Hangat dan Semarak, The Best Contact Center Indonesia 2015

AstraWorld di Tengah Kemeriahan The Best Contact Center Indonesia 2015

AstraWorld - Partisipan The Best Contact Center Indonesia 2015

Balai Kartini di Pagi Hari.
Hari kedua, kompetisi sesi presentasi Contact Center Indonesia 2015, Rabu, 6 Mei 2015, makin memanas. Terlihat jelas dari antusiasme peserta yang telah datang dengan persiapan maksimal. Area ballroom Raflesia, Balai Kartini Jakarta kian riuh dengan kehadiran peserta kompetisi beserta supporter-nya masing-masing. Kehadiran para supporter ini selain memberikan dukungan moril bagi peserta, juga menambah semarak suasana kompetisi.

Parade Kostum.
Para peserta berlomba-lomba tampil maksimal. Tak cukup mempersiapkan materi presentasi, beberapa peserta juga mengenakan kostum unik untuk menunjang penampilan saat menyajikan materi. Di hari kedua sesi presentasi individual terlihat peserta yang mengenakan kostum-kostum yang menarik perhatian. Mulai dari kostum ala Tarzan, tokoh di film Maleficent, superhero, wayang orang, dalang, sampai pakaiaan khas beberapa daerah di Indonesia. Ada juga yang tetap berpenampilan formal dengan mengenakan setelan jas. Peserta berkostum unik ada yang terlihat agak kerepotan dengan kostum yang dikenakan, namun tetap menikmati penampilan yang berhasil mereka suguhkan.

Bukan tanpa alasan para peserta mengenakan kostum unik ini. Karena salah satu penilaian pada sesi presentasi kali ini adalah kesesuaian antara kostum yang digunakan dengan materi presentasi yang dibawakan. “Untuk presentasi kali ini, semua peserta memang disarankan menggunakan pakaian tematik sesuai materi presentasinya dan akan menjadi salah satu kriteria penilaian,” jelas Susan Amelia, salah satu perwakilan AstraWorld untuk kategori Back Office. Saat tampil untuk presentasi, Susan mengenakan baju adat Minangkabau, sehingga teman-temannya memanggilnya dengan sapaan Uni Susan.

Rekan Susan dari AstraWorld, Nietzsche Farenny yang akrab dipanggil Renny, mengenakan kostum penjual es krim untuk menunjang presentasinya. “Hari ini kami harus tampil all out supaya bisa menarik perhatian juri. Salah satu caranya dengan dandanan unik seperti ini,” terang Renny yang mewakili AstraWorld - Partisipan The Best Contact Center 2015AstraWorld di kategori Agent Inbound.

Astrini Yuditya, peserta kategori Agent English berhasil menarik perhatian juri. Ditemui usai melakukan presentasi, Astri panggilan akrab Astrini, menuturkan salah satu juri sempat berkomentar kalo kostumnya lucu.

“You are so cute”, kata Astrini menirukan ucapan salah satu juri. Astri tampil menggemaskan menyerupai tampilan anak kecil dengan rambut dikuncir dua, mengenakan celana overall, dan mengalungkan botol minum plastik yang sering digunakan pelajar taman kanak-kanak.

Riuhnya Para Supporter.
Jika para peserta bertarung di materi presentasi dan keunikan kostum yang digunakan. Supporter dari masing-masing perusahaan pun tak mau kalah. Sejak pagi suasana ruang tunggu di depan Ballroom Rafflesia riuh dengan para supporter. Beragam atribut mereka bawa dan gunakan untuk menyemangati para peserta yang berkompetisi. Balon tepuk aneka warna, bendera warna-warni, turut menyemarakan dan meramaikan suasana kompetisi.

Suasana makin semarak saat tiap suporter yang mendukung juga tidak mau kalah satu sama lain dalam memberikan dukungan. Tepuk tangan, yel-yel, dan sorak sorai seolah terus berkaitan tak ada habisnya. Saat peserta kompetisi akan memasuki atau keluar dari ruang presentasi, yel-yel dan sorak-sorak penyemangat mengiringi langkah para peserta.

It’s Show Time
Hari kedua sesi presentasi, atau hari ketiga seleksi individu, diikuti sekitar 179 peserta yang telah berhasil melalui seleksi awal berupa tes tertulis. Hari ini mereka berkesempatan menunjukkan kepiawaian mereka, meyakinkan para juri bahwa mereka layak menjadi yang terbaik dibidang contact center. Mereka berlomba menjadi yang terbaik untuk kategori Agent Inbound, Agent English, Agent Premium, Agent Social Media, dan Back Office.

