Presentasi Lomba Individu

Setiap peserta yang sudah dinyatakan lolos pada seleksi pertama berupa ujian tertulis, maka akan menjadi peserta tahap kedua. Dalam tahap kedua ini, peserta diharapkan dapat melakukan presentasi dengan baik dihadapan dewan juri. Tentunya dengan terlebih dahulu menyiapkan materi presentasi yang sesuai dengan template yang diberikan panitia.

Namun tidak semua peserta ujian tertulis akan lolos ke tahap kedua. Jika peserta dari perusahaan yang sama lebih dari 3 (tiga) orang yang lolos ke tahap kedua, maka pemilihan peserta yang lolos tahap kedua adalah minimum 3 (tiga) peserta dan maksimum 5 (lima) orang, yang ditentukan oleh nilai tertinggi atau sesuai dengan keputusan perusahaan yang mengirimkan. Upaya ini dilakukan untuk memberikan batasan peserta yang berlomba dari perusahaan yang sama.

Pada dasarnya acuan untuk menyiapkan materi presentasi adalah urutan materi harus sesuai dengan urutan pada template. Hal ini akan memudahkan bagi dewan juri untuk memberikan penilaian pada saat presentasi sedang berlangsung. Dalam menyiapkan materi presentasi, peserta dapat menambah jumlah halaman powerpoint, namun tidak bisa mengurangi jumlah halaman. Begitu juga Peserta dapat menambahkan dengan gambar atau video dalam format mpeg atau windows media file (wmv). Materi presentasi yang disiapkan dalam bentuk Microsoft Powerpoint atau setara dengan ukuran slide standard (4:3) dengan mengikuti ketentuan template.

Berhubung banyaknya file presentasi yang dikirimkan selama lomba, maka panitia menetapkan format nama file yang dapat digunakan peserta. Materi presentasi harus dikirimkan ke panitia dengan format nama file [kategori][namaperusahaan][namapeserta].pptx melalui email atau dikirimkan langsung ke sekretariat lomba sesuai jadwal yang ditetapkan.

Penilaian tahap kedua adalah presentasi peserta sesuai dengan template materi presentasi yang telah disiapkan dan akan memperhatikan beberapa aspek. Yang pertama adalah penampilan, meliputi gerakan tangan, cara berdiri, ekspresi wajah, kepercayaan diri selama membawakan presentasi. Kedua, kemampuan untuk menjelaskan materi presentasi, sehingga dewan juri memahami kreativitas dan pencapaian kinerja yang telah dilakukan. Ketiga, kemampuan peserta dalam menyampaikan pendapat, sehingga dewan juri menangkap pesan yang disampaikan dalam presentasi serta keempat kemampuan menjawab pertanyaan fishbowl.

Materi Presentasi yang harus disiapkan bagi Level Agent terdiri dari profil peserta, tantangan dan kreativitas dalam pelayanan, pengembangan kemampuan yang telah dilakukan selama 1 tahun terakhir. Agent juga diharapkan menyampaikan minimal 4 pencapaian kinerja dalam kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir, serta motivasi diri dalam mengembangkan pelayanan.

Materi Presentasi untuk Level Leader terdiri dari profil, jenjang karir, tantangan dan kreativitas dalam pelayanan, latar belakang program kerja, kreativitas dalam program kerja, hasil atau manfaat dari program kerja yang telah dilaksanakan, kretivitas dalam managemen bawahan, pencapaian kinerja dalam kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir dan motivasi dalam mengembangkan pelayanan.

Khusus untuk level IT Support, Quality Assurance, Desk Control dan Trainer penilaian presentasi akan memperhatikan aspek program kerja. Sebagai pendukung operasional contact center, peserta kategori ini diharapkan mempresentasikan salah satu program kerja yang telah dilaksanakan. Begitu juga untuk level Team Leader, Supervisor dan Manager, penilaian presentasi juga memperhatikan aspek program kerja dan manajemen bawahan.

