Muda, Beda dan Bertalenta

ATB, Jakarta – Suasana lomba The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017 dihari ketiga terasa lebih istimewa. Wajah-wajah baru generasi contact center yang hampir seluruhnya berusia muda dan bertalenta, memadati area presentasi di Kalbis Institute Pulomas Jakarta. Mereka terlihat sibuk mempersiapkan diri sebelum tampil dihadapan juri.

Sebanyak 135 peserta dijadwalkan melakukan presentasi dalam beberapa kategori. Mereka akan tampil maksimal dalam mengeksplorasi talenta yang dimiliki, untuk mendapatkan perhatian dewan juri dengan latar belakang akademisi dan praktisi contact center.

Sejumlah peserta bersiap melakukan registrasi di ajang kompetisi BTCCI 2017, hari ketiga gelaran lomba contact center Rabu (26/7) diisi oleh agent-agent muda, beda dan bertalenta.

Andi Anugrah, Chairman Indonesia Contact Center Association (ICCA) dalam press conference yang berlangsung di aula lantai enam Kalbis Institute menyampaikan bahwa mayoritas peserta yang berkompetisi hari ini adalah peserta yang berada di level staf yang berhubungan langsung dengan layanan pelanggan. Hanya ada satu kategori Best of Best yang diperlombakan hari ini yaitu Best of Best Agent yang penjuriannya dilakukan di ruang R9 lantai tujuh Kalbis Institute dan sisanya adalah kategori reguler.

“Ada satu kategori yang berbeda di tahun ini yaitu kategori Agent Layanan Publik. Kategori ini dikhususkan bagi perusahaan dengan seat kecil yang memberikan layanan publik baik dari sektor BUMN atau pemerintah dan sektor swasta,” jelas Andi Anugrah kepada tim jurnalis.

Adapun peserta yang mengikuti kategori Agent Layanan Publik ini berasal dari perusahaan atau lembaga pemerintah seperti PT. Adhya Tirta Batam (ATB), Pertamina, Perusahan Gas Negara, Ditjen Bea dan Cukai, Pusintek-Kementrian Keuangan, Angkasa Pura II, Bank Indonesia, PAM Lyonnaise Jaya dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk perusahaan yang bergerak di layanan jasa pengolahan air bersih atau air minum, hanya PAM Lyonnaise Jaya dan PT. Adhya Tirta Batam yang meloloskan kandidat terbaiknya ke tahap presentasi hari ini.

Dorongan semangat dan percaya diri yang terpancar dari masing-masing peserta, membuat kompetisi hari ini lebih berwarna. Sejumlah peserta bahkan tampil dengan membawakan tema yang lebih variatif dan menunjukkan sisi kreatifitas sebagai insan muda yang berkarya dan penuh talenta.

Sejumlah peserta TBCCI 2017 luapkan keceriaan usai presentasi di hadapan juri. Wajah-wajah baru generasi contact center yang hampir seluruhnya berusia muda dan memiliki talenta.

Salah satunya adalah peserta yang berasal dari Kota Batam. Gadis cantik bernama lengkap Fajri Rahmi ini tampil membawakan presentasi bertemakan “kertas”. Alasan Agent Inbound PT. Adhya Tirta Batam ini memilih tema kertas karena kecintaannya terhadap dunia menulis. Di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan di Call Center ATB 467111, Fajri terus mengembangkan ide dan kreatifitasnya dengan menerbitkan beberapa buku antologi salah satunya buku berjudul Segurat Garis Sumatera.

“Saat pertama kali memasuki area presentasi tadi, saya sempat merasakan nervous. Namun setelah melihat peserta lain, rasa nervous itu langsung hilang entah kemana. Mungkin karena mereka benar-benar mempersiapkan diri dengan total dan sangat kreatif, membuat saya lebih bersemangat. Apalagi tema presentasi saya juga membahas tentang ide dan kreatifitas. Jadi saya lebih tertantang untuk menunjukkan kemampuan yang saya miliki,” imbuh Fajri.