Tepat pukul 09.00, kompetisi dimulai. Panitia yang bertugas di Ballroom Raflesia mulai memanggil nama-nama peserta yang harus memasuki ruang presentasi. Suara panggilan dari panitia seakan-akan berlomba-lomba dengan riuhnya suara peserta dan supporter di ruang tunggu Ballroom Rafflesia.

Para peserta The Best Contact Center Indonesia 2015 mulai memasuki arena kompetisi, yang tersebar di tiga tempat. Ballroom Rafflesia, Ruang Cempaka dan Ruang Anggrek. Suasana sedikit berbeda terjadi di ruang Anggrek dan Cempaka yang juga menjadi tempat berlangsungnya kompetisi. Kedua tempat yang berada di lantai 2 dan 3 Balai Kartini memang tak semeriah Ballroom Rafflesia. Peserta dan supporter tidak sebanyak di Ballroom Rafflesia.

Para peserta diberi waktu terbatas untuk menyajikan materi mereka di hadapan para juri. Hanya 15 menit untuk kategori agent. Waktu tersebut sudah mencakup presentasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan undian. Setiap peserta diharuskan menjawab pertanyaan undian yang diambil sendiri oleh setiap peserta dari dalam fishbowl.

Keluar dari ruang presentasi, berbagai ekspresi terpancar. Ada wajah yang masih menyisakan ketegangan, ada pula yang keluar dengan wajah lega dihiasi senyum optimis. Umumnya merasa lega usai presentasi.

“Lega rasanya, dan Alhamdulillah lancar presentasinya. Meskipun ada juri yang tampak dingin dan cuek saat saya presentasi,” ungkap Rani Apriantini, salah satu peserta kategori Agent Inbound Seat > 150.

Peserta yang keluar dari ruang presentasi mendapat sambutan meriah dari para pendukungnya. Suasana makin siang makin meriah Tak hanya peserta yang akan berlomba, para pendukung yang datang menyemangati pun juga ikut merasakan ketegangan yang sama. Raditya, salah satu pendukung tim AstraWorld, mengaku ikut tegang menunggu wakil-wakil AstraWorld keluar ruangan presentasi.

“Sebagai pendukung pastinya kami merasa ikut tegang. Apalagi ini pertama kalinya AstraWorld ikut The Best Contact Center Indonesia dan harus melawan perusahaan-perusahaan lain yang sudah berpengalaman. Namun kami yakin setiap dari mereka yang terpilih adalah yang terbaik. Kami tentunya berharap AstraWorld bisa memperoleh hasil maksimal di ajang The Best Contact Center Indonesia tahun ini,” kata Raditya

Keakraban Panitia dan Peserta.
Menjelang istirahat makan siang, kejadian tak biasa terjadi antara panitia dan peserta The Best Contact Center Indonesia 2015. Andi Anugrah, Direktur Telexindo yang menjadi penanggung jawab acara, tiba-tiba mengajak menyanyi para peserta yang menunggu di depan Ballroom Rafflesia. Berperan sebagai dirigen, Pak Andi begitu beliau biasa dipanggil, memberikan aba-aba kepada peserta untuk menghilangkan kejenuhan dengan menyanyikan lagu-lagu yang saat ini sedang hits.

AstraWorld - The Best Contact Center Indonesia 2015

Tak hanya mengajak menyanyi, menjelang akhir acara di hari kedua sesi presentasi, Andi Anugrah juga berbincang-bincang dengan salah satu supporter yang datang untuk mendukung kekasihnya. Dengan nada bercanda, Andi Anugrah pun menanyakan hubungan antara sang supporter dengan kekasihnya.

“Jadi kapan pacarnya dilamar?” tanya Andi Anugrah
“Sudah dilamar, Pak. Akhir Mei nanti akan dilangsungkan resepsinya,” jawab sang supporter.

Peserta dan supporter yang berada di Ballromm Rafflesia pun tidak dapat menahan tawa. Beberapa diantaranya bahkan bertepuk tangan menyaksikan adegan tersebut.

Tak berapa lama usai percakapan Andi Anugrah dengan sang supporter, kekasih yang ditunggu-tunggu keluar dari ruangan. Senyum tersungging di bibir sang supporter dan kekasihnya. Saksi mata yang berada di ruang tunggu Ballroom Rafflesia kembali bertepuk tangan menyaksikan adegan ini. Kali ini tepuk tangannya lebih meriah.

