Prestasi Ksatria di Langkah Perdana

Tim Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA) 131 berhasil meraih Juara II pada Perlombaan Jambore The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015, untuk kategori Penilaian Kreatifitas. Keberhasilan meraih posisi kedua pada kategori tersebut mendapat tempat tersendiri di hati para tim BICARA 131. Selain karena Jambore TBCCI ini adalah yang perdana bagi BICARA 131, juga lantaran yang meraih posisi Juara I adalah tim dari perusahaan besar. Apa hubungannya?

Ini lantaran tim BICARA 131 meraih perolehan berprestasi tersebut, setelah bersaing dengan perusahaan yang bisa dibilang berlingkup raksasa. Tak dipungkiri, seringkali kematangan persiapan bagi yang berjumlah orang banyak akan lebih mantap ketimbang mereka yang sedikit. Peserta Jambore TBCCI 2015 ini memang hanya dibolehkan 12 orang per setiap perusahaan. Namun 12 peserta ini membutuhkan banyak masukan dari contact center mereka, untuk mendapatkan ide segar, ide kreatif.

aDSC07731
Salah satu kegiatan lomba dalam kategori Kreatifitas

Dan inilah, hikmahnya, BICARA 131 dengan hanya sedikit personel, mampu menghasilkan penuh kreasi sehingga dinobatkan sebagai Juara II kategori Penilaian Kreatifitas Jambore TBCCI 2015. Tak dinyana, tak dikira, tak diduga, ternyata BICARA 131, tim contact center kecil yang hanya berjumlah 24 personil, bisa se-kreatif perusahaan raksasa itu.

Sehingga meskipun hanya berada di posisi dua, namun secara kualitas, bila berada pada lingkup yang sepadan, maka BICARA 131 memiliki nilai istimewa. Karena secara agregat, dapat disimpulkan bahwa pada riil-nya, kreatifitas tim BICARA 131 berada pada top level. Hal ini sebenarnya sudah banyak terjadi di dunia kompetisi.

Ksatria Kreatif

Tiga bukti yang takkan hilang ditelan zaman, tentang kekuatan kecil yang mampu mengejutkan fakta adalah dari kisah strategi militer kekhalifahan Umar bin Khattab, Salahuddin al Ayyubi, dan Sultan Al Fatih. Ketiga ksatria itu berhasil mempimpin pasukannya yang jumlahnya tak sebanyak lawannya, namun berhasil mendapatkan nilai istimewa, bahkan kemenangan mutlak seperti diraih khalifah Umar bin Khattab.

Hikmahnya adalah keunggulan bukan mustahil bagi mereka yang berjumlah sedikit, asal keseluruhan personilnya adalah ksatria. Sebaliknya ribuan orang biasa mungkin harus berjatuhan keringat dan darah, dengan hanya menghadapi puluhan ksatria. Tim BICARA 131 merasa optimistis, bahwa dalam menghadapi kompetisi apapun nanti, niscaya BICARA 131 akan unggul karena memiliki para ksatria kreatif.

Ratu Guineverre melantik Lancelot menjadi ksatria

Adapun kegiatan Jambore TBCCI 2015 diisi dengan beberapa kategori lomba. Ada jenis lomba verbal yakni kategori ketangkasan dan kreatifitas (BICARA 131 berhasil meraih juara II). Lalu jenis lomba spesifik, yakni kategori menerjemahkan sandi kotak, kategori membuat neraca keseimbangan, kategori memecahkan kode morse, dan kategori mengidentifikasi bumbu masak.

Sportifitas

Sejak Sabtu dan Minggu (16-17 Mei 2015) sebagai waktu pergelaran Jambore TBCCI 2015, lomba demi lomba dilakukan dengan penuh daya upaya untuk menang dan tentunya, menjunjung sportifitas. Sportifitas dalam olahraga maupun kompetisi lainnya, merupakan sikap yang sangat utama untuk menjadikan dan memperindah pertandingan.

Banyak sekarang orang yang tidak mengerti makna sportifitas dan hanya mementingkan sebuah kemenangan. Apabila dalam bertanding sikap sportifitas tidak dilaksanakan, maka pertandigan akan terlihat kacau dan tidak menarik untuk dilihat.

Sebenarnya sportifitas adalah kata sifat yang berarti jujur dan ksatria atau gagah. Dan kata sportifitas yang sebagai kata benda mempunyai arti orang yang melakukan kegiatan lomba tersebut (harus) memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan berperilaku saat bertanding. Seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati bersama.

Jadi sportifitas dalam adalah perilaku atau tindakan dari seorang atau sekelompok peserta yang memperlihatkan sikap jujur, ksatria, disiplin, dan menaati ketentuan dan peraturan pertandingan dan perlombaan, untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.

Maka itu, seluruh instruksi dari panitia Jambore TBCCI 2015 diresapi dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin demi meraih poin sempurna penilaian dewan juri.

Ketika dewan juri mengatakan agar para peserta harus melakukannya dengan cara begini, maka beginilah yang kami lakukan. Dan ketika mereka mengatakan supaya peserta berlaku begitu, maka begitulah yang mereka dapat dari kami para peserta. Tak ada satupun dari para peserta yang mencoba-coba ‘nyolong’ di sela peraturan dewan juri.

