab bahwa karakter yang melekat pada badut merupakan representasi dirinya sehari-hari lucu, unik, dan menggemaskan serta disukai banyak orang. Chairun mewakili perusahaannya dan bergabung di kategori agent inbound >100, langsung diterbangkan oleh perusahaannya dari Semarang sejak tanggal 26 April 2015, menginap sampai dengan hari ini di camp yang terletak di kota Bogor. Kami sempat menyinggung hasil tes tulis yang didapatkan oleh Chairun, ternyata pria jenaka ini berhasil berada di peringkat 3, hebatnya lagi persiapan yang Chairun lakukan terbilang cukup untuk menjadi bekal menghadapi ajang TBCCI ini yaitu selama sebulan penuh selalu berlatih presentasi dan juara tes tulis. Dan ketika disinggung siapa pesaing terberat di kategorinya, Chairun menjawab, “untuk pesaing terberat masih dari bendera biru”. Sebelum pamit, Chairun menggengam tangan kami untuk bersalaman dan menitip doa pada kami, terlihat ketegangan yang dia alami, sampai – sampai telapak tangannya terasa begitu dingin ditangan kami. Do the best Chairun, good luck guys…

Tinggal 1 hari lagi lomba presentasi diadakan, besok tidak akan kalah seru dari hari ini, masih ada categori customer service walk in, work force management, IT support dan lainnya. Hari ini cukup bersemangat, seperti namanya Balai Kartini, di dalam gedung sangat terasa aroma perjuangan, layaknya Ibu Kartini yang berjuang untuk bangsa dan negara, mereka berjuang untuk perusahaan mereka masing-masing, semoga hasil terbaik bisa diperoleh oleh para peserta yang sudah mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran mereka. Tetap semangat! ^_^

Set Time….Rolling…..and Action !!!!!

(BCA) Semangat melayani, hari ini sinar mentari lebih hangat dari biasanya, jalanan ibu kota pun lebih lancar dibandingkan hari ketika kami meliput tes tertulis TBCCI 2015 bahkan yang biasanya kami hanya bisa melihat antrian kendaraan dari spion mobil, kali ini kami bisa melihat atap-atap gedung pencakar langit di pinggir-pinggir jalan protokol Jakarta. Tas berisi 2 laptop dan kamera pun setia menemani perjalanan kami menuju Balai Kartini yang terletak di jalan Gatot Subroto Kav 37, Jakarta.

“Ada acara apa ya mas, koq tumben rame banget?” Tanya sopir mobil yang mulai memasuki gerbang gedung nan megah itu, dan kami pun menjawab dengan singkat pertanyaan tersebut “iya, ada lomba pak”.

Menapaki pintu masuk Balai kartini kami pun mulai excited karena di pikiran kami terlintas pejuang-pejuang tangguh yang sedang mengenakan pakaian aneh (baca:unik), kumpulan orang-orang optimis, akan beradu taktik, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang sejati. Karena hari ini adalah hari pertama sesi lomba presentasi TBCCI 2015.

Supporter Pelecut Semangat
Supporter Pelecut Semangat

Serba-serbi TBCCI 2015

Wangi semangat para peserta TBCCI 2015 mulai menyeruak ketika kami memasuki gedung 3 lantai yang di depan pintunya berjaga security tegap berpakaian warna hitam dan langsung mempersilakan kami masuk. Begitu juga wangi-wangian para peserta yang berkali-kali menyemprotkan parfum demi penampilannya. Karena di lomba presentasi individual penampilan pun sangat dinilai, mulai dari kesesuaian tata busana yang mendapatkan poin 5%, kesesuaian gerakan dan ekspresi mendapatkan poin 5%, serta kepercayaan diri yang juga mendapatkan poin 5%. Tentunya hal ini sangat dipengaruhi dari apa yang mereka kenakan.