Balai Kartini Menjelang Senja.
Menjelang pukul 16.00 WIB sesi presentasi hari kedua usai sudah. Masih ada hari esok yang akan menjadi hari ketiga sesi presentasi sekaligus penutup seleksi individual The Best Contact Center Indonesia 2015.

Stay Tune & Wish Us Luck 🙂

AstraWorld - Partisipan The Best Contact Center 2015

Baca perjalanan kami di hari hari sebelumnya:

Lain Babak, Lain Cerita

Balai Kartini, Jakarta 6 Mei 2015 – Terik matahari mengantarkan senyum penuh gairah dan semangat para peserta The Best Contact Center Indonesia 2015 (TBCCI 2015). Masih di acara yang sama, ajang prestasi TBCCI 2015 yang diselenggarakan oleh ICCA–Indonesia Contact Center Association–ini masih berlanjut. Ujian presentasi dalam pemilihan calon juara TBCCI memang berlangsung selama tiga hari sejak dimulai pada Selasa, 5 Mei 2015 kemarin. Jika pada hari sebelumnya adalah jadwal presentasi untuk kelompok supervisor, team leader, quality assurance dan trainer, kali ini merupakan waktu unjuk diri bagi kelompok peserta yang lain. Pada tahap kedua di hari ke dua ini, para peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang dengan bangga dipercaya untuk mewakili perusahaan masing-masing. Adapun untuk nama-nama perusahaan yang ikut serta mengirimkan orang terpilihnya adalah perusahaan besar di Indonesia. Babak berikutnya masih dengan jenis ujian yang sama, yakni presentasi diri. Lantas apa yang berbeda? Perbedaannya adalah kelompok peserta yang hadir. Kategori Agent Inbound, Agent Premium, orang-orang yang berjibaku di bagian Back Office, dan Agent Social Media.

Rofiq Indra Suksmana, peserta dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Rofiq Indra Suksmana, perwakilan peserta Back Office dari PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk.
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk
Fenni Fabrina, peserta dari PT. Holcim Indonesia, Tbk. sebagai peserta Agent Inbound
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent social media
Hanif Ardiawan, peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai agent Social Media

Jumlah peserta dengan kategori berbeda ini memang tidak sama dengan tahap sebelumnya. Memang tidak lebih sedikit, justru lebih banyak dari sebelumnya. Sejak pagi para peserta mengisi daftar kehadiran untuk memastikan bahwa namanya betul-betul terdaftar atau dengan kata lain, tidak gugur saat ujian, dan mendapatkan jadwal presentasi berikut ruang ujiannya. Agent dari berbagai perusahaan itu juga mengangkat ragam tema seperti yang lainnya. Jenisnya sungguh tak kalah menarik. Tak kalah menariknya adalah jenis tema yang dipilih lebih berani dan kreatif. Sejak pagi sudah tampak peserta yang sudah berpakaian lengkap sesuai dengan tema. Apa sajakah? Ada yang berpakaian dan berpenampilan a la tokoh film Tarzan, pengusaha muda, pramugari, wanita Jepang dengan kimononya, sampai seperti salah satu tokoh film Matrix. Tema yang diangkat para peserta juga menunjukkan kreativitas yang berbeda-beda, mulai dari tema adat budaya seperti tokoh dalam kebudayaan Sunda sebagai Nyi Iteung, tema petualangan dengan berpakaian layaknya seorang petualang, budaya Jepang, film Matrix, perawat, dan lain-lain.

Salah satu peserta yang mengangkat tema unik adalah Fenni Fabrina, agent inbound yang mewakili PT. Holcim Indonesia, Tbk. Saat ditanya mengenai waktu persiapannya, ia hanya menjawab singkat, “Sebentar. Nggak sampai satu bulan.” Ia memilih tema mistis untuk dibawa saat presentasi. Penampilannya turut mendukung tema yang diangkat, terlihat jelas dari pakaian serba hitam legam berbentuk jubah panjang. Fenni memperkuat temanya dengan membawa tongkat hitam bak tokoh jahat dunia hitam yang sering muncul di film khayalan. Tak hanya tongkat sihir, perempuan berjilbab itu juga melengkapi penampilannya dengan mengenakan tutup kepala bertanduk seperti gambaran tokoh iblis. Totalitas!