Sehingga SELURUHNYA, baik para peserta dan panitia perlombaan Jambore TBCCI 2015, layak diacungi jempol. Tak ada satupun titik noda kecurangan merusak kredibilitas peserta dan panitia. Dari perlombaan Jambore TBCCI 2015 ini akhirnya dapat tercermin bahwa secara keseluruhan TBCCI 2015 adalah ajang yang prestisius, jujur, dan sportif.

Saling Menyemangati

Meski pada hakikatnya TBCCI 2015 adalah kompetisi antar call center se-Indonesia untuk meraih satu kemenangan, namun semangat bersaing dengan cara positif selalu muncul di setiap ajang. Misalnya di hari pertama TBCCI 2015 tampak tak sedikit peserta yang baru berkenalan namun sudah saling menyemangati, dengan berkata “Anda pasti bisa menang, seperti halnya saya pun bisa menang.”

Seluruh peserta Jambore TBCCI 2015, kebersamaan dalam kompetisi sehat
Seluruh peserta Jambore TBCCI 2015, kebersamaan dalam kompetisi sehat

Karena memang kemenangan adalah hak siapapun di dunia ini. Namun sesuai hukum alam bahwa bila ada yang menang, tentu ada yang kalah. Bila ada serigala tentu ada domba. Semua berkaitan saling mendukung. Kemenangan adalah hak semuanya, namun tergantung bagaimana persiapan dan kemampuannya. Jangan harap menang bila tanpa persiapan matang dan modal kemampuan yang berada di bawah ketentuan.

Ya, seperti hakikat ungkapan “Anda pasti bisa menang, seperti halnya saya pun bisa menang” yang maknanya adalah bila Anda lebih siap dan mampu, maka kemenangan ada di Anda. Sebaliknya bila saya yang lebih mampu dan siap, maka mungkin Anda yang kalah. Itulah hikmahnya. Yang menang bisa menjadi teladan dan yang kalah bisa memetik pelajaran.

Pusat Perhatian

Adalah Lukman Hakim, salah satu peserta TBCCI 2015 dari Permata Tel yang mengatakan bahwa kegiatan kompetisi ini tak perlu dibebani dengan ambisi “Aku harus menang”. Pasalnya, hal itu hanya menjadi pecut bagi mereka yang memiliki mental juara. “Enjoy aja. Kita jalani saja,” ujar Lukman. Karena pada umumnya, mereka yang menjadi pecundang lantaran terjajah oleh ambisi sendiri.

Fokus selama lomba, mengasilkan kerapihan
Fokus selama lomba, mengasilkan kerapihan

Tengok saja orang-orang yang depresi bahkan gila di Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sebenarnya siap berkompetisi di dunia, namun semangat dan tujuan mereka dihalang-halangi oleh ambisi tak terkendali dari mereka sendiri. Alhasil, mereka bukan lagi memusatkan perhatian pada target penyelesaian masalah hidup, melainkan pusat perhatian mereka adalah pikiran liar mereka sendiri.

Hal itulah yang akhirnya menjadikan hidup mereka rumit dan akhirnya tak dapat dibendung lagi, sehingga menjadi kusut. Bila sudah begitu, Rumah Sakit Jiwa adalah solusinya. Namun mari tengok mereka yang berdiri di atas podium di hadapan banyak manusia yang hidupnya mengabdi pada kebaikan. Ambisi liar orang-orang seperti ini dapat ditekan, dengan memusatkan perhatian pada hasil dan proses, menuju keberhasilan demi kebaikan alam semesta.

Mereka lupakan sejenak bisikan ‘setan’ yang akan mengganggu tujuan hidup mereka. Jiwa dan mental mereka kokoh, sehingga tak satupun hal bisa menaklukkan pengabdian mereka kepada masyarakat dan alam. Apapun hasilnya, mereka hanya memegang prinsip bahwa proses itu harus dilalui dan dengan persiapan yang matang, hasilnya akan terbaik.

Itulah sebabnya, Lukman, Permata Tel, BICARA 131, dan tim contact center yang bermental juara lainnya sepakat bahwa semua upaya manusia adalah pelajaran yang dapat dipetik. “Jangan lupa, sebagai umat beragama harus percaya bahwa hasil akhir semua yang kita lakukan adalah ijin dari Yang Maha Kuasa. Jadi tanpa ijinNya, tak mungkin semua terjadi.”

Ada si Dia di Balik Tenda

Jambore Contact Center 2015
Jambore Contact Center 2015

    Masih ingat dengan ICCA (Indonesia Contact Center Indonesia)? Masih ingat dengan hajatan TBCCI (The Best Contact Center Indonesia)? Ya, ajang peraihan prestasi untuk contact center ini tidak berhenti sampai di ujian presentasi saja. TBCCI tetap berlanjut dengan alur perlombaan yang lain. Jika ujian tertulis sudah, presentasi perusahaan sudah, presentasi individu pun juga sudah selesai dilakukan. Pengumuman? Bukan. Tes selanjutnya? Bukan juga. Ada lagi kah kira-kira? Bagi para peserta yang sudah mengikuti tes di Crowne Hotel Plaza dan Balai Kartini beberapa pekan lalu, mereka sedang dalam masa penantian untuk pengumuman siapa gerangan yang akan meraih medali-medali ajang prestasi bergengsi itu. Pekan ini, tepat di hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2015, sebuah ajang tolok ukur prestasi contact center kembali digelar.