Waktu yang disediakan untuk melakukan presentasi dan menjawab pertanyaan fish-bowl bervariasi sesuai dengan kategori yang diikuti. Untuk level Agent Inbound, Agent Premium, Back Office, Telesales, Telemarketing dan Customer Service selama maksimal 15 (lima belas) menit. Untuk level Team Leader, Agent Social Media, Best of The Best Agent, Best of The Best Back Office, dan Best of The Best Customer Service selama maksimal 20 (dua puluh) menit.

Untuk level Desk Control dan Quality Assurance, Supervisor, IT Support dan Best of The Best Team Leader selama maksimal 25 (dua puluh lima) menit. Untuk level Trainer dan Manager selama maksimal 30 (tiga puluh) menit. Setiap peserta diberikan waktu 5 (lima) menit untuk melakukan uji coba materi presentasi sebelum melakukan presentasi.

Semua presentasi dibawakan dalam Bahasa Indonesia, kecuali untuk kategori Agent English dan Manager. Semua presentasi akan dilaksanakan dihadapan Dewan Juri votelock, kecuali untuk level Manager akan dilaksanakan dihadapan Dewan Juri Internasional dan pelaksanaannya akan dilaksanakan secara terpisah.

Pada akhir presentasi, peserta wajib menjawab pertanyaan yang diambil secara acak dari fish-bowl yang disediakan oleh panitia. Jumlah pertanyaan fish-bowl adalah 1 (satu) pertanyaan untuk semua kategori. Dewan juri votelock tidak boleh memberikan pertanyaan kepada peserta, kecuali 1 (satu) pertanyaan fish-bowl selama proses penjurian. Materi pertanyaan fish-bowl adalah pertanyaan khusus mengenai contact center dan customer service.

Selama presentasi peserta hanya diperkenankan menggunakan busana branding perusahaan atau busana bisnis formal dan dilarang menggunakan perlengkapan tambahan yang melekat pada tubuh. Selama presentasi peserta diperkenankan membawa alat bantu yang sesuai dengan kegiatan pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari ajang The Best Contact Center Indonesia menjadi ajang peragaan busana.

Penilaian dewan juri akan menggunakan formulir penilaian yang disediakan oleh panitia dengan nilai tertinggi 7 (tujuh) untuk setiap paramater. Sesuai dengan model penilaian dan pembobotan yang ditentukan panitia, maka setiap peserta akan mendapatkan nilai total dengan skala 0 – 100. Hasil penilaian peserta individual dari tahap pertama berupa test tertulis dan kedua berupa presentasi akan dijumlahkan. Komposisi penilaian dengan bobot 70% untuk presentasi dan 30% untuk Test Tertulis. (AA)

Artikel “Presentasi Lomba Individu” merupakan liputan utama iCallCenter Edisi 01/2019.

Kisah Smart Team KAI: Duka Cita, Tim Dadakan dan Sebuah Harapan

Aroma kompetisi masih terasa di lantai tujuh Kalbis Institute di kawasan Pulomas Jakarta Timur. Hari ini (12/07) The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) masih berlanjut dengan mempertandingkan kategori Teamwork yang terdiri dari Smart Team (diikuti 17 tim), Scheduling (diikuti 10 tim), Reporting (diikuti 13 tim), Business Process (diikuti 8 tim) dan Quality (diikuti 16 tim).

Dalam kesempatan ini PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengirimkan timnya untuk mengikuti lomba pada masing-masing kategori diatas. Namun ada yang spesial pada tim PT KAI. Untuk kategori Smart Team yang sedianya diwakili oleh Burhanuddin dan Muhammad Resa. Sehari sebelum hari H perlombaan Burhanuddin menerima kabar duka dari Makassar, sang Ibunda telah berpulang, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk tetap berpartisipasi pada lomba kali ini.

Sedangkan Muhammad Resa setelah hampir seminggu penuh menjadi bagian dari panel juri di kategori individual TBCCI 2018, mengalami occupational fatigue (kelelahan bekerja) sehingga membutuhkan waktu untuk beristirahat di rumahnya.

Kami sempat panik untuk mencari peserta pengganti untuk kedua orang tersebut. Karena kejadiannya sudah last minute banget”, cetus Elmina Risa, Manager Call Center 121 dalam wawancaranya bersama kami. Namun bukan PT KAI namanya jika tidak bisa menemukan solusi, bahkan dalam keadaan genting sekalipun. “Akhirnya kami memutuskan Asmara dan Hanefi untuk menggantikan mereka berdua”, lanjut Elmina.

