The One And Only Service

Membawa pulang senyuman di wajah penumpang pengguna layanan kereta api menjadi prioritas wanita ini. Bagaimana tidak, kereta api merupakan alat transportasi massal dengan biaya yang relatif murah sehingga menjadi pilihan banyak kalangan. Pelayanan prima harus selalu diberikan agar respon masyarakat terhadap layanan satu-satunya alat transportasi bebas macet ini selalu bagus dan senyum penumpang tetap mengembang.

Anne atau Butet, begitu panggilannya, memiliki misi mulia dengan ingin selalu membuat para penumpang kereta api turun dengan tersenyum dan memberikan respon terhadap layanan kereta api dengan tersenyum pula. Membawa pulang senyuman ini bukanlah tugas yang mudah karena banyak hal harus dilakukan. Wanita bernama lengkap Erni Sylvianne Purba ini menjelaskan ada beberapa layanan yang disediakan oleh Kereta Api Indonesia. Pilihan layanan perjalanan ada tiga, yaitu layanan ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Stasiun kereta api juga banyak tersebar di pulau Jawa dan pulau Sumatra. Layanan pemandangan alam membentang juga gratis disaksikan sepanjang perjalanan. Semua hal mulai dari pertanyaan, keluhan, dan masukan bisa langsung mention ke akun Twitter Kereta Api Indonesia di @kai121.

Bekerja di dunia contact center selalu ada banyak tantangan untuk dihadapi. Begitu juga dengan Anne, ada tiga tantangan utama yang harus dia hadapi. Tantangan tersebut adalah high public expectation, instant culture, dan consistency. Tingginya ekspektasi publik terhadap kualitas pelayanan KAI membuat Anne dan timnya harus bekerja ekstra agar tidak membuat para pelanggan kecewa. Kemudian budaya bersosial media, yang meng-capture gambar atau peristiwa kemudian di share juga menjadi perhatian khusus. Terakhir adalah konsistensi pelayanan, Anne dan timnya harus konsisten membawa pelayanan prima dengan tujuan akhir adalah kepuasan pelanggan.

Ide dan kreativitas kemudian disusun oleh Anne untuk menjawab tantangan yang harus dia hadapi. Ide dan kreativitas tersebut adalah dengan memberikan warna baru dengan social media and handling complaint. Jika ada permasalahan yang sulit diselesaikan, akan dilakukan investigasi dan pencarian informasi yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Kemudian dengan membuat happening hashtag agar menjadi komentar yang baik untuk KAI. Terakhir adalah dengan pemanfaatan meme untuk menggambarkan citra baik KAI.

Ada pula roadmap quality improvement yang dicetuskan oleh wanita yang lahir tanggal 25 April 1984 ini. Isinya berupa set up, implementasi, dan improvement. Ada tiga kunci yang membuat tim Anne dapat menikmati kesuksesan. Kunci tersebut adalah kalimat yang memberikan dampak positif bagi pelanggan, tidak merusak citra perusahaan, dan hormat pada undang-undang. Wanita lulusan sarjana teknik informatika UKDW Yogyakarta ini juga menerapkan manajemen bawahan dengan tiga bentuk kegiatan yaitu delivery, delegation, dan evaluation. Menyampaikan informasi yang akurat, cepat, dan tepat selalu diberikan oleh Anne untuk timnya. Mendelegasikan wewenang juga dilakukan oleh Anne agar nantinya orang-orang yang diberi delegasi wewenang dapat memimpin dengan baik. Kegiatan evaluasi juga tidak pernah dilewatkan oleh Anne dan timnya.

Anne juga terus mengembangkan dirinya dengan mengikuti berbagai macam training, certification, dan benchmarking. Project-nya selama satu tahun belakangan adalah dengan mengikuti sertifikasi COPC di Singapura, sebagai project manager social media KAI, sebagai kontributor portal presiden, aktif sebagai customer relation, memperoleh silver medal dalam ajang The Best Contact Center Indonesia tahun 2014, dan sebagai advisor Kementerian Perhubungan 151.