Setelah serangkaian kegiatan tes tertulis yang dilaksanakan pada tanggal 27 April 2015 peserta yang lulus mengikuti tes tertulis akan menunjukan kemampuan mereka untuk mempresentasikan kinerja mereka dalam bidang masig-masing selama 4 bulan terakhir di perusahaannya. Lomba presentasi individu hari pertama dimulai, lomba ini dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut mulai dari tanggal 5 Mei 2015 sampai dengan tanggal 7 Mei 2015. Pembagian jadwal presentasi yang sudah ditentukan panitia  menurut kategori lomba diumumkan bersamaan dengan hasil lomba tes tertulis. Setiap peserta individu wajib mengumpulkan template sebelum batas akhir pengumpulannya pada tanggal 30 April 2015. Layaknya seorang petarung, semua peserta sudah siap dengan seluruh alat “peperangan”, seperti akan menghadapi “medan tempur” di ajang TBCCI 2015. Hari ini medan tempur menjadi milik peserta individu dengan kategori Manager, Supervisor, Team Leader Inbound, Trainer, dan Quality Assurance.

Berbeda dengan lomba tes tertulis, lomba presentasi individu dilaksanakan di 2 lantai gedung megah Balai Kartini. Lantai G dipusatkan untuk kategori Supervisor, Team Leader Inbound, Trainer, dan Quality Assurance dan lantai 1 dikhususkan untuk kategori Manager. Rangkaian kegiatan lomba presentasi dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Namun sejak pukul 06.30 WIB balai kartini sudah mulai ramai dikunjungi para peserta TBCCI 2015. Peserta tidak boleh datang terlambat karena ada beberapa persiapan yang harus peserta lakukan sebelum presentasi di depan dewan juri. Mulai dari registrasi ulang, mengecek penampilan, mempersiapkan template dan alat peraga serta menunggu di ruang tunggu.

Terlihat kelompok panitia mengenakan batik putih biru sudah mulai mempersiapkan kegiatan dari pagi di meja registrasi. Terlihat juga Pak Andi Anugrah sebagai ketua pelaksana ajang TBCCI ini duduk di depan pintu kayu besar berukiran cantik, pintu menuju ruang presentasi untuk membantu panitia memanggilkan peserta. Beberapa peserta yang baru datang langsung menghampiri meja panjang berbalut kain hijau guna melakukan pengecekan nama dan membubuhkan tanda tangan di kertas yang memuat nama mereka. Nama-nama yang sudah dikelompokan berdasarkan kategori masing-masing lomba untuk memudahkan peserta melakukan registrasi ulang. Meski demikian ada saja beberapa peserta yang kesulitan mencari namanya. Namun panitia lomba dengan sigap membantu menemukan nama peserta lomba. Ternyata tidak hanya peserta yang melakukan registrasi ulang melainkan juri pun melakukan registrasi ulang. Juri yang berasal dari akademisi dan wakil perusahaan terlihat berwibawa dan siap memberikan penilaian terhadap pejuang-pejuang perusahaan.

 

Practise makes Perfect
Practice makes Perfect

Dag…Dig…Dug…. Seeerrrrrr…………..

Peserta yang sudah melakukan registrasi ulang langsung mempersiapkan diri berdasarkan nomor urut presentasi. Bermacam-macam ekpresi yang tampak dimuka mereka, ada yang terlihat tegang, gembira, panik, ngantuk bahkan ada yang terlihat santai saja. Peserta yang namanya belum dipanggil melakukan beberapa kegiatan untuk menghilangkan ketegangan menghadapai lomba presentasi ini. Ada yang latihan presentasi di depan teman-temannya untuk memaksimalkan performance ketika presentasi di depan dewan juri, ada juga yang foto-foto, ada yang ngobrol karena bertemu dengan teman lama, ada yang masih memakai make up, catokan, ada yang nyemir sepatu, ada yang sarapan, mempersiapkan alat peraga, ada juga yang bolak-balik ke toilet.

Ruangan Menentukan Prestasi
Ruangan Menentukan Prestasi

Jadwal presentasi dipajang di depan papan pengumuman untuk memudahkan peserta mengetahui kapan gilirannya untuk perform, karena jika peserta terlambat atau lupa jadwal maka tidak ada susulan dan dinyatakan tidak hadir. Jika tidak mengikuti presentasi maka nilai presentasi dinyatakan hangus dan hanya mengandalkan nilai tes tertulis. Bobot presentasi merupakan yang terbesar yakni 80% dari total nilai, lalu ditambah juga dengan hasil tes tertulis yang bobotnya 20%, jadi bukan tidak mungkin seluruh peserta ingin “habis-habisan” melakukan presentasi agar dapat mendongkrak nilai akhir.

