Berbincang dengan Robot

Jika Anda pernah menonton film Iron Man, maka Anda pasti mengenal J.A.R.V.I.S. (Just A RatherĀ Very Intelligent System) atau JARVIS atau Jarvis. Jarvis ini adalah tokoh virtual pendukung Tony Stark berupa artificial intelligence (A.I.) yang diciptakan oleh Stark. Sering diperlihatkan adegan kedua tokoh tersebut berbincang, dan bagaimana Jarvis selalu membantu pekerjaan Stark. Apakah Anda pernah berbincang dengan robot semacam ini? Bisa jadi Anda pernah melakukannya tanpa Anda sadari.

Teknologi terus berkembang dan menjadi semakin canggih. Kecanggihan ini dapat membantu meringankan pekerjaan manusia. Salah satunya adalah robotics di berbagai bidang pekerjaan. Robotics yang dikembangkan hingga saat ini bahkan mampu memberikan pelayanan kepada pelanggan. Bagaimana pelayanan yang diberikan oleh para robot ini? Bagaimana jika pertanyaan dan permintaan yang diberikan oleh pelanggan adalah sesuatu yang kompleks?

Thursday Technology Sharing (TTS) yang diadakan hari ini (9/3) membahas seputar Virtual Assistant atau Chat-bot yang dibawakan oleh Sudibyo, Yasa, dan Rudi dari Selindo Alpha. Mulai dari robotics, virtual assistant, hingga lebih spesifik lagi tentang chat-bot.

Peserta yang hadir hari ini berasal dari sejumlah perusahaan antara lain dari Indosat Ooredoo, AstraWorld, BNI Life Insurance, BRI Syariah, Tiket.com, Kereta Api Indonesia, Datascrip, Biznet, serta Bank Mandiri. Sharing tentang perangkat pendukung teknologi juga disampaikan oleh Vina dari Astrindo (Sennheiser Indonesia). (MZ)

Akan Ada di Mana-Mana, Speech And Text Analytics

Thursday Technology Sharing yang membahas tentang Speech and Text Analytics ini dihadiri oleh sejumlah peserta dari beberapa perusahaan. Peserta berasal dari Bank Indonesia, KLIP Direktorat Jenderal Pajak, Astra International (AstraWorld), Bank Central Asia, Bumi Serpong Damai (Sinarmasland), Kereta Api Indonesia, PAM Lyonnaise Jaya, Sarihusada, Swakarya Insan Mandiri, The Brele, dan Telekomunikasi Indonesia.

Sudibyo Sutanto kembali menjadi pembicara dalam Thursday Technology Sharing kali ini. Sudibyo mengawali presentasi dengan memperkenalkan sepuluh tren di dalam contact center masa mendatang. Tren tersebut meliputi omni channel, army of specialist, uber style employement, new era of metrics, voice biometrics, bot attack, analytics, real time, cloud based CC, dan going mobile. Ya, ke depannya analytics akan menjadi tren yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Satu kata kunci menjadi jalan untuk berkomunikasi, sama halnya dengan pelanggan. Ketika perusahaan mengetahui apa yang sering diakses oleh pelanggan, akan lebih mudah untuk mengetahui kebutuhan pelanggan. Analytics dapat memprediksi melalui profiling berdasarkan sejumlah data yang terkumpul. Sudibyo menambahkan, analytics merupakan hal yang powerful and scary. Maksudnya adalah, hal yang kompleks dan berisiko, namun jika dapat dimaksimumkan penggunaannya dapat memberikan keuntungan maksimal bagi suatu perusahaan.

Dibandingkan dengan Computer Telephony Integration (CTI), analytics jauh lebih luas dan kompleks. Jika CTI mengambil data dari structured data seperti CRM, database, dan sejenisnya, maka analytics mengambil data dari unstructured data seperti misalnya media sosial.

Analytics ini meliputi text dan phonetic. Pada speech to text, ia memiliki akurasi yang baik, bergantung pada daftar pustaka, melewatkan deteksi, dan membutuhkan update. Sedangkan phonetics itu cepat, kurang akurat, tidak pernah ada yang terlewat, dan PCI compliance. Keduanya dibutuhkan, tidak bisa dipilih salah satu.