Pencapaian-pencapaian yang membanggakan bagi Anne adalah mendapatkan customer applause untuk portal presiden dan keterkaitan antara akun media sosial KAI dengan hashtag #WonderfulIndonesia sebagai tagar yang digunakan untuk promosi wisata Indonesia di seluruh dunia. Sedangkan pencapaian kinerja yang berhasil diraih Anne adalah respon terhadap pertanyaan dijawab dalam 30 menit hingga 70% dan service quality yang ditargetkan 85% dapat tercapai hingga 115%. (MZ)

Lain Babak, Lain Cerita

Balai Kartini, Jakarta 6 Mei 2015 – Terik matahari mengantarkan senyum penuh gairah dan semangat para peserta The Best Contact Center Indonesia 2015 (TBCCI 2015). Masih di acara yang sama, ajang prestasi TBCCI 2015 yang diselenggarakan oleh ICCA–Indonesia Contact Center Association–ini masih berlanjut. Ujian presentasi dalam pemilihan calon juara TBCCI memang berlangsung selama tiga hari sejak dimulai pada Selasa, 5 Mei 2015 kemarin. Jika pada hari sebelumnya adalah jadwal presentasi untuk kelompok supervisor, team leader, quality assurance dan trainer, kali ini merupakan waktu unjuk diri bagi kelompok peserta yang lain. Pada tahap kedua di hari ke dua ini, para peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang dengan bangga dipercaya untuk mewakili perusahaan masing-masing. Adapun untuk nama-nama perusahaan yang ikut serta mengirimkan orang terpilihnya adalah perusahaan besar di Indonesia. Babak berikutnya masih dengan jenis ujian yang sama, yakni presentasi diri. Lantas apa yang berbeda? Perbedaannya adalah kelompok peserta yang hadir. Kategori Agent Inbound, Agent Premium, orang-orang yang berjibaku di bagian Back Office, dan Agent Social Media.

Rofiq Indra Suksmana, peserta dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Rofiq Indra Suksmana, perwakilan peserta Back Office dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk. sebagai peserta Agent Inbound
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent social media
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent Social Media

Jumlah peserta dengan kategori berbeda ini memang tidak sama dengan tahap sebelumnya. Memang tidak lebih sedikit, justru lebih banyak dari sebelumnya. Sejak pagi para peserta mengisi daftar kehadiran untuk memastikan bahwa namanya betul-betul terdaftar atau dengan kata lain, tidak gugur saat ujian, dan mendapatkan jadwal presentasi berikut ruang ujiannya. Agent dari berbagai perusahaan itu juga mengangkat ragam tema seperti yang lainnya. Jenisnya sungguh tak kalah menarik. Tak kalah menariknya adalah jenis tema yang dipilih lebih berani dan kreatif. Sejak pagi sudah tampak peserta yang sudah berpakaian lengkap sesuai dengan tema. Apa sajakah? Ada yang berpakaian dan berpenampilan a la tokoh film Tarzan, pengusaha muda, pramugari, wanita Jepang dengan kimononya, sampai seperti salah satu tokoh film Matrix. Tema yang diangkat para peserta juga menunjukkan kreativitas yang berbeda-beda, mulai dari tema adat budaya seperti tokoh dalam kebudayaan Sunda sebagai Nyi Iteung, tema petualangan dengan berpakaian layaknya seorang petualang, budaya Jepang, film Matrix, perawat, dan lain-lain.

Salah satu peserta yang mengangkat tema unik adalah Fenni Fabrina, agent inbound yang mewakili PT. Holcim Indonesia, Tbk. Saat ditanya mengenai waktu persiapannya, ia hanya menjawab singkat, “Sebentar. Nggak sampai satu bulan.” Ia memilih tema mistis untuk dibawa saat presentasi. Penampilannya turut mendukung tema yang diangkat, terlihat jelas dari pakaian serba hitam legam berbentuk jubah panjang. Fenni memperkuat temanya dengan membawa tongkat hitam bak tokoh jahat dunia hitam yang sering muncul di film khayalan. Tak hanya tongkat sihir, perempuan berjilbab itu juga melengkapi penampilannya dengan mengenakan tutup kepala bertanduk seperti gambaran tokoh iblis. Totalitas!