   ICCA memang mengadakan dua jenis ajang prestasi sejenis namun berbeda sifat. Bagi yang sudah pernah mengikuti kedua ajang ini sudah tentu mengetahui apa saja yang dilombakan oleh ICCA. Perlombaan TBCCI dengan kegiatan jambore sebagai inti ujiannya ini diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka atau yang lebih dikenal dengan nama Buperta yang bertempat di wilayah Cibubur, Jakarta Timur. Jambore ICCA diadakan selama dua hari berturut-turut yakni pada 16 sampai dengan 17 Mei 2015. Secara umum, khalayak mengenal jambore sebagai suatu pertemuan besar para Pramuka (Praja Muda Karana). Akan tetapi, dalam ruang lingkup contact center, khususnya ICCA, jambore merupakan suatu pertemuan besar bagi perusahaan dengan layanan contact center di Indonesia. Kegiatan jambore yang diadakan oleh ICCA ini memiliki rincian kegiatan seperti halnya kegiatan kepramukaan, namun yang membedakan adalah pesertanya. Mereka yang mengikuti jambore bukan merupakan anggota Pramuka, tetapi mereka yang dipilih untuk mewakili layanan contact center perusahaan masing-masing. Bagaimanakah bentuk kegiatan jambore bertajuk The Best Contact Center Indonesia yang digelar ICCA ini? Dengan bertumpu pada berbagai macam penilaian yang diambil melalui ketangkasan, kecerdasan dan daya cipta. Tak hanya itu, di dalamnya juga terdapat penilaian untuk kekompakan, kerjasama, kerja kelompok, kepemimpinan, daya cipta, kebersamaan, kecerdasan, sampai kebersihan lingkungan.

   Jambore tahun ini diikuti oleh 11 perusahaan, diantaranya adalah PT. Bank Mandiri (Persero), PT. Bank BCA, Tbk., PT. Astra World, Bank Indonesia, PT. Indosat, PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Direktorat Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Pajak, PT. Bank Panin, Assarent dan PT. Telkom Indonesia. Diantara 11 perusahaan tersebut ada 3 (tiga) perusahaan yang masing-masing mengirimkan dua team, yaitu PT. Bank Mandiri (Persero), PT. Bank BCA, dan PT. Astra World. Berdasarkan keterangan tersebut, jumlah keseluruhan dari kelompok peserta adalah 14 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh sampai dua belas orang peserta.

   Pada hari pertama pembukaan jambore TBCCI 2015, para peserta sudah banyak yang bersiap diri di lapangan tempat mereka akan berkemah selama sehari semalam. Meskipun jadwal upacara pembukaan mundur satu jam dari waktu yang telah dijadwalkan, yakni pukul 09.00 WIB, namun para peserta tetap mempersiapkan diri dengan baik. Sebelum upacara dilaksanakan, sebagian dari para peserta mulai menurunkan dekorasi tenda, sebagian yang lain ada yang menyantap makan pagi agar keadaan tubuh tetap prima. Tak hanya peserta yang mempersiapkan diri, para panitia jambore ICCA 2015 ini juga sibuk mempersiapkan tempat dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan jambore. Upacara yang berlangsung cukup singkat, kurang lebih 22 menit, ini dibuka dengan doa bersama untuk kelancaran dan keselamatan semua peserta maupun panitia pelaksana. Sambutan singkat dari Bapak Andi Nugraha selaku pembina upacara pagi itu turut mengkhidmatkan ikrar praktisi contact center yang diucapkan oleh seluruh peserta jambore. Meskipun terhitung singkat, namun upacara pembukaan yang ditutup setelah laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara ini berlangsung dengan lancar dan tenang.

Upacara pembukaan
Upacara pembukaan

   Semangat para peserta mulai dipanaskan dengan kegiatan membangun tenda yang diberi waktu selama 15 menit saja. Sebelum membangun tenda sendiri, panitia terlebih dahulu mencontohkan bagaimana cara membangun tenda yang benar. Para peserta menyimak dengan seksama dan mempraktekan dengan baik. Saat sirene dibunyikan, para peserta harus menghentikan seluruh kegiatan membangun tenda dan berdiri di luar garis batas masing-masing. Luar biasa! Regu dari PT. Astra World 2 selesai membangun tenda paling cepat diantara yang lain disusul regu PT. Astra World 1 di urutan selanjutnya sebelum sirene dibunyikan. Peserta yang lain tetap semangat dan bekerjasama dengan baik menyelesaikan kegiatan membangun tenda. Para peserta betul-betul mampu menyelesaikan dengan baik, terbukti dengan berdirinya tenda dengan sempurna tepat sesaat sebelum sirene dibunyikan. Ada yang lebih memanaskan semangat para peserta lagi disana, masing-masing kelompok dengan begitu riang dan penuh semangat saling bersahut-sahutan meneriakkan yel-yel kelompok mereka. Ada yang menyanyi, ada yang menyerukan jargon-jargon menarik dan kreatif, semuanya menghantarkan semangat satu sama lain.

