Pudarnya kehebohan di hari ke enam

AP2 (9-8-16) Keriaan yang mulai memudar, ya seperti itulah gambaran saya tentang ajang TBCCI 2016 (The Best Contact Center Indonesia) yang bak memudar gaungnya. Berbeda dengan lomba hari pertama hingga keempat yang digelar di Gedung Kalbis Institute minggu lalu, tampak para suporter dari masing-masing perusahaan hadir untuk mendukung para kontestan perwakilan kantor mereka. Kali ini terlihat lebih sunyi dibandingkan kemarin. Entah, apakah jenis lombanya yang memancarkan aura kesunyian sehingga kurang memberikan semangat atau memang semangat itu memudar memasuki dua hari terakhir ajang TBCCI 2016??? Gak ada yang tau, yang saya tau adalah saya harus tetap mempersembahkan tulisan ini sebagai konsekuensi mengikuti ajang writing persembahan ICCA (Indonesia Contact Center Assosiation).

IMG-20160809-WA0019
suasana lomba QA Teamwork

Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, waktu lomba dimulai. Kali ini TBCCI 2016 mempersembahkan lomba Quality Assurance (QA) yang diikuti oleh 11 tim dengan jumlah tiga orang peserta per timnya. Berpacu dengan waktu yang bergulir sepanjang 3 jam 10 menit. Cukup lama dan membosankan, bagi para reporter yang menunggu untuk mengangkat lomba ini dalam tulisannya, tapi itulah yang harus dijalani untuk dapat menghasilkan goresan yang harus diupload setiap hari demi mencari dukungan like, share dan comment.

QA teamwork merupakan lomba baru di ajang TBCCI 2016, lomba yang sebelumnya dinamakan Jambore ICCA karena satu dan lain hal ditiadakan dan dijadikanlah lomba QA yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Contact Center. Ketua ICCA Andi Anugrah menuturkan bahwa tujuan diadakannya lomba ini karena pihaknya ingin turut melibatkan praktisi serta orang-orang contact center yang punya keahlian spesifik. “Tidak hanya yang pintar presentasi, yang disini kan tidak perlu pintar presentasi jadi kita ingin mengembangkan kemampuan mereka dan menjadikan ini kompetisi,” terang Andi.

Dalam lomba yang digelar tanpa juri ini, para peserta diperdengarkan 10 rekaman yang tiap rekamannya diberi waktu 5-6 menit kemudian dari setiap rekaman ada 10 soal yang harus dijawab.  “Lomba ini didasarkan pada mendengarkan rekaman, kenapa kami mengambil cara ini karena ini merupakan cara mudah, lebih obyektif dan dapat diukur. Kalau kita menggunakan yang lain agak sulit melakukan justifikasi,” jelas Andi lagi.

Lebih Baik 0 Daripada -1

Begitulah motto QA teamwork Bank Indonesia, yang digawangi oleh Iril, Sari dan Kristiana. Dalam ajang QA yang tadi diikutinya, ternyata ada konsekuensi yang harus diterima kalau memang salah menjawab pertanyaan yakni -1 (minus 1)  dan nilai 0 (nol) kalau tidak menjawab. Dalam waktu 3 jam 10 menit, Iril dan dua rekannya (Sari dan Kristiana) membagi tugas siapa yang mendengarkan pertanyaan agent, customer dan yang mencatat keduanya. Dari pertanyaan yang tak ada jawabannya, langsung dilewati karena mereka lebih baik nilai 0 daripada -1. “Jadi ada 100 soal pertanyaan, dari 10 rekaman yang didengarkan ke kami, setelah kami saling kroscek dan kalau tidak ada jawabannya langsung kami lewatkan. Kami lebih memilih nilai 0 daripada -1,” cerita Iril.

Demi mengikuti ajang QA teamwork, Iril dan rekannya dua kali melakukan try out dan belajar sendiri dengan mendengarkan rekaman teman-teman contact center yang diberi estimasi waktu, dan mentranskripnya secepat mungkin.

Perjuangan mereka yang begitu gigih, ternyata cukup memberikan hasil yang baik. Dalam ajang QA ini, BI menjadi juara keempat dalam ajang QA ini, diikuti dengan Bank Mandiri sebagai juara ketiga, Astra Honda Motor juara kedua dan Klip Pajak 2 menjadi sang pemenang pertama.

Meskipun menjadi juara keempat, tidak mematahkan semangat Iril dan rekan yang merasakan manfaat ajang ini sebagai penunjang pekerjaan mereka di kantor.