Masih berwarna hitam-hitam, adalah Hanif Ardiawan, seorang agent social media dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., dengan mengambil tema futuristic, pria bertubuh tinggi ini berpenampilan menyerupai salah satu tokoh Matrix untuk dibawa dalam presentasinya. Ungkapan rasa lega tampak jelas saat ia selesai melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Berkali-kali ia menyeka keringatnya selepas keluar dari ruang presentasi sambil bercerita singkat terkait persiapannya yang juga tidak lebih dari satu bulan.

Suasana kali ini terlihat lebih santai sejak pagi sampai dengan sore hari, terbukti dengan adanya sorak sorai dari kawan-kawan tim yang turut hadir untuk memberikan dukungan. Dari kejauhan pun terdengar suara riuh para pendukung yang berseru memberikan semangat pada rekannya yang akan maupun selesai presentasi. Pendukung paling ramai adalah tim dari PT Pertamina (Persero). Tak hanya berseru, mereka juga membuat bunyi-bunyian menggunakan balon-balon berwarna merah yang saling diadukan hingga menimbulkan suara riuh yang menggema di ruangan Balai Kartini. Setiap kali ada rekan tim yang keluar dari ruang ujian, sontak mereka langsung bersorak dengan tak henti-hentinya memukulkan balon satu dengan balon lainnya hingga membuat suasana kian ramai untuk terus membakar semangat satu sama lain. Tim pendukung dari PT. Pertamina (Persero) ini tak hanya ramai karena suara-suaranya, melainkan juga mereka menunjukkan kekompakkan dengan berpenampilan berbeda dari yang lain. Jika sebagian besar tim pendukung lain memakai pakaian identitas perusahaan, tim dari Pertamina ini juga mengenakan seragam Pertamina, namun yang membuatnya lebih berbeda dari yang lain adalah tampilan dengan menambahkan rambut palsu berwarna-warni lengkap dengan styrofoam bertuliskan ‘Pertamina’.

Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)
Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)

Meskipun banyak pendukung yang berusaha menyemangati, tak lantas menghilangkan kegugupan para peserta presentasi. Dengan usaha untuk mengurangi dan menghilangkan rasa gugup karena akan memasuki ruang presentasi, mereka juga tetap harus menjaga ‘keutuhan’ tema yang akan mereka tunjukkan. Materi presentasi juga tetap harus mampu mereka sajikan dengan sempurna di hadapan para juri yang sudah berpengalaman. Tak sedikit yang bolak-balik ke kamar kecil, entah betul karena ingin buang air kecil atau untuk menghilangkan rasa gugup yang tak kunjung hilang.

Tidak hanya karena dewan juri yang berkualitas dan menguasai betul bidang layanan informasi pelanggan yang membuat nyali para peserta naik turun, jumlah dewan juri yang menguji pun mempengaruhi. Menurut pengakuan para peserta, dalam setiap ruang ujiannya, dewan juri yang memberikan penilaian berjumlah kurang lebih sepuluh dewan juri. Raut wajah para juri juga berperan utama dalam menggoyang mental, kemantapan dan keyakinan para peserta.

Saat keluar dari ruang presentasi, ada peserta yang menunjukkan ekspresi lega, senang, dan lepas. Mereka sangat bahagia karena mampu menjalani ujian presentasi dengan lancar dan tanpa hambatan. Selama berlangsungnya presentasi, peserta mampu menyajikan dengan baik tanpa kendala yang berarti. Para juri ada yang terlihat kagum dan memberikan penghargaan langsung seperti memberikan senyuman sembari bertepuk tangan, bahkan pelukan dari para juri usai presentasi ditutup oleh peserta. Bentuk penghargaan yang mungkin tampak sederhana, namun siapa sangka hadiah kecil tersebut mampu membangkitkan semangat dan keyakinan diri bagi para peserta. Alhasil, para peserta keluar dari ruang ujian dengan tangis haru bercampur senyum bahagia.