Kami sempat mewawancarai salah seorang peserta dari kategori Quality Aassurance, gadis berkerudung yang biasa di panggil Elsa ini terlihat gugup sebelum perform yang berada di ruang Rafflesia Grand Ballroom. Elsa yang ditanyai persiapan apa saja yang dilakukan sebelum lomba mengaku tidak ada persiapan khusus hanya melancarkan materi presentasi, karena ini adalah tahun keduanya mengikuti ajang TBCCI ini “meski demikian tetap aja gugup mbak” ujar Elsa. Elsa juga mengungkapkan tahun ini persaingannya lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya, dikarenakan perusahaan lain yang mengikuti ajang ini pun lebih banyak dan lebih siap serta mengirimkan peserta yang lebih mumpuni dibidangnya untuk mewakili perusahaannya menjadi pemenang TBCCI 2015, Elsa yang merupakan wakil dari PT Bank Central Asia pernah mengikuti ajang serupa pada tahun lalu dan berhasil mendapatkan Gold Medal, ketika ditanya apa target tahun ini, wanita cantik ini menjawab “platinum harga mati, mbak”. Walaupun merasa tahun ini persaingan lebih sengit namun Elsa tetap yakin bisa mencapai hasil yang ia targetkan. Well, Kita doakan bersama ya….

Lain Elsa lain pula Eri, wanita berpostur tinggi tidak kurang dari 170 cm ini mengaku sangat gugup, maklum karena ini adalah tahun pertama Eri mengikuti ajang ini. “Melihat ruangannya jadi keingetan waktu mau sidang kuliah”, begitu Eri mendeskripsikan ruangan yang akan digunakannya untuk lomba presentasi. Untuk persiapan sendiri, Eri pun mengaku awalnya mengalami kesulitan seperti pembuatan materi dan penentuan tema, namun akhirnya banyak senior yang sudah lebih dahulu berkecimpung di TBCCI yang membantunya dengan menjadi mentor dan juga teman sharing. Dan ketika ditanya untuk harapan dan target  nya di ajang TBCCI ini, Eri berharap bisa melakukan yang terbaik, bisa buat juri ketawa, dan perihal target dia tetap optimis bisa menjadi pemenangnya.

Para peserta diberikan waktu yang dibedakan berdasarkan kategori lomba yang mereka ikuti, untuk Agent, Back Office, Telesales, Telemarketing dan Customer Service diberikan waktu 15 menit. Berbeda dengan kategori Team Leader, Desk Control dan Quality Assurance yang diberikan waktu 20 menit. Lain pula untuk kategori IT support, Work Force Management dan Supervisor diberikan waktu 25 menit. Dan kategori Trainer dan Manager diberikan waktu paling panjang yaitu 30 menit. Dengan waktu yang sudah diberikan panitia para peserta harus bisa memaksimalkan performance mereka karena diakhir presentasi pun mereka akan diberikan 1 pertanyaan yang diambil sendiri oleh peserta didalam “fish bowl”. Dan peserta harus bisa menjawab pertanyaan tersebut demi bobot yang tidak sedikit.

Tepat matahari di atas kepala, waktunya bagi para juri dan peserta untuk istirahat makan siang. Namun peserta dan suporter yang datang juga semakin banyak, riuh renda para pendukung sang jawara yang meneriakkan para jagoannya semakin tak terkendali. Ternyata mereka sengaja datang siang karena dari pagi hari harus menyelesaikan tugas kantor terlebih dahulu. Salah satu suporter bernama Anton malah datang dengan membawa beberapa pernak-pernik untuk mendukung perusahaannya seperti balon tepuk, terompet dan lain-lain.