IMG-20160809-WA0046
Tiga Diva Bank Indonesia

Selain QA, di hari yang sama digelar ajang Smartteam Teamwork atau lomba TTS (Teka Teki Silang) ala ICCA, kedua lomba ini merupakan kategori baru dalam penyelenggaraan TBCCI 2016. Meskipun begitu tak tanggung-tanggung peserta yang turut memeriahkan lomba ini jauh lebih banyak dari peserta QA yakni sekitar 16 tim dengan tiga orang per timnya. Walau hanya mengisi TTS, lomba ini cukup diminati oleh perusahaan-perusahaan seperti Pertamina, Indosat Ooredoo, Palyja, Assa Rent, Bank DBS, Bank Indonesia, Klip Pajak, BCA, Bank Mandiri, Bank Indonesia. Tampil sebagai pemenangnya yakni Assa Rent di peringkat empat, diikuti BCA peringkat ketiga, Bea Cukai peringkat kedua dan Klip Pajak 1 di peringkat kesatu. Walau lomba terakhir di hari ini terkesan kurang berbobot tapi saya salut kepada panitia ICCA yang tak lelah putar otak ‘mengada-adakan’ lomba yang entah apa tujuannya. (AP2)

Kompak dan Serasi

AP2 (8-8-16) Memupuk kekompakan demi menciptakan keserasian nada  dan suara, begitulah yang terlihat dari penampilan EL DIVO BCA. Lima cowok kece yang digawangi oleh David, Roy, Ferul, Ryan dan Dede ini memukau penonton di penampilan keempat peserta singing TBCCI 2016 (The Best Contact Center Indonesia) yang digelar ICCA (Indonesia Contact Center Association) yang digelar di Gelanggang Remaja Otista Jakarta Timur, pada Senin (8/8). Penampilan yang nyaris sempurna, membawakan tiga lagu daerah dan tiga lagu pilihan mereka menunjukkan persiapan mereka yang begitu matang. Sebulan persiapan itu dilakukan, dengan menggunakan kostum biru mereka menyanyi begitu indah, sambil menari (koreografi) untuk melengkapi aksi panggungnya.

David menuturkan bahwa ini penampilan terbaik mereka, dan mereka sudah berlatih sekitar satu bulan. Cukup bangga bisa mewakili BCA untuk tampil di ajang TBCCI 2016 dalam kategori kelompok. Tiga lagu yang dinyanyikan mereka adalah Sik Sik Batumanikam dari Sumatera Utara, Janger dari Bali, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua. “Tiga lagu daerah kan memang itu dari panitia yang wajib dinyanyikan, kalau lagu pilihan kami tadi menyanyikan I will always love you by Whitney Houston,  Problem by Ariana Grande, dan I wanna dance with somebody yang juga pernah dinyanyikan Whitney Houston dan El Divo,” cerita David.

Penampilan mereka memang sangat memukau para penonton yang hanyut menyaksikan aksi panggung lima cowok kece dari BCA tersebut. Selain EL DIVO dari BCA, singing  contest juga diikuti oleh tim dari Astra, PT Swakarya Insan Mandiri (SIM), Bank Mandiri, BNI, Klik Pajak dan satu tim lagi dari BCA.

Tidak hanya singing contest, TBCCI 2016 kali ini juga dimeriahkan dengan lomba dancing yang diikuti oleh lima tim yakni SIM, Bank Indonesia (BI), dua tim dari BCA, dan Bank Mandiri. Dalam lomba dancing ini, Bank Indonesia menjadi andalan saya. Dengan koreografi yang begitu indah dan sempurna. Perpindahan tari (blocking) yang smooth mengikuti alunan lagu yang disuguhkan, berawal dari lagu Gebyar-gebyar, Indonesia Jiwaku, berganti ke lagu Jawa dan Juwita. Sungguh penampilan yang sempurna dan memukau yang memunculkan kekaguman saya menyaksikan penampilan apik tim BI.

Yana sang koreografer tim BI pun tak kalah kagumnya dengan saya usai menyaksikan ‘anak didiknya’ beraksi.  Apalagi kelima ‘anak didiknya’ itu bukanlah berlatar belakang sebagai penari melainkan mereka adalah seorang contact center. “Para penari kami yang tadi tampil semuanya adalah orang Contact Center dan kita mendorong mereka harus bisa. Mereka orang contact center yang biasa ngomong karena diwajibkan untuk ikut lomba ini akhirnya mereka berlatih untuk menari,” jelas Yana.

Para penarinya merupakan hasil audisi dari 30 orang kemudian menjadi lima orang. “Saya puas dengan penampilan mereka. Mereka awam gak bisa menari awalnya, jadi bisa karena saya melatih mereka,” ungkap Yana bangga.