Walaupun terdapat kendala pada saat presentasi, ada juga peserta yang tetap percaya diri dan bersemangat, bahkan terlihat santai. Hal ini dikarenakan mereka merasa sudah cukup berusaha memberikan yang terbaik dalam ajang prestasi TBCCI 2015 ini. Berbicara tentang kendala pada saat presentasi, rupanya tak sedikit peserta yang mengalami hal serupa. Akibatnya, ada beberapa peserta yang tiba-tiba terdiam, lemas dan menunjukkan wajah sedih, tidak yakin, dan bahkan menangis. Pasrah

Menurut keterangan yang disampaikan oleh beberapa peserta yang enggan disebutkan namanya, hambatan pada saat presentasi muncul akibat gangguan teknis terkait sarana dan prasarana di ruang ujian presentasi. Contohnya, ada peserta yang harus menghentikan presentasi karena slide powerpoint tidak bergerak atau berjalan sebagaimana mestinya. Ada juga yang menyayangkan terjadinya kendala presentasi yang lain seperti musik dan video yang tidak terdengar atau tidak muncul. Hal-hal tersebut membuat para peserta patah semangat dan sangat tidak yakin akan lolos.

Setelah ujian presentasi selesai, para peserta sedikit demi sedikit meninggalkan Balai Kartini dengan perasaan yang bercampur aduk. Akhirnya ujian berhasil dilalui walau ada kendala yang memang harus dihadapi. Bagaimanapun hasilnya, usaha terbaik telah dilakukan oleh para peserta. Kini para pejuang contact center ini tinggal menunggu hasil penilaian juri.

Presentasi sebagai Cermin Jati Diri

Baru terlihat beberapa peserta saja yang datang dan segera melakukan pendaftaran ulang saat waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB. Suasana mulai berbeda di tahap kedua ajang prestasi yang diadakan oleh perhimpunan perusahaan yang memiliki pusat layanan informasi pelanggan, ICCA—Indonesia Contact Center Association, yang dijadwalkan akan diselenggarakan mulai 5-7 Mei 2015. Masih bertempat di Balai Kartini, Jakarta Selatan, kali ini ICCA menanti orang-orang yang mengenalkan wajah perusahaan melalui mereka yang terpilih untuk mewakili perusahaan. ­­­Mengapa wajah perusahaan? Karena, meskipun sifatnya perseorangan, namun tetap ada latar belakang yang menampilkan kemampuan pribadi terkait bidang kerja masing-masing di perusahaan.

Babak presentasi pertama yang diselenggarakan pada Selasa, 5 Mei 2015 ini diikuti puluhan perusahaan, mulai dari perusahaan perbankan, asuransi, transportasi darat dan udara, sampai pengiriman barang dan lain-lain. Beberapa diantaranya adalah PT. Telekomunikasi Indonesia tbk., PT. Adi Sarana Armada, PT. Kereta Api Indonesia, PT. Garuda Indonesia, PT. Indonesia Comnet Plus, PT. Bank Central Asia tbk., PT. Administrasi Medika, PT. Birotika Semesta atau DHL Express, Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan Direktorat, PT. Bank Mandiri (Persero) tbk., PT. Pertamina (Persero), dan lain-lain. Acara yang diawali pendaftaran ulang dan presentasi ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB pagi di tiga lantai, mulai lantai dasar sampai lantai tiga. Pesertanya memang tidak lebih banyak dari peserta ujian tulis sebelumnya, namun semangat dan ketegangannya tidak kalah kuat.

Hingga pukul 09.11 WIB, lantai dasar Balai Kartini kian dipadati peserta berpenampilan sangat menarik sesuai tema busana presentasi yang dipilih. Ada yang mengenakan batik, seragam beridentitas perusahaan, ada juga yang mengangkat tema olahraga, tokoh khayalan Batman, beladiri, adat budaya daerah, dan ragam tema yang lain.