Lega, meski di dalam keringat bercucuran karena AC-nya gak berasa, apa aku yang terlalu grogi yah?? Hehehe” ujar Dewi Fatimah yang baru keluar dari ruang presentasi sambil membawa alat peraga berupa “score board”. Wanita yang mengenakan baju merah dengan corak batik elegan ini terlihat sumringah dan puas dengan hasil presentasinya. Defa begitu dia biasa disapa teman-teman kerjanya. Defa terlihat sangat antusias mengikuti lomba TBCCI 2015 dengan kategori TL inbound. “Kan kalo udah selesai presentasi gini aku bisa tenang” lanjutnya lagi. Defa yang kesehariannya bekerja sebagai team leader di contact center Bank Central Asia yang berada di BSD Serpong merasa yakin dengan kemampuannya meski hanya berbekal materi dan pengalamannya selama menjadi team leader.

Lomba presentasi untuk kategori individu belumlah usai, masih ada hari rabu dan kamis untuk kategori lainnya. Nantikan kelanjutan kisah perjuangan pelaku contact center untuk menjadi yang terbaik dalam ajang TBCCI 2015. Sampai jumpa besok…. ^_^

Orang Handal, Lahir di Tengah Badai Hiruk Pikuk

Sejenak, mari kita rasakan gelombang kehidupan di muka bumi ini. Sangat terasa, aktivitas hidup para penduduk semakin iruk pikuk, sehingga kerap menyebabkan waktu berjalan terasa cepat. Tak jarang orang merasa bahwa, 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk kegiatan mereka. Itulah ambisi manusia, yang beradu pacu dengan waktu. Rasanya, apapun yang didapat hampir tak cukup. Pada akhirnya, terciptalah sebuah kondisi dimana manusia ingin memenuhi ambisinya, dengan sumber daya yang terbatas.

Berbicara mengenai kebutuhan dan sumber daya, maka kita akan bicara soal hukum ekonomi, yakni permintaan dan ketersediaannya. Bila permintaan tinggi namun ketersediaan rendah, terjadilah kemahalan harga barang. Sebaliknya, ketersediaan barang melimpah namun permintaannya jarang, akan terjadi apa yang diistilahkan overlikuiditas atau kelebihan pasokan. Suka atau tidak, kedua hal tersebut akan menyebabkan inflasi atau penyusutan nilai uang. Hanya berbeda prosesnya saja, namun bila terjadi kedua kondisi itu, maka dipastikan inflasi akan melanda.

Disinilah peran Bank Indonesia, yakni mengambil kebijakan yang mampu mengendalikan inflasi di negara tercinta ini. Dan kebijakan yang telah ditempuh Bank Indonesia pun, harus dipahami masyarakat. Salah satu pasukan terdepan Bank Indonesia dalam memberikan pemahaman kebijakannya ke masyarakat, adalah contact center Bank Indonesia. Contact center yang dimaksud, tak lain dan tak bukan adalah Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA 131).

Foto bersama tim juri TBCCI 2015 kategori korporat , Deepak Selvaratnam dan Sidney Yuen.
Foto bersama tim juri TBCCI 2015 kategori korporat , Deepak Selvaratnam dan Sidney Yuen.

“Nah, memang semua peserta presentasi korporat yang saya lihat dari tadi, memiliki keunikan. Karena memang produk mereka tampak unik, sehingga call center tinggal menjelaskan keunikan produk kepada pelanggan. Tapi ini, Bank Indonesia, lebih unik lagi. Yang dijelaskan kepada masyarakat adalah kebijakan!” ujar Deepak Selvaratnam, salah satu dari dua juri The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015 untuk kategori presentasi korporat, pada 30 April 2015.

Adapun hari ini (5 Mei 2015) merupakan hari pertama para peserta TBCCI 2015 untuk unjuk gigi sendiri-sendiri di kategori presentasi individu. Yang turun berkompetisi ialah mereka yang di level trainer, Team Leader (TL) Inbound, Manager Inbound, Supervisor (Spv), dan Quality Assurance (QA).

Masih berlokasi di Balai Kartini, Jakarta Selatan, presentasi individu dimulai dari hari ini hingga 7 Mei 2015. Dari keseluruhan peserta, ajang TBCCI 2015 tak semuanya bisa lolos ke tahap presentasi individu. Banyak peserta yang gugur pasca tes tulis yang diselenggarakan di tahap I kompetisi TBCCI 2015 yakni 27 April 2015 lalu. Sehingga mereka yang melaju ke presentasi individu, adalah peserta yang telah terpilih diantara yang lainnya.