Bahkan, walaupun BI hanya berada di posisi juara keempat, Yana tak patah arang, karena baginya penampilan ‘anak didiknya’ sudah sangat baik dan justru terbaik. Kalah menang itu hal biasa karena yang penting tim-nya sudah melakukan yang terbaik dan menghibur.

Yana (kaos putih) dan anak didiknya
Yana (kaos putih) dan anak didiknya

Tim Hore BCA dan Mandiri

Penampilan para peserta singing dan dancing tak lepas dari keriuhan yang ditampilkan para Tim Hore mereka, dua tim yang tampak heboh kali ini adalah Tim dari BCA yang membawa atribut hore untuk mendukung peserta dari BCA yang akhirnya menjadi pemenang dalam kedua lomba yang digelar hari ini. “Kami senang banget ya, tim kami menjadi pemenang, gak sia-sia kami dukung sampai kesini dengan membawa atribut hore ini dan juga semangat untuk mendukung mereka. Tapi emang dua tim singing dan dancing BCA bagus kok, yang lain gak ada yang sebagus kami,” seloroh Adisa riang.

Tim Hore Halo BCA
Tim Hore “Halo BCA”

Sementara itu tim hore Bank Mandiri, tak mau kalah dengan tim hore BCA yang juga ingin meramaikan suasana GOR yang sempat diguyur hujan deras. Dengan mengerahkan 25 personil yang berkantor di Plaza Bapindo, tim hore Mandiri datang membawa balon-balon huruf bertuliskan MANDIRI serta memakai topi karton yang biasa digunakan pada acara ulang tahun serta terompet berbunyi seperti klakson. Sungguh kemeriahan yang tak terbendung.

Penampilan apik tak selamanya didukung oleh panggung dan soundsystem yang apik. Seluruh peserta yang hadir dalam kontes siang tadi, pasti setuju dengan pendapat saya. Sebagai salah satu peserta writing saya menilai penampilan para kontestan singing dan dancing kurang disupport oleh panggung, dan soundsystem yang bagus. Penampilan para kontestan sempat diwarnai aksi suara yang tak keluar, suara terdengar pecah, microfon yang sempat mati, level volume microfon yang berbeda-beda dan gema dimana-mana. Entah salah dimananya.

Salah satu peserta lomba, Taufiq menuturkan bahwa pemilihan lokasi sangat tidak representatif, mulai dari panggung, soundsystem dan kursi yang kayak orang kondangan. Akan tetapi Taufiq cukup salut dengan penampilan para peserta yang semuanya maksimal atau all out menampilkan aksi-aksi memukau mereka. (AP2)

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Sebuah kisah akan mengawali hari
Kaki-kaki  itu akan berusaha menapaki masa depan
Dimana pun mereka bersembunyi
Cerita dan orang yang berbuat baik akan selalu terwartakan
Karena keharuman mereka selalu tercium hingga negeri seberang
Dan ini, adalah kisah mereka yang yang berusaha mengisi kepingan hidup.

Ada cinta di TBCCI 2016

Seperti pepatah orang jawa Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, cinta tumbuh karena terbiasa. Ini adalah kisah Yusuf Sudrajad, sebuah kisah cinta yang terselip di ajang TBCCI 2016. Kontestan dari    PT Pertamina (Persero) ini memanfaatkan ajang TBCCI 2016 untuk menyatakan lamarannya ke gadis yang baru sebulan dipacarinya (sejak bulan puasa).

Didepan kontestan lainnya Yusuf mengakui rasa cinta dan kekagumannya pada salah seorang gadis. Wajahnya memerah, ucapannya pun mulai tak karuan dan gegar. Tak lama kata-kata mesra keluar darinya, sebuah kata yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap perempuan “aku ingin serius sama kamu, inshaAllah tahun depan saya akan menghalalkan calon dari pendamping hidup saya,” sontak seisi lantai 7 menjadi riuh.

Dua sejoli dari Pertamina
Dua sejoli dari Pertamina

Diakui Yusuf, pelamaran ini spontan dilakukan, tidak direncanakan sebelumnya. “Awalnya saya dan dia berteman biasa saja, suka ledek-ledekan, kami kan masuk Pertamina bareng. Cuma dia penempatannya di Bandung, saya di Jakarta. Setelah dia ditarik ke Jakarta, baru deh kemarin pas puasa kami mulai pacaran,” kenang Yusuf.