persiapan pendirian tenda peserta icca
Proses menghias tenda peserta TBCCI 2015

   Tenda yang sudah dibangun dengan penuh semangat itu kini akan ditambahkan hiasan di sekitarnya oleh para peserta. Masing-masing peserta diberi waktu hingga pukul 3 sore untuk menyelesaikan hiasan masing-masing. Di bawah terik matahari, para peserta bahu-membahu memasang satu demi satu rancangan indah yang sudah mereka siapkan. Kerja keras mereka diwujudkan dalam rancang-bangun hiasan tenda yang memukau dengan diselingi waktu rehat untuk membangun tenaga lagi. Setelah hiasan tenda selesai, peserta mengikuti kegiatan permainan yang meguji kerjasama regu dan lomba kata sandi, serta lomba adu kecerdasan lainnya.

Lomba adu kecerdasan dan ketangkasan peserta TBCCI 2015
Lomba adu kecerdasan dan ketangkasan peserta TBCCI 2015

   Setiap perusahaan menunjukkan kebolehan daya cipta yang tidak biasa. Beberapa diantaranya, kelompok dari PT. Bank Mandiri (Persero) yang mengangkat tema kebudayaan Betawi lengkap dengan ondel-ondel sebagai ciri khasnya. Menurut Iqbal Maulana, persiapan yang telah dilakukan kurang lebih 2 bulan, persiapan yang dilakukan. Dimulai dari pembentukan kelompok, tema, dan satu kali latihan di Cibubur pada bulan April lalu. Mengapa Betawi? “Karena regu Mandiri 1 ingin turut melestarikan budaya Betawi.” jawabnya dengan singkat.

iqbal
Iqbal Maulana, Ketua regu Mandiri 1

  PT. Telkom Indonesia, Tbk., yang juga mengenalkan salah satu produknya yaitu indohome fiber, Bank Indonesia yang tidak lupa memamerkan nilai pecahan rupiah tertinggi yaitu seratus ribu rupiah di halaman tenda. Bentuknya yang cukup besar membuat hiasan tenda kian menarik, pada malam hari lampu yang dipasang di lambang Bank Indonesia itu terlihat cantik. Indosat memasang sebuah satelit buatan tepat di sisi tenda yang dilengkapi dengan papan penunjuk arah sebagai penunjuk juga bahwa Indosat sudah mampu menjangkau wilayah pelosok.

tenda dan dekorasi
Hasil hias tenda para peserta TBCCI 2015

   Di seberang regu Bank Indonesia dan Indosat, tangan-tangan kreatif dari Bank BCA dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) juga menyambut dengan hiasan-hiasan berukuran besar. Seperangkat headset khas contact center yang menyala dengan lampu berwarna biru dipajang indah oleh regu Halo BCA dari Bank BCA. Hiasan raksasa cantik lainnya juga disuguhkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Sebuah rancang-bangun bertemakan Carnival Station ini tampak sederhana namun menarik. Hiasan dengan 320 buah lampu ini kian menawan di malam hari saat lampu-lampu kecil itu mulai dinyalakan. Cantik!

"Raksasa" dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
“Raksasa” dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Jpeg
Halo BCA, Selamat malam !

   Penilaian tak berhenti pada hiasan saja, setelah adu kecerdasan, peserta melanjutkan kegiatan ketangkasan dengan beberapa kegiatan kepramukaan lainnya seperti neraca keseimbangan dan sandi morse di penghujung kegiatan hari pertama jambore. Tidak lebih dari pukul sepuluh malam, kegiatan jambore di hari pertama ditutup dengan istirahat untuk persiapan hari kedua. Lampu-lampu tetap menyala, mewakili semangat para peserta yang tiada meredup untuk melanjutkan perjuangan berikutnya.

Menguak Sosok Misterius Kala Bening Malam

Jumat malam itu, rasa lelah Dimas Adipratama teramat sangat. Pegal, linu, serta tekanan darah di urat kepalanya, bisa dibilang sedang berada di level tertinggi. Dimas adalah salah satu dari 10 orang peserta Jambore The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015 perwakilan contact center Bank Indonesia atau Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA 131). Lho kok jadi Dimas yang disorot? Yang lain pada kemana? Kita biarkan saja dulu yang lain, karena Dimas ternyata menyimpan kisah aneh di malam menjelang Jambore TBCCI 2015, yakni Jumat, 15 Mei 2015.

Malam itu Dimas sangat lelah sehingga untuk berupaya tidur pun sulit, padahal badan sudah sangat lelah. Dia menjadi gusar karena melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB. Semakin gusar karena teman-teman BICARA 131 lainnya sudah pada tidur. Namun semakin matanya ditutup dan berupaya untuk tertidur, hasilnya malah sebaliknya. Segenap tubuh semakin berontak. “Ya sudah, sebaiknya aku jalan-jalan keluar saja,” gumam Dimas dalam hati. Beranjaklah dia menuju keluar wisma. Tim BICARA 131 dan beberapa tim peserta Jambore TBCCI 2015 lainnya, pada malam itu masih menginap di Wisma Pramuka Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Barulah pada Sabtu mereka diharuskan menginap di tenda masing-masing di area perkemahan Jambore TBCCI 2015.