Masih berwarna hitam-hitam, adalah Hanif Ardiawan, seorang agent social media dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., dengan mengambil tema futuristic, pria bertubuh tinggi ini berpenampilan menyerupai salah satu tokoh Matrix untuk dibawa dalam presentasinya. Ungkapan rasa lega tampak jelas saat ia selesai melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Berkali-kali ia menyeka keringatnya selepas keluar dari ruang presentasi sambil bercerita singkat terkait persiapannya yang juga tidak lebih dari satu bulan.

Suasana kali ini terlihat lebih santai sejak pagi sampai dengan sore hari, terbukti dengan adanya sorak sorai dari kawan-kawan tim yang turut hadir untuk memberikan dukungan. Dari kejauhan pun terdengar suara riuh para pendukung yang berseru memberikan semangat pada rekannya yang akan maupun selesai presentasi. Pendukung paling ramai adalah tim dari PT Pertamina (Persero). Tak hanya berseru, mereka juga membuat bunyi-bunyian menggunakan balon-balon berwarna merah yang saling diadukan hingga menimbulkan suara riuh yang menggema di ruangan Balai Kartini. Setiap kali ada rekan tim yang keluar dari ruang ujian, sontak mereka langsung bersorak dengan tak henti-hentinya memukulkan balon satu dengan balon lainnya hingga membuat suasana kian ramai untuk terus membakar semangat satu sama lain. Tim pendukung dari PT. Pertamina (Persero) ini tak hanya ramai karena suara-suaranya, melainkan juga mereka menunjukkan kekompakkan dengan berpenampilan berbeda dari yang lain. Jika sebagian besar tim pendukung lain memakai pakaian identitas perusahaan, tim dari Pertamina ini juga mengenakan seragam Pertamina, namun yang membuatnya lebih berbeda dari yang lain adalah tampilan dengan menambahkan rambut palsu berwarna-warni lengkap dengan styrofoam bertuliskan ‘Pertamina’.

Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)
Tim pendukung PT. Pertamina (Persero)

Meskipun banyak pendukung yang berusaha menyemangati, tak lantas menghilangkan kegugupan para peserta presentasi. Dengan usaha untuk mengurangi dan menghilangkan rasa gugup karena akan memasuki ruang presentasi, mereka juga tetap harus menjaga ‘keutuhan’ tema yang akan mereka tunjukkan. Materi presentasi juga tetap harus mampu mereka sajikan dengan sempurna di hadapan para juri yang sudah berpengalaman. Tak sedikit yang bolak-balik ke kamar kecil, entah betul karena ingin buang air kecil atau untuk menghilangkan rasa gugup yang tak kunjung hilang.

Tidak hanya karena dewan juri yang berkualitas dan menguasai betul bidang layanan informasi pelanggan yang membuat nyali para peserta naik turun, jumlah dewan juri yang menguji pun mempengaruhi. Menurut pengakuan para peserta, dalam setiap ruang ujiannya, dewan juri yang memberikan penilaian berjumlah kurang lebih sepuluh dewan juri. Raut wajah para juri juga berperan utama dalam menggoyang mental, kemantapan dan keyakinan para peserta.

Saat keluar dari ruang presentasi, ada peserta yang menunjukkan ekspresi lega, senang, dan lepas. Mereka sangat bahagia karena mampu menjalani ujian presentasi dengan lancar dan tanpa hambatan. Selama berlangsungnya presentasi, peserta mampu menyajikan dengan baik tanpa kendala yang berarti. Para juri ada yang terlihat kagum dan memberikan penghargaan langsung seperti memberikan senyuman sembari bertepuk tangan, bahkan pelukan dari para juri usai presentasi ditutup oleh peserta. Bentuk penghargaan yang mungkin tampak sederhana, namun siapa sangka hadiah kecil tersebut mampu membangkitkan semangat dan keyakinan diri bagi para peserta. Alhasil, para peserta keluar dari ruang ujian dengan tangis haru bercampur senyum bahagia.

Walaupun terdapat kendala pada saat presentasi, ada juga peserta yang tetap percaya diri dan bersemangat, bahkan terlihat santai. Hal ini dikarenakan mereka merasa sudah cukup berusaha memberikan yang terbaik dalam ajang prestasi TBCCI 2015 ini. Berbicara tentang kendala pada saat presentasi, rupanya tak sedikit peserta yang mengalami hal serupa. Akibatnya, ada beberapa peserta yang tiba-tiba terdiam, lemas dan menunjukkan wajah sedih, tidak yakin, dan bahkan menangis. Pasrah

Menurut keterangan yang disampaikan oleh beberapa peserta yang enggan disebutkan namanya, hambatan pada saat presentasi muncul akibat gangguan teknis terkait sarana dan prasarana di ruang ujian presentasi. Contohnya, ada peserta yang harus menghentikan presentasi karena slide powerpoint tidak bergerak atau berjalan sebagaimana mestinya. Ada juga yang menyayangkan terjadinya kendala presentasi yang lain seperti musik dan video yang tidak terdengar atau tidak muncul. Hal-hal tersebut membuat para peserta patah semangat dan sangat tidak yakin akan lolos.