Smart Team KAI, Asmara & Hanefi.

Bukan tanpa alasan manajemen menunjuk mereka berdua dalam kompetisi ini. Karena walaupun latar belakang pekerjaan dan profil mereka sangat berbeda, namun justru dengan itulah diharapkan mereka berdua saling melengkapi. “Saya berasal dari orang lapangan, pengalaman saya di KAI sebelum di contact center adalah sepenuhnya di lapangan, menangani pelayanan secara langsung dengan pelanggan kami”, ujar Asmara mengawali wawancara sebelum memulai lomba.

Saya lahir sepenuhnya dari contact center, sebelum bergabung dengan KAI saya berkecimpung di layanan contact center Indosat”, ujar Hanefi menimpali. ‘Dipaksa’ bekerjasama dalam waktu kurang dari 24 jam bagaimana strategi mereka menghadapi lomba pada hari ini? “Yang terpenting kami mengetahui detail perlombaannya, metode penilaian dan pertanyaannya mencakup apa saja. Tidak ada strategi khusus yang kami terapkan mengingat waktu yang sangat mepet”, ujar Hanefi.

Perbedaan tersebut juga ternyata berpengaruh terhadap knowledge mereka masing-masing. Asmara yang merupakan orang lapangan tidak cukup banyak memiliki pengetahuan tentang dunia contact center, sementara Hanefi sebaliknya, dengan background contact center yang melekat dalam dirinya sehingga belum cukup banyak memiliki pengalaman di lapangan. “Tapi akhirnya kami sadar, kenapa tidak kita gabungkan saja skill kami untuk lomba ini?”, ujar Asmara. Persiapan pun dilakukan dengan cara yang singkat pula “Kami melakukan refreshment knowledge, latihan soal-soal terkait contact center dan pengetahuan umum serta teknologi social media”, jelas Hanefi.

Lalu apa target yang dipatok dalam kategori Smart Team ini? “Pastinya berharap yang terbaik untuk PT KAI dengan segala keterbatasan, kami tetap optimis”, ujar Hanefi. “Terkadang Plan B justru bisa memberikan kejutan”, timpal Asmara.

Dua jam berlalu, tim KAI keluar dengan raut wajah yang sama-sama gugup dan tegang. “Kami telah melakukan yang terbaik”, ujar Asmara setelah menyambut supporter yang menunggu di luar ruangan. “Hampir semua soal sudah berhasil kami jawab, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti lomba smart team semoga hasilnya cukup baik, paling tidak jangan sampai mendapatkan nomor buncit dalam penilaian akhir”, lanjut Hanefi.

Asmara & Hanefi, berpose setelah lomba.

Hampir 30 menit berlalu dan terdengar pengumuman dari arah backdrop, Bapak Andi Anugrah mengumumkan pemenang untuk kategori Smart Team. Seketika itu semua peserta berkumpul di backdrop, wajah-wajah peserta nampak tegang menunggu hasil pengumuman lomba. Untuk kategori Smart Team Juara I diraih oleh KLIP DJP 1, Juara II Assarent, Juara III BCA 2 dan Juara IV KLIP DJP 2.

Tim KAI kali ini masih belum beruntung meraih gelar juara di kategori Smart Team, raut kekecewaan pun sekilas nampak pada tim KAI. “Paling tidak harapan kami terkabul, kami meraih posisi ke-13 dari 17 peserta, not bad. Tahun depan pasti kami akan jauh lebih baik”, ujar Hanefi dengan penuh semangat.

Menang kalah dalam sebuah kompetisi adalah hal yang biasa, bagaimana tim KAI memaknai sebuah kekalahan? “Bagi saya dalam sebuah kompetisi tentu saja harus ada yang kalah, kalau nggak ada yang kalah, nggak akan ada pemenang kan? Jadi secara tidak langsung kami menjadi bagian dari sang pemenang”, jelas Asmara sambil tersenyum bijak.