Dimas Adipratama
Dimas Adipratama

Dia pun berjalan ke arah danau, yang berada dekat dengan wisma menginap. Dimas pun memilih duduk di bawah pohon di dekat bibir danau. Disundutlah rokok sisa dari kantor, yang sengaja dia bawa menemani kegiatannya. “Eh, siapa itu?” ucapnya terlontar spontan dari bibir. Tabir asap rokok sempat menggangu pandangan Dimas, terhadap sosok yang berada tak jauh di hadapannya. Lalu dikibasnya asap rokok yang menghalangi pandangannya itu. Dan tampaklah ada seorang pria berumur setengah baya, sekitar 55-60 tahun, mengenakan kemeja dan celana hitam. Dimas menyadari pasti ada yang tak beres, karena si bapak tampak seperti berjalan di atas air danau. “Masa sih penampakan. Tak percaya aku. Hari gini penampakan? Macam di acara televisi kurang kerjaan itu? Ah, tak mungkin.”

Dia pun hirau dengan si bapak itu dan mengalihkan pandangan. Lalu saat kembali mencoba mengarahkan pandangan ke tengah danau tempat si bapak tua itu muncul, Dimas tidak mendapati apa-apa. Hanya pemandangan air danau di malam pekat. Kembali dia melanjutkan menghisap rokoknya di tengah bening malam sunyi Buperta Cibubur. Satu hisap, dua hisap, tiga hisap, “Kok sendirian saja Dik? Teman-temannya sudah pada tidur?”

Sekonyong-konyong Dimas terperanjat karena si bapak berkemeja hitam itu sudah ada di sampingnya. Dimas melihat si bapak dari atas kepala hingga ujung kakinya. Si bapak itu mengenakan kemeja dan celana berwarna hitam. Wajah si bapak pucat pasi tanpa ekspresi. Tampak celana panjang hitam si bapak seperti menjurai kepanjangan. Saking panjangnya celana, si bapak seperti mengenakan sarung berwarna hitam.

“I.. I.. Iya Pak, teman-teman saya sudah pada tidur..”

“Hmmm, kau tak bisa tidur?”

“Eh, anu, bapak tadi di situ lho. Cepat sekali, kok sekarang di sini?”

“Iya, tak usah dibahas. Sekarang kenapa kau sendirian di sini? Tak baik. Kau tahu? Tak baik!”

Dimas menjadi tak nyaman dengan sikap si bapak itu. Dia kemudian melempar senyum kecut ke si bapak dan memutuskan untuk beranjak dari bawah pohon kembali ke tenda. Saat melangkah menuju tenda, si bapak memanggil. “Hei, Dimas. Jangan pernah kau pisah dari kawanan, nanti kau dimangsa.”

Semakin Dimas ketakutan karena si bapak menyebut namanya. Dimas melihat ke belakang, ke arah si bapak. Dan astaga! Tampak si bapak itu berdiri sangat tinggi, mungkin hingga 3 meter tingginya. Kemeja yang dia kenakan menjadi seperti jubah yang panjang hingga kakinya. Dan yang lebih menakutkan adalah kakinya tidak bertapak ke tanah, alias mengapung. Dimas pun lari tunggang langgang menuju arah wisma. Karena rasa takutnya teramat sangat, Dimas pun tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. “Aaaaaahhh!” teriak Dimas sekuat tenaga. Kepalanya terbentur tanah dan terasa sangat menyakitkan, hingga Dimas merasa seperti ingin pingsan.

Di pandangannya yang nanar, dia melihat bayangan si bapak semakin mendekat. Jantungnya pun jadi berdebar cepat dan Dimas berupaya keras untuk bangun. Namun upayanya percuma karena si bapak sudah berhasil mendekapnya. Dimas terasa seperti diceburkan ke kolam dengan air yang sangat dingin. Badannya serasa beku dan akhirnya… “Dim, Dimas, hei  Dim. Bangun, hei, jangan mengigau kau,” ujar Dendi sang Team Leader BICARA 131. Ternyata Dimas hanya bermimpi.

Bersama Membangun

Dimas pun segera terbangun dan membelalakkan matanya. Dilihatnya jam tangannya dan rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 05.20 WIB pagi. Dia akhirnya tersadar bahwa dirinya hanya bermimpi. Dimas pun mengelus dada, bersyukur bahwa apa yang dialaminya hanya mimpi.

Ya, kisah ini hanya sebagai pernak pernik dari kegiatan Jambore TBCCI 2015 yang digelar di Buperta Cibubur pada Sabtu-Minggu (16-17 Mei 2015). Dimas dan tim Jambore BICARA 131 kemudian melanjutkan kegiatan. Sabtu pagi adalah awal dimulainya kegiatan Jambore TBCCI 2015. Tim BICARA 131 mengikuti beberapa rangkaian kegiatan yang diperintahkan panitia Jambore TBCCI 2015.