Manusia Handal

Kembali ke keunikan contact center, Deepak mengungkapkan, karena yang dijelaskan adalah kebijakan, yang pada hakikatnya adalah edukasi kepada publik, maka tim contact center Bank Indonesia atau BICARA 131, haruslah orang-orang yang lebih sigap dan peka. Dan di dalam kondisi hiruk pikuk aktivitas hidup penduduk bumi yang sangat cepat, yang efek negatifnya memunculkan manusia-manusia ambisius, namun perlu diingat pula bahwa tak sedikit hal-hal positif yang lahir dari kondisi tak menyenangkan. Apa penjelasannya?

Menurut Supervisor BICARA 131 Yusi Rahima dalam penjelasan presentasinya, contact center pada intinya adalah orang-orang handal yang memiliki kemampuan mendengarkan dengan keselarasan hati. Sabar dan tenang saja tidak cukup bagi para personil BICARA 131, karena mereka juga harus teliti dan memiliki kemampuan analisis yang bagus. Jika tidak, penjelasan kebijakan Bank Indonesia kepada publik yang menanyakan langsung ke mereka akan bias bahkan salah.

Tentu saja, mereka harus terus diasah kemampuan verbal dan analitiknya, sehingga mereka bisa tetap fokus di tengah hingar bingar kehidupan yang dengan sedetik dapat membuyarkan konsentrasi. “Namun life have to be balance. Hidup harus seimbang. Maka kami memiliki aktivitas tersendiri yang sifatnya refreshment, penyegaran. Karena memang semua harus seimbang, tidak kaku namun tidak juga lemah,” kata Yusi di depan para dewan juri.

Tim BICARA 131, "Work and life balance!"
Tim BICARA 131, “Work and life balance!”

Mendengarkan penjelasan Yusi Rahima, dewan juri Sidney Yuen menjadi penasaran dan mengikuti jejak Deepak Selvaratnam, yakni bertanya tentang keunikan tugas BICARA 131. “Lalu apa yang Anda lihat dalam 12 bulan ke belakang? Adakah perubahan pandangan masyarakat terhadap Bank Indonesia? Adakah awareness mereka bertambah, atau tidak?” tanya Sidney Yuen.

Menjawab hal itu, BICARA 131 yang menurunkan langsung Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Peter Jacobs, memberikan respon dengan penjelasan komprehensif. “Perlu diketahui bahwa salah satu indikator Bank Indonesia untuk mengetahui respon kebijakan kami, selain adanya survey langsung dari BICARA 131 kepada para penelepon, adalah follower Twitter. Ya, setiap saat follower Twitter kami bertambah. Interaksi mereka langsung. Mereka merespon tweet kami seputar kebijakan Bank Indonesia,” ungkap Peter Jacobs.

Peter Jacobs (kiri) dan dua juri TBCCI 2015.
Peter Jacobs (kiri) dan dua juri TBCCI 2015.

Sehingga tampak bahwa di tengah aktivitas yang hiruk pikuk, yang membuat orang seperti tak ada waktu untuk hal-hal kecil, namun ternyata mereka memberikan respon atas kebijakan Bank Indonesia lewat tweet. Artinya, lanjut Peter, Bank Indonesia yakin bahwa BICARA 131 yang bekerja dengan standar ISO 9001:2008 telah berhasil menyentuh aktivitas masyarakat melalui edukasi yang caranya efektif.

Deepak Selvaratnam kemudian menyadari bahwa Bank Indonesia dalam mengkomunikasikan kebijakannya ke publik, dilakukan melalui banyak saluran, yang tentunya saluran utama komunikasi ke publik tersebut adalah BICARA 131, “Coba Anda terangkan ke kami, ada apa saja saluran-saluran tersebut? Tentunya selain BICARA 131 dan Twitter Bank Indonesia?”

Dijelaskan Peter Jacobs bahwa BICARA 131 selain mengartikan sebuah kepanjangan (Bank Indonesia Call and Interaction), juga merupakan sebuah kata yang diambil dari Bahasa Indonesia yang berarti berbincang, berkomunikasi, dan berhubungan. Makna ‘bicara’ pada hakikatnya, ialah menyampaikan sesuatu kepada orang lain sehingga orang lain tersebut bisa paham. Bila orang yang menyampaikan maksudnya itu ternyata tidak lihai, maka akan terjadi kesalahpahaman.