Setelah ujian presentasi selesai, para peserta sedikit demi sedikit meninggalkan Balai Kartini dengan perasaan yang bercampur aduk. Akhirnya ujian berhasil dilalui walau ada kendala yang memang harus dihadapi. Bagaimanapun hasilnya, usaha terbaik telah dilakukan oleh para peserta. Kini para pejuang contact center ini tinggal menunggu hasil penilaian juri.

Tukang Mie Ayam Sampai Bill Gates: Kekuatan Pagi Itu.. Maha Dahsyat

Sering melintas di Jalan Raya TB Simatupang? Terutama lintasan jalan yang menuju ke arah Pasar Minggu, dari arah Cilandak. Di situ, setiap pagi ada tukang jualan mie ayam, yang bisa dibilang tidaklah sangat ramai pembeli, pun tidak sedikit pelanggannya. Betul sekali, dia tidak miskin pelanggan tapi tidak pula membludak oleh yang ingin beli. Yang pasti, rasa mie ayam yang disuguhkan Bapak Penjual, memang mantap.

Para peserta dari BICARA 131
Para peserta dari BICARA 131

Tapi eits..! Mohon maaf, BICARA 131 tidak memusatkan perhatian pada lokasi tepatnya si penjual mie ayam tersebut. Juga tidak memaparkan rasa mie ayam itu secara lebih terperinci. Karena tulisan ini bukan ajang jualan mie ayam ala BICARA 131. Bila penasaran dengan mie ayam tersebut, baiknya tanyakan orang-orang di sekitar situ yang tentu sudah mengenalnya. Yang ingin BICARA 131 ungkap, adalah prinsip si Bapak Penjual mie ayam, yakni kenapa harus pagi-pagi buta dia berjualan, “Tapi ternyata pagi-pagi begini pembeli sudah banyak ya Pak?”

“Ya, karena ini adalah jaminan dari Dia. Siapa yang ragu dengan jaminan dari Yang Maha Kaya?” ungkap di Bapak Penjual sambil meracik mie ayam.

“Saya bingung Pak, jaminan apa?”

“Hehe, saya cerita saja ya, sambil saya melayani pembeli.”

“Silakan Pak, jangan direpotkan oleh pertanyaan saya. Cuma saya penasaran jadinya. Saya cuma iseng saja, karena biasanya tukang mie ayam buka siang.”

“Jadi begini, anu Dik, saya itu, bla, bla, bla …….”

Si Bapak Penjual pun bercerita cukup panjang tentang bangun pagi. Dan singkat cerita, pada intinya apa yang dia ceritakan memang telah dibuktikan oleh banyak orang sukses tingkat atas dunia, seperti Bill Gates, Raja Fahd bin Abdul Aziz, hingga yang paling dekat dengan rakyat Indonesia, Presiden Joko Widodo. Menurutnya, awal pagi adalah saat dimana sumber kekuatan terbuka luas. Si Bapak Penjual menerangkan melalui tilik ajar Islam, karena kebetulan dia muslim.

“Karena duapertiga malam menjelang matahari terbit, Allah turun menyapa mahlukNya dengan caraNya yang Maha Hebat. Saya selalu bangun di duapertiga malam. Sebelum bekerja, terus terang saja, kadang saya shalat malam dan berdoa meminta kepadaNya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi diri ini. Kalau tidak capek, saya melakukan itu. Tapi kalau capek, saya tidak. Tapi yang pasti, menurut saya berdasarkan apa yang saya alami, Allah senang disambut oleh mahlukNya. Mereka yang berkorban untuk berupaya terjaga dari tidur nyamannya ketika Dia datang di duapertiga malam, mungkin menurut saya, dianggap Allah sebagai upaya menyambutNya. Itulah sebabnya mereka yang bangun lebih awal bersama denganNya hingga matahari terbit, kerap mendapat kekuatan tersendiri.”

Namun apa kekuatan yang dimaksud? Apakah kekuatan finansial? Bila memang finansial, seharusnya tukang mie ayam itu kaya raya. Bila kekuatan fisik, seharusnya dia tak perlu jadi tukang mie ayam, tapi jadi saja pasukan khusus yang perkasa di segala medan. Nah lalu apa kekuatan yang dimaksud si Bapak Penjual?