Peserta Jambiore TBCCI 2015 dari BICARA 131, dengan pakaian serba biru
Peserta Jambiore TBCCI 2015 dari BICARA 131, dengan pakaian serba biru

Diawali dengan upacara pukul 8.30 WIB, seluruh peserta dengan khidmat mengikutinya. Dilanjutkan membangun tenda pada pukul 10.30 WIB, dengan waktu yang diberikan hanya 10 menit. Tim BICARA 131 pun bergegas bahu membahu bersama membangun tenda. Dan yeah, tenda pun berhasil didirikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Dua tenda (tenda khusus laki-laki dan perempuan) dibangun oleh tim BICARA 131. Tenda dibangun dengan perhitungan yang matang, sehingga dia berdiri dengan kokoh dan kuat. Rasa penat pasca mendirikan tenda akhirnya terobati setelah mereka merebahkan badan menikmati suasana di dalam tenda.

Pukul 12.00 WIB setelah jeda makan siang,  kembali panitia mempersilakan para peserta mendirikan gapura, yang harus khas dan menunjukkan ciri khusus masing-masing institusi peserta Jambore. waktu yang diberikan cukup longgar yakni hingga pukul 15.00 WIB. Tampak gapura milik tim PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang cukup mentereng megah. Gapura PT KAI memang menjadi sorotan perhatian para peserta lantaran paling besar dan mencolok di antara yang lainnya. Gapura milik tim BICARA 131 pun tak kalah indah. Dengan ornamen-ornamen khas BICARA 131 yang kerap ditampilkan di setiap ajang, gapura milik BICARA 131 tampak sebagai yang megah diantara gapura lainnya.

Konsep gapura BICARA 131 dibuat untuk menggambarkan Bank Indonesia dan layanan BCARA 131. Di area terdepan tenda BICARA 131, gapura yang terpasang berbentuk monumen kecil bergambar uang Rp 100 ribu. Monumen kecil itu sengaja dibuat berlubang dua, agar orang-orang bisa menaruh wajahnya di situ. Dan bila difoto dari depan, seperti wajah orang tersebut menjadi model uang Rp 100 ribu tersebut.

Gapura BICARA 131
Gapura BICARA 131

Lalu gapura area belakang tenda, adalah gapura pilar. Maksud pilar itu adalah cerminan miniatur gapura selamat datang di Bank Indonesia. Sehingga konsep gapura tim BICARA 131 adalah agar suasana berkompetisi seperti serasa suasana di kantor.

Selanjutnya, setelah pemasangan gapura, panitia memerintahkan peserta memasang ornamen bendera merah putih dengan waktu yang tersedia hanya 15 menit saja. Dan kembali tim BICARA 131 berhasil menyelesaikan kegiatan sesuai waktu yang ditentukan. Menginjak pukul 16.30 WIB dimulailah perlombaan antar peserta. Disinilah sportifitas diuji. Lomba pertama yakni menerjemahkan sandi kotak. Juri dalam lomba ini menilai siapa saja peserta yang paling banyak menerjemahkan makna sandi-sandi yang harus dipecahkan.

aDSC07576
Lomba menerjemahkan sandi kotak

Lomba berikutnya adalah menyusun batang lidi, karet, dan kelereng menjadi segitiga neraca yang seimbang. Semakin banyak neraca keseimbangan yang tercipta, maka merekalah yang mendapat nilai tertinggi. Di kedua jenis lomba, baik menerjemahkan sandi kotak dan membuat neraca keseimbangan, tim BICARA 131 menyelesaikannya dengan baik.

Tim BICARA 131 sedang menciptakan neraca keseimbangan
Tim BICARA 131 sedang menciptakan neraca keseimbangan

Selesainya lomba neraca keseimbangan sekaligus menutup sesi rangkaian lomba pasca jeda istirahat siang. Selanjutnya, acara dilanjutkan setelah pukul 20.00 WIB dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Maka nantikanlah tulisan menarik BICARA 131 tentang Jambore TBCCI 2015 selanjutnya yang tentunya tak kalah seru. Selamat berjuang para peserta Jambore, selamat mengisi petualangan hidup dengan aktivitas positif!

Bahkan Manusia Harus Disemprot NOS, Seperti Mobil Dong?

Bersyukurlah bagi mereka yang mudah tersenyum, karena tak sedikit mereka yang harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk bisa tersenyum. Kita bisa lihat mereka yang depresi, hidupnya selalu merasa sedih, pesimis, suram, padahal secara materi mereka bisa dibilang banyak duit. Mereka terpaksa datang ke dokter psikolog atau psikiater untuk berkeluh kesah. Bahkan sampai sang dokter harus menyemprot gas ketawa, yang harganya tak murah. Gas ketawa atau dinitrogen monooksida adalah gas yang tidak berwarna dan berbau ‘manis’. Jika seseorang menghirup gas ketawa, orang tersebut akan terbebas dari rasa sakit.