Kostum tema presentasi
Kostum tema presentasi

Setelah mendaftar ulang, peserta langsung melihat daftar peserta lengkap dengan ruang dan waktu presentasi yang dilekatkan di sebuah papan di depan meja pendaftaran. Bagi para peserta yang mendapatkan jadwal lebih awal, mereka memusatkan pikiran sebaik-baiknya sembari berlatih lagi untuk melakukan gladi resik presentasi. Sebagian lainnya merias wajah dan menyiapkan penampilan agar lebih menarik.

Pada kesempatan kali ini, detak jantung para Team Leader, Supervisor, Quality Assurance, dan Trainer benar-benar terpacu. Pada kesempatan kali ini, para peserta harus berhadapan langsung dengan para dewan juri yang sudah ahli di bidangnya. Umumnya, dalam satu ruang presentasi dihadiri oleh kurang lebih sepuluh juri untuk setiap peserta. Juri-juri tersebut merupakan orang-orang berpengalaman dan mumpuni di bidang layanan informasi pelanggan atau contact center. Sejak tiba di Balai Kartini, sudah terlihat bagaimana persiapan matang para peserta yang tak juga mampu mengusir rasa gugup yang mendera. Ada saja upaya yang dilakukan untuk memantapkan sekaligus menyemangati diri. Ada yang menghafal sambil berjalan-jalan kesana kemari, ada yang mencari tempat tenang, ada pula yang diam untuk menenangkan diri. Semakin siang, pemandangan seperti itu semakin terlihat di setiap lantai. Seperti Mubyar N Khaliq yang terlihat serius mempersiapkan presentasi di layar laptop di hadapannya. Peserta dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia ini turut serta dalam ajang prestasi The Best Contact Center Indonesia 2015 dengan untuk kelompok trainer. Waktu persiapan yang singkat, yakni kurang lebih satu setengah bulan dengan masa pelatihan selama dua minggu, tidak membuatnya gentar. Bahkan ia sudah ada di Balai Kartini meskipun jadwal penyajiannya masih lebih dari dua jam lagi.

Mubyar N Khaliq, perwakilan dari PT Garuda Indonesia, Persero
Mubyar N Khaliq, perwakilan PT. Garuda Indonesia (Persero) yang sedang mempersiapkan presentasi

Sementara peserta yang tengah mempersiapkan diri, terlihat dua wanita cantik berseragam merah dipadukan dengan kemeja putih dan bawahan hitam. Adalah Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika ini terlihat lebih santai. Mereka tampak lega karena sudah berpresentasi di hadapan para juri. Mida, wanita bermata indah yang mengikuti TBCCI untuk kategori supervisor ini mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertama baginya mengikuti ajang seperti ini, “Ini baru pertama kali sih buat saya ikutan ICCA. Jadi ya seru aja.”, ujarnya sambil tersenyum. Pendapat Mida juga diiyakan oleh Elva, sejawatnya yang maju dengan kategori Team Leader. Rupanya tak hanya bagi Mida dan Elva, tahun 2015 ini merupakan tahun pertama bagi PT. Administrasi Medika atau yang biasa dikenal sebagai PT. Ad Medika, sebagai tahun pertama turut serta dalam ajang prestasi contact center yang diselenggarakan oleh ICCA. Meskipun baru pertama kalinya, namun mereka terlihat mantap mengikuti kegiatannya.

Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika
Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika

Kemantapan itu jugalah yang terpancar dari rekan-rekan dari BNI dan Indosat yang begitu ceria saling memberikan dukungan pada anggota timnya yang akan maupun sudah presentasi. Dukungan seperti itu sudah pasti menjadi energi baik yang mampu meningkatkan semangat tim untuk terus yakin akan pencapaian hasil terbaik. Presentasi diri bukan semata-mata tentang keindahan tampilan di layar atau keindahan kata, melainkan juga kejujuran tentang siapa sang penyaji dan apa yang bisa lakukan. Menjelang senja para peserta mulai meninggalkan Balai Kartini dengan membawa harapan untuk hasil memuaskan.

Supporter dari BNI
Pendukung dan peserta dari BNI
Supporter dari PT Indosat, Tbk
Pendukung dan peserta dari PT. Indosat, Tbk.