Disebelah Yusuf terlihat seorang wanita muda dengan pipi yang telah merah merona tersenyum cantik dia adalah Mia Khairun Nisa. Sang calon istri yang juga menjadi peserta TBCCI 2016 dengan kategori sama perwakilan dari Pertamina, mengaku kaget dengan lamaran sang kekasih. Pasalnya, tidak ada omongan akan dilamar dalam acara ini, tetapi keduanya memang sepakat untuk menikah tahun depan. “Awalnya tadi hanya ingin foto bersama pak Andi Anugrah (Ketua ICCA/Indonesia Contact Center Assosiation) tetapi karena pak Andi tahu, akhirnya begini jadinya,” ungkap Mia tersipu malu.

Juri-juri TBCCI 2016

Ajang bergengsi persembahan ICCA tentunya memiliki juri-juri dari perusahaan yang tak kalah bergengsinya, seperti salah satu juri cantik dari PT Indosat Ooredoo bernama Artha. Wanita yang mengenakan atasan merah ini telah menguji 13 peserta yang semuanya memberikan penampilan yang sangat bagus. “Saya melihat kemauan mereka lebih besar karena range umur masih kecil, youthfull, jadi sangat bersemangat. Dan semuanya saling bersaing memberikan penampilan terbaiknya, sampai saya bingung juga sih untuk menjagokan yang mana,” kelakarnya.

Sementara itu, salah satu juri Syaifudin yang merupakan akademisi dari Trisakti ini menilai ajang TBCCI 2016 adalah ajang yang sangat bagus karena menelurkan bibit-bibit contact center sehingga mampu memberikan penjelasan kepada masyarakat melalui kemampuan komunikasi yang dimiliki. Karena dalam ajang ini, mereka yang paling bagus, yang juara.

Sepanjang setengah hari tadi, Syaifudin sudah menguji 12 peserta, dari berbagai perusahaan yang semuanya bagus-bagus. “Ada satu jagoan saya, dari AP2 yang mengambil tema tentang diving (menyelam) dihubungkan dengan kreativitas dan servis. Dia menguasai materi dan membawakan lebih fleksibel, dan sangat jelas,” cerita akademisi ini.

Radynal siap menyelam
Radynal siap menyelam

Inilah Radynal Manurung, yang merupakan jagoan sang juri. Single berusia 25 tahun ini, memang memiliki hobi menyelam. Baginya, bekerja di contact center sama seperti menyelam karena sama-sama menantang dan disana dia mendapatkan banyak pengalaman baru yang tidak didapat sebelumnya. “Ditambah menjadi peserta diajang Insan Contact Center ini, sudah cukup menjadi kebanggaan buat saya. Saya pegawai baru di AP2 tetapi sudah diberikan kepercayaan untuk mengikuti ajang ini. Inilah kemenangan yang saat ini saya rasakan,” ungkap pria jangkung berhidung mancung ini.

Kebanggaan lain dirasakan Vega Welingutami, peserta dari AP2 yang tampil pertama di TBCCI 2016 day 3, motivasinya mengikuti ajang ini adalah karena ia ingin mendapatkan pengalaman baru, belajar sesuatu hal yang baru, dan berharap untuk ke Korea yang menjadi hadiah utama dalam ajang ini. Mengambil tema penyiar, dilatarbelakangi oleh pengalamannya sebagai penyiar radio kampus saat kuliah. Pengalaman pertama lomba mewakili perusahaan, tak ingin ia sia-siakan. Dan Vega ingin memberikan yang terbaik untuk AP2. Keceriaan Vega terpancar saat para juri yang cukup memberikan applause terhadap penampilannya. Dia berharap bisa menjadi pemenang dalam ajang TBCCI 2016 ini.

Mereka yang ada  di balik layar

Lelaki berumur 23 tahun itu mengintip dari view finder kameranya lalu mengabadikan setiap momen yang berlangsung. Dia adalah Auliya Arief salah seorang peserta kategori Multimedia dari JNE.

Bermula dari kecintaannya terhadap fotografi, Arief berusaha mendukung perusahaannya melalui kemampuannya di bidang multimedia. Arief mengaku belajar kamera secara otodidak dan bergabung dalam komunitas yang ada di perusahaannya.

Arief  mengintip dari kameranya
Arief mengintip dari kameranya

Keinginan untuk memenangi ajang TBCCI 2016 memacu Arief untuk mengambil setiap momen yang menarik di acara tersebut. “Ini adalah pertama kali kami mengikuti acaranya, mudah-mudahan kami dapat memberikan yang terbaik untuk acara ini,” ujar Arief ketika di tanya peluangnya di ajang bergengsi ini.

Kisah-kisah mereka adalah penggalan dari sebuah cerita. Sebuah cerita yang akan mengawali perjalanan hidup mereka. Pengalaman yang berharga dan tak bisa diulang kembali, hanya bisa menjadi cerita di masa depan.(AP2)