Mereka datang ke psikolog dan psikiater, karena mereka paham bahwa senyum adalah kekuatan. Tanpa senyuman, maka satu kekuatan hidup hilang dari badan. Itulah sebabnya mereka rela berkorban demi satu senyuman. Maka tersenyumlah lepas, tak perlu ditahan-tahan karena senyuman memiliki kekuatan tersendiri. Bagi kami yang bergelut di bidang contact center, rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Maha Pencipta adalah kami selalu tersenyum. Perkara senyum itu karena tuntutan pekerjaan atau memang datang dari diri sendiri, namun yang terpenting adalah kami menjadi terbiasa tersenyum.

Dengan begitu diri pun menjadi terbiasa memiliki kekuatan, karena senyum adalah kekuatan. Di ajang kompetisi The Best Contact Center (TBCI) 2015 hari ini (Kamis, 7 Mei 2015), masih bertempat di Gedung Balai Kartini, Jakarta Selatan, bisa digambarkan bahwa seisi gedung sedang dipayungi oleh energi senyuman. Kategori Lomba kali ini adalah untuk mereka yang di posisi Telesales, Team Leader Outbound, Telemarketing, Customer Service, Manager Sustomer Service, Team Leader Customer Service, WFM, IT Support, dan Desk Control.

Menyenangkan

Tak ayal, karena banyak sekali kejadian-kejadian menyenangkan, lucu, bahkan kejadian gokil kalau kata anak muda sekarang. Seperti yang dialami Ria Agnesti, Costumer Service < 100 dari Sinar Mas Land. Ria tertawa terbahak-bahak lantaran teringat apa yang dialaminya di depan dewan juri. “Andaikan bukan karena senyuman manis kakanda, tak akan jadi begini. Diam-diam GAGAL FOKUS..”

Ria Agnesia (berbaju khas Padang) bersama Puspita Sari dari BICARA 131, keduanya sesama orang Padang.
Ria Agnesia (berbaju khas Padang) bersama Puspita Sari dari BICARA 131, keduanya sesama orang Padang.

Begitulah yang dialami Ria. Menurut pengungkapannya kepada reporter BICARA 131, kompetisi ini adalah yang perdana yang diikutinya, sepanjang dirinya berkarir di contact center. “Perasaan saya bercampur aduk. Untungnya, saya punya teman-teman yang memberikan dukungan ke saya,” ungkapnya. Dengan berbekal dukungan itu, menurutnya sudahlah cukup baginya untuk melaju ke kompetisi.
Sampai di depan dewan juri, ternyata, tak disangka tak diduga, apa yang sudah dipersiapkan olehnya mendadak buyar.
“Kenapa Mbak Ria?” tanya BICARA 131.
“Sayanya.. Di di dalam tadi sudah oke sih sebenarnya. Tapi.. Cuma karena anu..”
“Karena apa?”
“Dewan jurinya..”
“Kenapa dengan dewan jurinya?”
“Ada yang ganteng. Jadi gagal fokus deh sayanya..,”
“Gubrak…”

Kami pun tertawa terkekeh-kekeh dalam wawancara khusus ini. Ria yang berasal dari Padang, Sumatera Barat, tak kuasa menjaga konsentrasi hanya lantaran ketampanan. Mungkin inilah tampaknya gambaran kecil yang dialami para gadis-gadis pendamping Zulaikha ketika melihat Nabi Yusuf dengan daya tariknya. Nabi Yusuf tak dipungkiri, memiliki semiliar pesona bagi miliaran perempuan di dunia. Namun mungkin untuk kejadian ini, pesona dewan juri berhasil menjerat sang Ria Agnesti dari Padang. “Ketika mata saya menatap mata dia, kayaknya sesuatu terjadi gitu,” ujarnya sumringah. “Cuma karena dia menarik perhatian saya. Jadi, saya agak gagal fokus sehingga saya lupa sama pantun saya terakhir. Tapi tak apa, semua bisa teratasi.”

Berbicara soal energi, setelah datang dari pengalaman menyenangkan Ria yang melahirkan senyuman lebar di ruang kompetisi, ada lagi getaran energi yang datang dari salah satu peserta TBCCI 2015 satu ini. Dialah Arya Kristina, Team Leader Customer Service < 100 dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Arya Kristina datang dengan setumpuk energi perjuangan, dan diwujudkan dalam penampilan militer. “Karena area aku itu wilayah daerah Surabaya, wilayah timur kereta api. Jadi daerah surabaya blitar dan sebagainya. Dan aku mengambil jiwa perjuangannya, yaitu Bung Tomo,” ungkap Arya Kristina.

Arya Kristina
Arya Kristina

Bila jaman dulu musuh bangsa adalah kolonialisme yang dibawa oleh orang Belanda, di era sekarang, menurutnya kolonialisme yang dialaminya adalah konsistensi di SOP, lokasi, kondisi, dan alam. Pada intinya, musuh Arya Kristina adalah jangan ada kelambatan informasi. “Karena disana itu kan kondisinya serba cepat. Karaketer penumpang kereta api di sana (Jawa Timur) itu memang beda. Semua harus cepat semua harus instan. Jadi saya harus punya ide antisipasi. Caranya membuat video interior kereta, buku katalog tentang isi kereta, sehingga penumpang tidak komplain lagi. Jadi dia sudah tahu,” ungkapnya.

