Hari Ketiga: Tangan-Tangan Tak Terlihat

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Pramoedya Ananta Toer

Para Pemburu Karya di TBCCI 2017

JAKARTA-KLIP DJP. Rabu, 26 Juni 2017. Seperti anak-anak yang sembunyi di balik daster kembang-kembang ibunya, matahari juga malu-malu pagi itu. Sinarnya lamat menerobos awan yang berarak. Tiris dan tipis. Jakarta telah memulai segenap keriuhannya sendiri. Sejak berjam-jam lalu, hingga berjam-jam nanti. Kalbis Institute juga tak lepas dari keriuhan itu. Membaca judul di atas, mungkin Anda berpikir tulisan ini akan mengulas tentang horor yang bersembunyi di gedung Kalbis Institute. Atau malah teringat Adam Smith, ekonom liberal yang dijuluki Bapak Ekonomi Modern itu?

Frasa tangan-tangan tak terlihat memang berasal dari Smith tetapi tulisan ini tak akan membahas tentangnya. Pun Kalbis Institute, gedung ini tak terlihat menyimpan horor sama sekali. Tulisan ini tetap akan membahas The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017 yang telah memasuki hari ketiga. Selain lomba individu yang telah banyak diulas, ada pula lomba talent yang hampir luput dari sorotan. Lomba talent yang diselenggarakan dari 24 sampai 27 Juli itu, terdiri dari kategori foto, video, dan writing. Itu yang sedang kita bicarakan.

***

Sudah menonton Dunkirk? Artistik betul, bukan?

Sisi artistik jugalah yang sedang dicari oleh Ius A Ganny setiap kali membuat video. Ia adalah peserta Kategori Video dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan, Direktorat Jenderal Pajak (KLIP DJP). Sedari pagi, Ius sudah sibuk keliling gedung, berburu angle dan adegan terbaik, berkenalan dengan peserta lain, melakukan wawancara, dan banyak lagi.

Ius A Ganny, ditemani dua kru, sedang merekam video.

“Sebenarnya waktu lomba itu, ingin cari pengalaman dan pengakuan sih. Saya suka membuat video. Saya tahu kalau video saya lumayan bagus. Tapi bener ga sih, orang lain berpikiran sama dengan saya? Dengan itu, cara tepat adalah mengikuti sebuah perlombaan. Kita bisa tahu betulkah karya kita bagus? Apa nggak? Dan kalaupun tidak, setidaknya dengan ajang ini kita bisa belajar,” ujarnya.

Pria pencinta film ini mengaku saingan terberatnya adalah peserta dari AHM karena mereka membawa lima kru.

Seperti Ius, Bustanul Maftuhin juga perwakilan dari KLIP DJP. Bedanya, ia mengikuti Kategori Fotografi. Jika tidak tahu ada kategori ini, mungkin saya telah menyangka Bustanul dan peserta lain adalah jurnalis betulan. Mereka mondar-mandir sepanjang lantai 6 dan 7, membidikkan kamera ke mana-mana. Ada yang cantik, jepret. Ada yang lagi make up, jepret. Ada yang menangis, jepret. Dan jepret-jepret lainnya yang tidak bisa dihitung jari.

“Motivasinya (red: ikut lomba) awalnya sih karena disuruh oleh kantor. Tapi sebenarnya juga karena saya emang suka jadi saya ingin membuktikan aja bahwa saya bisa,” katanya. Bustanul mengaku fotografi sudah menjadi hobinya sejak lama.

Jika fotografi adalah visual, videografi adalah audio-visual, maka menulis adalah seni merangkai kata dalam teks. Saya punya keyakinan, di tangan penulis hebat, tulisan sanggup menyampaikan emosi dan suasana lebih intim ketimbang video. Setidaknya itu yang saya rasakan setiap kali selesai menonton film yang diangkat dari novel. Kita tak akan kekurangan contoh tentang ini, sebut saja karya-karya Dan Brown atau Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Bukan tidak mungkin, di TBCCI 2017 ini, kita akan bertemu dengan Dan Brown atau Ahmad Tohari milenial, bukan?