“Kekuatan yang saya rasakan, yang sangat dahsyat adalah saya dan anak buah saya di sini, belum pernah jatuh sakit. Anda lihat sendiri, kami tidak pernah tutup, tidak pernah mengecewakan pelanggan yang sengaja datang ke sini pagi-pagi dan berharap kami buka. Kekuatan kedua, seperti yang Anda lihat, dalam sehari, 15 mangkok adalah niscaya. Padahal banyak tukang mie ayam lain yang berharap sehari 5 mangkok saja sudah senang. Kenapa kok ada saja pembeli mie ayam di pagi hari? Saya tidak tahu, karena itu datang dari Allah, saya tidak mengaturnya. Dan kekuatan-kekuatan lainnya yang saya simpulkan adalah berkat kekuatan pagi,” papar sang penjual.

Percaya atau tidak, apa yang dia ucapkan juga merupakan prinsip hidup Bill Gates, Raja Fahd, Jokowi dan orang sukses lainnya. Bahwa siapapun yang bisa meraih kekuatan pagi, niscaya banyak manfaatnya. Bank Indonesia pun sama, tidak akan menyia-nyiakan kekuatan pagi.

Pada ajang kompetisi The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2015, tentang kekuatan pagi ini salah satu peserta dari Bank Indonesia Call and Interaction (BICARA) 131 Irfan Rahman menjelaskan kepada para dewan juri. Perlu diketahui, para peserta mempresentasikan paparannya masing-masing sesuai dengan pertanyaan yang didapatnya dari fishbowl yakni kumpulan pertanyaan di dalam sebuah wadah kaca. Irfan Rahman mendapat fishbowl yang menanyakan kepadanya tentang apa manfaat datang pagi ke kantor.

Indri Kaniasari (kiri) dan Irfan Rahman (kanan)
Indri Kaniasari (kiri) dan Irfan Rahman (kanan)

Menurut Irfan, selain untuk tanggung jawab diri terhadap pekerjaan, juga menjaga prestasi yang disuguhkan oleh Bank Indonesia, yaitu insentif kehadiran. “Kami di tim BICARA 131 sangat senang dengan adanya insentif kehadiran bagi mereka yang datang lebih awal. Ini adalah wujud menghargai bentuk upaya seseorang. Insentif ini juga ibarat rejeki khusus,” ungkapnya sumringah.

Demi Pelanggan

Ulasan di atas adalah sekelumit manfaat yang didapat dari ajang kompetisi TBCCI 2015. Ini adalah tulisan ketiga yang kami ‘racik’ dari banyak hal-hal menarik dan bermanfaat yang terjadi dari ajang ini. Pada hari kedua ajang presentasi individu TBCCI 2015, masih seperti kemarin para peserta memaparkan segala hal yang berkaitan dengan job description mereka, di perusahaan masing-masing. Namun bila kemarin pesertanya adalah mereka yang di level Trainer, Team Leader (TL) Inbound, Manager Inbound, Supervisor (Spv), dan Quality Assurance (QA), hari ini pesertanya adalah Agent Inbound, Agent Premium, Agent English, Agent Social Media, dan Back Office.

Mereka mempresentasikan di hadapan dewan juri dengan cara-cara unik. Salah satu yang menarik perhatian di Balai Kartini, Jakarta Selatan, tempat ajang TBCCI 2015 dihelat, adalah munculnya sesosok pemuda berjubah dan bertopeng. Tampak seperti ksatria malam alias The Dark Knight, pahlawan fiktif yang terkenal di Amerika Serikat. Alih-alih ksatria malam, tapi dia muncul di pagi hari, kala sang surya menyebarkan hangat ke tubuh. Sang pahlawan kepagian itu hadir di Ballroom Rafflesia Balai Kartini, tentunya dengan penjelasan tersendiri.

Sulhadi, sang pahlawan kepagian..
Sulhadi, sang pahlawan kepagian..

Dia adalah Sulhadi, salah satu peserta Kategori Inbound seat > 150 dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Menurutnya, topeng yang dibawanya dan dikenakan di hadapan dewan juri, adalah pengibaratan dari bagaimana mengesampingkan sejenak hal negatif dari dalam diri. Karena namanya manusia, tentu tak luput dari masalah dan setiap orang berbeda cara menangani masalahnya masing-masing. Sulhadi memaksudkan, topeng adalah filtrasi pengaruh buruk yang datang dari permasalahan yang menimpa dirinya. Dia tak ingin, orang yang dia layani bisa melihat masalah pada dirinya. Itulah makna topeng tersebut. Karena tuntutan di dunia call center adalah bagaimana bisa mengesampingkan masalah pribadi untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik ke pelanggan.