Lalu darimana Arya Kristina mendapat seragam militer itu? “Kebetulan karena dulu saya pernah dapat penghargaan di TBCCI 2013, saya dengan pimpinan saya itu berhubungan baik. Dan beliau support. Dan ini adalah seragam beliau, dipinjemin. Namanya diganti sementara, ditimpa, nanti dibalik lagi,” pungkasnya. Adapun Arya Kristina pernah meraih medali bronze di ajang TBCCI 2013, untuk kategori The Best Customer Service.

Tak kalah dengan Ria Agnesti dan Arya Kristina, BICARA 131 punya Dwi Putri S yang mengambil konsep suster ngesot. Oh mohon maaf, maksudnya adalah suster teladan. Ingatkah dengan lagu penyanyi legendaris Lilis Suryani berjudul “Berpisah di St Carolus” yang sangat menyentuh? Lagu itu menceritakan betapa alhmarhumah Fatmawati, istri Presiden Soekarno yang dirawat di Rumah Sakit St Carolus, Jatinegara, Jakarta Timur, karena sakit kanker, sangat terkagum dengan ketekunan dan jiwa kasih sayang sang perawat di sana.

Dwi Putri S (berbaju suster) bersama tim BICARA 131
Dwi Putri S (berbaju suster) bersama tim BICARA 131

Dan tentunya tebaran senyuman ikhlas mereka yang membuat Fatmawati Soekarno merasa akhir masa hidupnya masih bisa terisi energi positif. Itulah sebabnya Fatmawati menulis kisah tersebut sebelum meninggal dan akhirnya kisah sang Ibu Negara itu dijadikan lirik lagu yang sangat populer hingga kini. Dwi Putri mengibaratkan, dirinya seorang perawat tekun dan teladan dalam menangani para stakeholder yang menghubungi BICARA 131. Itulah gambaran tugas Dwi Putri di BICARA 131, yakni tekun dan teladan beserta senyuman yang selalu hadir di wajah.

Mobil Payah

Pada hakikatnya, hari ini sejuta senyuman kami dapat dari ajang TBCCI 2015. Perlu diketahui bahwa adalah sangat rugi, mereka yang susah tersenyum. Kita harus berkaca pada orang yang terpaksa disemprot gas ketawa oleh psikiater. Orang seperti itu bukan hanya ibarat orang yang mengidap penyakit akut, tapi bahkan ibarat mobil payah yang kurang tenaga. Pernah menonton film The Fast & The Forius dan sekuelnya 2 Fast 2 Forius? Kedua film tersebut mengungkapkan rahasia agar kendaraan melaju lebih cepat.

Rahasianya ada pada sebuah tabung kecil yang dikenal dengan nama NOS (Nitrous Oxide System). Kecepatan kendaraan yang dilengkapi dengan NOS, bisa meningkat antara 60 sampai 100 persen! Peran NOS sebagai sumber tenaga tambahan mesin, tidak dapat dilepaskan dari zat kimia yang dikandungnya, yakni dinitrogen mono oksida (N2O) yang diinjeksikan ke dalam karburator. Zat inilah yang sejak abad ke-18 sudah dikenal orang dengan istilah gas ketawa (laughing gas), si pembuat ketawa (the giggles), atau gas bahagia (happy gas).

Percobaan penggunaan gas ketawa oleh Sir Humphry Davy. Ilustrasi dari www.chem-is-try.org
Percobaan penggunaan gas ketawa oleh Sir Humphry Davy. Ilustrasi dari www.chem-is-try.org

Gejala-gejalanya diawali dengan histeria secara perlahan, eforia (rasa senang berlebihan), dan terkadang diakhiri dengan tertawa terus menerus. Itulah sebabnya zat berwujud gas ini disebut gas ketawa. Gas ketawa ini ditemukan oleh Joseph Priestley pada tahun 1772. Sehingga orang yang terpaksa harus diberikan N2O oleh dokter, tak bedanya dengan mobil yang kurang tenaga. Kita tentu tak ingin menjadi seperti itu.

Senyuman adalah anugerah sekaligus cara beramal yang gratis. Kita tentu sering mengalami kemunduran psikis lantaran menghadapi orang-orang dengan wajah tak bersahabat, wajah bermusuhan, murung, atau bahkan wajah datar. Hanya wajah datar pun kita sudah terdesak mentalnya, apalagi wajah murung dan tak bersahabat atau wajah bermusuhan. Itulah yang dinamakan pancaran energi negatif. Ini bukan teori BICARA 131, tapi adalah hasil penelitian Erbe Sentanu, sang pendiri Quantum Ikhlas. Buktinya adalah ketika kita mendapat senyuman dari seseorang, akan ada rasa optimisme yang muncul di diri. Apalagi orang yang melempar senyum adalah orang yang memang kita dambakan yang kita idolakan. Niscaya akan datang sejuta rasa percaya diri dan energi positif yang bahkan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Itulah sebabnya, ada pepatah bijaksana, “Satu musuh itu terlalu banyak daripada seratus kawan.”