Saya berkenalan dengan Deska Setia Perdana. Pria berkacamata bulat ini mewakili PT. Telekomunikasi Indonesia untuk dua kategori sekaligus, Writing dan Best of Best Back Office. Meski begitu, ia mengaku mudah mengatur tempo karena menulis dilakukan per tim. Sebelum berangkat, ia sudah mengobrol dengan temannya tentang formula menulis. Deska merupakan penulis yang produktif, khususnya puisi. Ia bahkan sudah membuahkan tiga belas antologi puisi. Salah satunya “Antologi Pendhopo 13”, diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah.

Peserta lain yang saya temui adalah Dona Adrian Yusma, perwakilan dari PT. Adhya Tirta Batam. Ya, Batam. Ia otomatis menjadi peserta yang berangkat dari tempat terjauh. Ternyata Dona seorang beauty blogger. Blog pribadinya bisa dikunjungi di Langkah Ketiga Puluh. Ketika ditanya saingan terberat, ia menganggap semua sama. Masing-masing memiliki karakter karena menulis pada dasarnya adalah bakat. Sungguh diplomatis.

Dona (kanan), salah satu talent writing, dalam sesi wawancara.

“Motivasi ikut lomba Writing ini sebenarnya menyalurkan hobi. Karena memang passion saya menulis, jadi yah mengikuti ini seperti jalan-jalan. Enjoy banget. Saya juga menulis buletin internal perusahaan, buletin departemen. Kalau departemen itu lebih spesifik ke contact center. Kemudian selain itu juga menulis di beberapa antologi khusus syair dan puisi,” kata Dona.

***

“Contact center itu kan orangnya kreatif, jadi tujuan menulis itu agar terbiasa untuk nulis, membuat laporan. Kan memang diperlukan ya. Kalau lomba foto itu kan seni ya. Video, kedepannya, sebenarnya kan kita tidak bisa pungkiri bahwa media komunikasi video itu sangat dibutuhkan. Foto juga. Sehingga dengan adanya ini, ya itu kan apresiasi buat mereka untuk bisa kreatif. Bahwa contact center itu tidak hanya duduk di belakang meja, tapi mereka juga bisa meliput, mengomunikasikan ke suatu media,” terang ketua Indonesia Contact Center Association (penyelenggara TBCCI), Andi Anugrah.

Sebenarnya lomba Talent sudah ada tahun lalu. Bedanya, penilaian tahun ini tak lagi semata-mata berdasarkan engagement di media sosial (seperti like, share, dan comment di Facebook dan Twitter). Tahun ini ada juri yang terdiri dari para wartawan, akademisi, dan praktisi. Mula-mula mereka akan menyeleksi sepuluh karya terbaik dari masing-masing kategori. Lalu sepuluh besar itu dikonteskan untuk perolehan engagement media sosial sebesar 20% dari total nilai. Andi mengatakan perubahan penilaian dilakukan karena ada masukan dari peserta. Dan merupakan perbaikan dari tahun sebelumnya.

Foto, video, dan menulis pada dasarnya sama. Ketiganya bertujuan mengabadikan peristiwa. Kita berusaha membekukan waktu di dalamnya, agar bisa menimang-nimangnya kembali sebagai kenangan lima atau sepuluh tahun kemudian. Seolah menjadi eskapisme atas ketakutan-ketakutan terdalam manusia pada kehilangan, pada ingatan yang mungkin saja berkhianat saat usia telah jompo. Kita bisa mengingat betapa dulu pernah ada yang diperjuangkan sekuat tenaga. Kita berusaha menolak lupa. Dengan ketiganya pula, pengalaman disebarkan. Masyarakat luas bisa mengetahui peristiwa yang tidak mereka saksikan langsung di Kalbis Institute.

Melalui tangan-tangan tak terlihat itu, TBCCI disiarkan dan diabadikan. (NND)