Rasa gugup juga sempat dialami oleh perwakilan Acer Indonesia, Amandani Yuliasari. Amandani yang mengikuti kategori Agent Back Office mengaku melakukan persiapan cukup lama untuk menghadapi kompetisi ini. Sebagai pemula, tantangan paling besar yang dihadapi Amandani saat melakukan presentasi adalah menenangkan diri agar tidak gugup dihadapan dewan juri. Namun dengan respon positif dari dewan juri, membuat Amandani mampu melewati seluruh tahapan presentasi dengan lancar. Terlebih Acer Indonesia baru tahun ini mengikuti ajang TBCCI, membuat Amandani sangat termotivasi untuk meraih predikat The Best.

Banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk mendukung kandidat mereka yang lolos ke tahap presentasi. Beberapa perusahaan tampak mengirimkan tim suporter bagi wakil perusahaan mereka yang berkompetisi hari ini sebagai bentuk dukungan moril dan mengurangi rasa grogi peserta. Tim suporter yang paling mencuri perhatian adalah dari Kereta Api Indonesia. Mulai dari staf hingga level manajerial mendampingi Agung Anwarudin, Ramon Anggoman, Lutfi Nur Andika, Noviyanti dan Riyanti Eka Putri yang merupakan wakil Kereta Api Indonesia dalam kategori Agent Reguler dan Back Office.

Peserta TBCCI 2017 dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) terlihat gembira bersama dukungan rekan kerja, usai tampil di hadapan juri vote lock.

Terlepas dari euforia tingginya tingkat regenerasi insan muda yang memilih berkecimpung dalam dunia contact center, satu hal yang pasti bahwa kreatifitas untuk menghasilkan karya dan prestasi tentunya harus mendapatkan dukungan dari semua pihak. Contact center adalah lingkungan paling tepat untuk mempelajari banyak hal dan mengembangkan potensi diri dimana generasi muda, beda dan bertalenta akan terus terlahir disini. (DY_ATB)

Gurindam Melayu Bertabuh Langgam
Mengatur Langkah Dara Menari
Episode Ketiga Telahpun Khatam
Nantikan Cerita Esok Hari

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Sebuah kisah akan mengawali hari
Kaki-kaki  itu akan berusaha menapaki masa depan
Dimana pun mereka bersembunyi
Cerita dan orang yang berbuat baik akan selalu terwartakan
Karena keharuman mereka selalu tercium hingga negeri seberang
Dan ini, adalah kisah mereka yang yang berusaha mengisi kepingan hidup.

Ada cinta di TBCCI 2016

Seperti pepatah orang jawa Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, cinta tumbuh karena terbiasa. Ini adalah kisah Yusuf Sudrajad, sebuah kisah cinta yang terselip di ajang TBCCI 2016. Kontestan dari    PT Pertamina (Persero) ini memanfaatkan ajang TBCCI 2016 untuk menyatakan lamarannya ke gadis yang baru sebulan dipacarinya (sejak bulan puasa).

Didepan kontestan lainnya Yusuf mengakui rasa cinta dan kekagumannya pada salah seorang gadis. Wajahnya memerah, ucapannya pun mulai tak karuan dan gegar. Tak lama kata-kata mesra keluar darinya, sebuah kata yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap perempuan “aku ingin serius sama kamu, inshaAllah tahun depan saya akan menghalalkan calon dari pendamping hidup saya,” sontak seisi lantai 7 menjadi riuh.

Dua sejoli dari Pertamina
Dua sejoli dari Pertamina

Diakui Yusuf, pelamaran ini spontan dilakukan, tidak direncanakan sebelumnya. “Awalnya saya dan dia berteman biasa saja, suka ledek-ledekan, kami kan masuk Pertamina bareng. Cuma dia penempatannya di Bandung, saya di Jakarta. Setelah dia ditarik ke Jakarta, baru deh kemarin pas puasa kami mulai pacaran,” kenang Yusuf.

Disebelah Yusuf terlihat seorang wanita muda dengan pipi yang telah merah merona tersenyum cantik dia adalah Mia Khairun Nisa. Sang calon istri yang juga menjadi peserta TBCCI 2016 dengan kategori sama perwakilan dari Pertamina, mengaku kaget dengan lamaran sang kekasih. Pasalnya, tidak ada omongan akan dilamar dalam acara ini, tetapi keduanya memang sepakat untuk menikah tahun depan. “Awalnya tadi hanya ingin foto bersama pak Andi Anugrah (Ketua ICCA/Indonesia Contact Center Assosiation) tetapi karena pak Andi tahu, akhirnya begini jadinya,” ungkap Mia tersipu malu.