Dan tak cukup sampai di situ, topeng yang dipilihnya pun bukan topeng yang menakutkan. Karena meskipun bertabir topeng, namun orang tidak melihatnya sebagai pengalihan atau upaya menutup-nutupi diri. “Bukan menjadi orang lain, tapi mampu meletakkan masalah dan hadir menjadi pribadi yang ceria, yang baik, sesuai kebutuhan pelanggan. Orang pun melihatnya sebagai sosok menyenangkan,” ungkap Sulhadi. Sehingga meski dalam tekanan masalah internal, namun dia tetap bisa menambah kawan di luar sana. Inspirasi topeng, lanjut Sulhadi, hadir dari kondisi di mana orang biasanya memiliki konotasi yang buruk terhadap topeng. Tapi menurut pria yang baru pertama kali ini mengikuti ajang TBCCI ini, topeng dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat dalam memberikan pelayanan ke palanggan.

Siap melompat lebih tinggi, mendapat kawan lebih banyak.
Siap melompat lebih tinggi, mendapat kawan lebih banyak.

Lain dengan Sulhadi, ada Indri Kaniasari dari BICARA 131. Indri Kaniasari sebagai peserta Kategori Inbound seat < 30, memiliki tema menyelesaikan permasalahan dengan bercermin dari permainan rubik. “Penemu permainan rubik Ernő Rubik mengatakan bahwa hakikat rubik adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah dalam situasi yang rumit,” ungkap Indri Kaniasari. Secara riil, medan tugas contact center akan menjadi rumit bila ditangani dengan tidak sabar, tidak terstruktur, dan tidak terlatih. “Bila Anda lihat, orang-orang yang mampu menyusun kembali rubik yang terpencar dengan waktu yang cepat adalah mereka yang sabar dan terlatih dengan terstruktur. Inilah yang saya lakukan di BICARA 131, memberikan yang terbaik demi pelanggan,” ucap Indri Kaniasari menutup kisah BICARA 131 hari ini. Selanjutnya, tunggu cerita BICARA 131 berikutnya dalam ajang bergengsi TBCCI 2015.

Presentasi sebagai Cermin Jati Diri

Baru terlihat beberapa peserta saja yang datang dan segera melakukan pendaftaran ulang saat waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB. Suasana mulai berbeda di tahap kedua ajang prestasi yang diadakan oleh perhimpunan perusahaan yang memiliki pusat layanan informasi pelanggan, ICCA—Indonesia Contact Center Association, yang dijadwalkan akan diselenggarakan mulai 5-7 Mei 2015. Masih bertempat di Balai Kartini, Jakarta Selatan, kali ini ICCA menanti orang-orang yang mengenalkan wajah perusahaan melalui mereka yang terpilih untuk mewakili perusahaan. ­­­Mengapa wajah perusahaan? Karena, meskipun sifatnya perseorangan, namun tetap ada latar belakang yang menampilkan kemampuan pribadi terkait bidang kerja masing-masing di perusahaan.

Babak presentasi pertama yang diselenggarakan pada Selasa, 5 Mei 2015 ini diikuti puluhan perusahaan, mulai dari perusahaan perbankan, asuransi, transportasi darat dan udara, sampai pengiriman barang dan lain-lain. Beberapa diantaranya adalah PT. Telekomunikasi Indonesia tbk., PT. Adi Sarana Armada, PT. Kereta Api Indonesia, PT. Garuda Indonesia, PT. Indonesia Comnet Plus, PT. Bank Central Asia tbk., PT. Administrasi Medika, PT. Birotika Semesta atau DHL Express, Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan Direktorat, PT. Bank Mandiri (Persero) tbk., PT. Pertamina (Persero), dan lain-lain. Acara yang diawali pendaftaran ulang dan presentasi ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB pagi di tiga lantai, mulai lantai dasar sampai lantai tiga. Pesertanya memang tidak lebih banyak dari peserta ujian tulis sebelumnya, namun semangat dan ketegangannya tidak kalah kuat.