“Dan berbicara, tidak hanya dengan lisan. Kita bisa berbicara dengan tulisan dan gambar, sehingga BICARA 131 juga memiliki tim jurnalis. Ini yang mungkin tak dimiliki contact center perusahaan lainnya. Kita mengkomunikasikan ke publik atas apapun kegiatan kita yang patut diketahui publik lewat tulisan, yakni di media sosial dan blog BICARA 131 dan lewat tayangan video di laman Youtube,” ungkap Peter Jacobs.

ISO 9001:2008

Lebih jauh mengenai kinerja call center, Quality Assurance BICARA 131 Kristiana mengatakan sesuai standar ISO 9001:2008, Bank Indonesia memberikan fasilitas pendukung kinerja kepada BICARA 131 secara penuh.

Secara umum, sesuai ISO 9001:2008 BICARA 131 selalu melaksanakan empat hal penting sebelum meluncurkan formulasinya dalam melayani masyarakat, yakni plan (perencanaan), do (mengeksekusi), check (memeriksa), act (memperbaiki). Dengan empat hal tersebut, maka mulai dari pembuatan program untuk layanan kepada masyarakat hingga ke tahap perbaikan yang berkesinambungan, telah dilakukan oleh BICARA 131.

Pada tahapan “plan”, yang wajib dilakukan adalah memperkuat komitmen bersama untuk menjalankan target atau sasaran program. Disini, dokumentasi hasil kesepakatan wajib dilakukan. Kemudian, masih di tahap ini, aksi selanjutnya adalah menetapkan pembagian wewenang di setiap anggota tim.

Masuk ke tahapan “do” atau menerapkan rencana yang sudah disepakati, aksi yang dilakukan diantaranya adalah menggencarkan komunikasi, baik internal maupun eksternal. Komunikasi internal dimaksudkan untuk berkoordinasi sesama anggota tim saat bekerja melaksanakan ketetapan proyek pekerjaan. Tak lupa kepada pihak eksternal atau stakeholder, komunikasi juga harus gencar dilakukan karena pihak luar harus diberi pemahaman tentang apa maksud dan tujuan dari program kita kepada masyarakat. Komunikasi eksternal ini juga menjaring masukan (input) untuk dijadikan bahan peninjauan ulang di tahap selanjutnya.

Pada tahap “check” yang tak lain adalah tahapan peninjauan ulang, semua hasil yang telah diterapkan harus dipaparkan dan dibahas bersama kepada seluruh SDM (sumber daya manusia) yang terlibat. Hasil komunikasi yang selama ini dilakukan dalam tahapan “do” harus diketahui secara rinci agar bisa dipelajari apa-apa saja yang telah sesuai dan tak sesuai bagi pelanggan. Sekaligus juga membahas masukan-masukan yang diberikan stakeholder, yang mereka dapat dari layanan kita.

Terakhir, tahapan “act” adalah realisasi perbnaikan-perbaikan yang telah dilakukan. Semua proses verifikasi, komunikasi antar internal dan komunikasi eksternal kembali digencarkan dengan memaparkan formulasi baru apa yang telah diperbaiki dari kesalahan sebelumnya.

Tahapan plan-do-check-act ini adalah tahapan sirkuler, karena produk yang dihasilkan akan terus dimutakhirkan baik dari segi kuantitas dan kualitasnya. Sehingga BICARA 131 tak berhenti hanya sampai pada tahap “act” atau setelah mendapat masukan dan perbaikan saja.

Kristiana (kiri), Peter jacobs (tengah), dan Yusi Rahima (kanan).
Kristiana (kiri), Peter jacobs (tengah), dan Yusi Rahima (kanan).

Produk dan layanan harus terus mengikuti perkembangan jaman. Itu pulalah sebabnya BICARA 131 terus berkembang seiring dinamika kehidupan masyarakat. Tim BICARA 131 akan seoptimal mungkin memberikan layanan kebutuhan informasi kepada publik, sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.