Juri-juri TBCCI 2016

Ajang bergengsi persembahan ICCA tentunya memiliki juri-juri dari perusahaan yang tak kalah bergengsinya, seperti salah satu juri cantik dari PT Indosat Ooredoo bernama Artha. Wanita yang mengenakan atasan merah ini telah menguji 13 peserta yang semuanya memberikan penampilan yang sangat bagus. “Saya melihat kemauan mereka lebih besar karena range umur masih kecil, youthfull, jadi sangat bersemangat. Dan semuanya saling bersaing memberikan penampilan terbaiknya, sampai saya bingung juga sih untuk menjagokan yang mana,” kelakarnya.

Sementara itu, salah satu juri Syaifudin yang merupakan akademisi dari Trisakti ini menilai ajang TBCCI 2016 adalah ajang yang sangat bagus karena menelurkan bibit-bibit contact center sehingga mampu memberikan penjelasan kepada masyarakat melalui kemampuan komunikasi yang dimiliki. Karena dalam ajang ini, mereka yang paling bagus, yang juara.

Sepanjang setengah hari tadi, Syaifudin sudah menguji 12 peserta, dari berbagai perusahaan yang semuanya bagus-bagus. “Ada satu jagoan saya, dari AP2 yang mengambil tema tentang diving (menyelam) dihubungkan dengan kreativitas dan servis. Dia menguasai materi dan membawakan lebih fleksibel, dan sangat jelas,” cerita akademisi ini.

Radynal siap menyelam
Radynal siap menyelam

Inilah Radynal Manurung, yang merupakan jagoan sang juri. Single berusia 25 tahun ini, memang memiliki hobi menyelam. Baginya, bekerja di contact center sama seperti menyelam karena sama-sama menantang dan disana dia mendapatkan banyak pengalaman baru yang tidak didapat sebelumnya. “Ditambah menjadi peserta diajang Insan Contact Center ini, sudah cukup menjadi kebanggaan buat saya. Saya pegawai baru di AP2 tetapi sudah diberikan kepercayaan untuk mengikuti ajang ini. Inilah kemenangan yang saat ini saya rasakan,” ungkap pria jangkung berhidung mancung ini.

Kebanggaan lain dirasakan Vega Welingutami, peserta dari AP2 yang tampil pertama di TBCCI 2016 day 3, motivasinya mengikuti ajang ini adalah karena ia ingin mendapatkan pengalaman baru, belajar sesuatu hal yang baru, dan berharap untuk ke Korea yang menjadi hadiah utama dalam ajang ini. Mengambil tema penyiar, dilatarbelakangi oleh pengalamannya sebagai penyiar radio kampus saat kuliah. Pengalaman pertama lomba mewakili perusahaan, tak ingin ia sia-siakan. Dan Vega ingin memberikan yang terbaik untuk AP2. Keceriaan Vega terpancar saat para juri yang cukup memberikan applause terhadap penampilannya. Dia berharap bisa menjadi pemenang dalam ajang TBCCI 2016 ini.

Mereka yang ada  di balik layar

Lelaki berumur 23 tahun itu mengintip dari view finder kameranya lalu mengabadikan setiap momen yang berlangsung. Dia adalah Auliya Arief salah seorang peserta kategori Multimedia dari JNE.

Bermula dari kecintaannya terhadap fotografi, Arief berusaha mendukung perusahaannya melalui kemampuannya di bidang multimedia. Arief mengaku belajar kamera secara otodidak dan bergabung dalam komunitas yang ada di perusahaannya.

Arief  mengintip dari kameranya
Arief mengintip dari kameranya

Keinginan untuk memenangi ajang TBCCI 2016 memacu Arief untuk mengambil setiap momen yang menarik di acara tersebut. “Ini adalah pertama kali kami mengikuti acaranya, mudah-mudahan kami dapat memberikan yang terbaik untuk acara ini,” ujar Arief ketika di tanya peluangnya di ajang bergengsi ini.

Kisah-kisah mereka adalah penggalan dari sebuah cerita. Sebuah cerita yang akan mengawali perjalanan hidup mereka. Pengalaman yang berharga dan tak bisa diulang kembali, hanya bisa menjadi cerita di masa depan.(AP2)