Hingga pukul 09.11 WIB, lantai dasar Balai Kartini kian dipadati peserta berpenampilan sangat menarik sesuai tema busana presentasi yang dipilih. Ada yang mengenakan batik, seragam beridentitas perusahaan, ada juga yang mengangkat tema olahraga, tokoh khayalan Batman, beladiri, adat budaya daerah, dan ragam tema yang lain.

Kostum tema presentasi
Kostum tema presentasi

Setelah mendaftar ulang, peserta langsung melihat daftar peserta lengkap dengan ruang dan waktu presentasi yang dilekatkan di sebuah papan di depan meja pendaftaran. Bagi para peserta yang mendapatkan jadwal lebih awal, mereka memusatkan pikiran sebaik-baiknya sembari berlatih lagi untuk melakukan gladi resik presentasi. Sebagian lainnya merias wajah dan menyiapkan penampilan agar lebih menarik.

Pada kesempatan kali ini, detak jantung para Team Leader, Supervisor, Quality Assurance, dan Trainer benar-benar terpacu. Pada kesempatan kali ini, para peserta harus berhadapan langsung dengan para dewan juri yang sudah ahli di bidangnya. Umumnya, dalam satu ruang presentasi dihadiri oleh kurang lebih sepuluh juri untuk setiap peserta. Juri-juri tersebut merupakan orang-orang berpengalaman dan mumpuni di bidang layanan informasi pelanggan atau contact center. Sejak tiba di Balai Kartini, sudah terlihat bagaimana persiapan matang para peserta yang tak juga mampu mengusir rasa gugup yang mendera. Ada saja upaya yang dilakukan untuk memantapkan sekaligus menyemangati diri. Ada yang menghafal sambil berjalan-jalan kesana kemari, ada yang mencari tempat tenang, ada pula yang diam untuk menenangkan diri. Semakin siang, pemandangan seperti itu semakin terlihat di setiap lantai. Seperti Mubyar N Khaliq yang terlihat serius mempersiapkan presentasi di layar laptop di hadapannya. Peserta dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia ini turut serta dalam ajang prestasi The Best Contact Center Indonesia 2015 dengan untuk kelompok trainer. Waktu persiapan yang singkat, yakni kurang lebih satu setengah bulan dengan masa pelatihan selama dua minggu, tidak membuatnya gentar. Bahkan ia sudah ada di Balai Kartini meskipun jadwal penyajiannya masih lebih dari dua jam lagi.

Mubyar N Khaliq, perwakilan dari PT Garuda Indonesia, Persero
Mubyar N Khaliq, perwakilan PT. Garuda Indonesia (Persero) yang sedang mempersiapkan presentasi

Sementara peserta yang tengah mempersiapkan diri, terlihat dua wanita cantik berseragam merah dipadukan dengan kemeja putih dan bawahan hitam. Adalah Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika ini terlihat lebih santai. Mereka tampak lega karena sudah berpresentasi di hadapan para juri. Mida, wanita bermata indah yang mengikuti TBCCI untuk kategori supervisor ini mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertama baginya mengikuti ajang seperti ini, “Ini baru pertama kali sih buat saya ikutan ICCA. Jadi ya seru aja.”, ujarnya sambil tersenyum. Pendapat Mida juga diiyakan oleh Elva, sejawatnya yang maju dengan kategori Team Leader. Rupanya tak hanya bagi Mida dan Elva, tahun 2015 ini merupakan tahun pertama bagi PT. Administrasi Medika atau yang biasa dikenal sebagai PT. Ad Medika, sebagai tahun pertama turut serta dalam ajang prestasi contact center yang diselenggarakan oleh ICCA. Meskipun baru pertama kalinya, namun mereka terlihat mantap mengikuti kegiatannya.

Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika
Mida dan Elva, perwakilan dari PT. Administrasi Medika

Kemantapan itu jugalah yang terpancar dari rekan-rekan dari BNI dan Indosat yang begitu ceria saling memberikan dukungan pada anggota timnya yang akan maupun sudah presentasi. Dukungan seperti itu sudah pasti menjadi energi baik yang mampu meningkatkan semangat tim untuk terus yakin akan pencapaian hasil terbaik. Presentasi diri bukan semata-mata tentang keindahan tampilan di layar atau keindahan kata, melainkan juga kejujuran tentang siapa sang penyaji dan apa yang bisa lakukan. Menjelang senja para peserta mulai meninggalkan Balai Kartini dengan membawa harapan untuk hasil memuaskan.

Supporter dari BNI
Pendukung dan peserta dari BNI
Supporter dari PT Indosat, Tbk
Pendukung dan peserta dari PT. Indosat, Tbk.