Obrolan kami berlanjut ke hal-hal yang lebih ringan dan menguak sebuah fakta unik, ternyata dibalik banyak perbedaan keduanya terselip sebuah kesamaan. “Kami sama-sama jomblo”, cetus Hanefi. “No, kami Single. Kalau jomblo kan nasib Mas, kalau single itu pilihan”, tepis Asmara diiringi derai tawa keduanya.

Demaraksi Bahasa dan Gambar

Ludwig Wittgenstein seorang filsuf yang telah berjasa memberi marka tentang hubungan antara verbal dan visual. Ia seakan memberi demaraksi yang jelas antara bahasa dan gambar. Meski karyanya sangat sulit dipahami, bahkan dengan narsisnya ia tidak puas dan mengkritik bukunya yang pertama. Namun, ia adalah salah satu tokoh filsuf yang berpengaruh di abad ke-20. Setelah menerbitkan buku kedua, sebagai respon penyempurnaan dari buku pertama.

Picture theory salah satu hal penting yang dibahas dalam buku pertama Wittgenstein yang berjudul, Tractus Logico Philosophicus. Hal tersebut didasari atas dua sisi pemikiran tentang realitas dunia dan bahasa dengan jembatan teori gambar.

Suatu gambar adalah suatu fakta, karena gambar mempresentasikan fakta. Kalimat-kalimat Wittgenstein kadang begitu berputar-putar. Pada intinya itu membahas bahwa, bahasa tak sekedar bahasa, dan gambar tak sekedar gambar. Keduanya berkaitan satu sama lain. Memiliki porsinya sendiri dalam sebuah fakta ataupun realitas.

Lepas dari itu bahasa memang kadang terlalu sempit untuk memberikan deskripsi atas sesuatu, seperti karakter huruf yang juga terbatas. Gambar bisa saja berbicara lebih banyak. Mencapai batas yang tidak dapat dijangkau oleh bahasa, mencapai batas spasial yang sulit diterjemahkan dengan bahasa.

Richard Romansyah (salah satu peserta lomba talent, kategori The Best Video)

Dalam rekaman kamera Richard Romansyah (salah satu peserta lomba talent, kategori The Best Video), terlihat banyak gambar para peserta The Best Contact Center Indonesia (TBCCI). Dan meski mereka tidak sedang berkata-kata, kita dapat langsung menerjemahkan gerak tubuh mereka. Ada gambar orang-orang latihan presentasi; wajah-wajah tegang sebelum presentasi, dan beberapa orang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

Beberapa hal tak menolak untuk sama. Kecuali, tentu saja wajah-wajah peserta yang baru, karena setiap hari kategori yang dipertandingkan berbeda-beda. Visualisasi seperti itu yang sudah kami akrabi tiga hari ini.Pemandangan yang sudah terekam dalam kepala kami, tipikal acara yang sudah bisa kami tebak.

Sudah ada gambar dalam kepala kami, sudut-sudut ruangan Kalbis dan beberapa ingatan tentang wajah peserta hari-hari sebelumnya. Artinya sebelum datang kata-kata, visualisasi atau gambar seperti sudah lebih dulu muncul. Sudah ada penggambaran lebih umum di kepala kami.

Kami menanyai Richard untuk mengetahui pengejawantahan dan makna visual yang menjadi konsep dalam pembuatan videonya. Pria Ambon ini menjelaskan  tentang apa yang penting dan tidak penting dalam masalah pengambilan gambar. Menyesuaikan waktu pengambilan gambar dengan schedule peserta yang akan dijadikan model dalam video merupakan kendala paling awal yang diakuinya.

Richard Romansyah sedang merekam salah satu peserta.

Tahun ini merupakan tahun ketiga keikutsertaannya dalam TBCCI untuk mewakili perusahaan yang sama, masih di bawah naungan PT Bank Central Asia, Tbk. Richard memiliki pengalaman ikut serta pada banyak kompetisi juga sebelumnya. Selain itu, ia juga memiliki background pendidikan yang mendukung. Richard kuliah jurusan broadcasting dan itu menjadi bekal baginya untuk terus berkarya.

“Kalau untuk alat kita memakai yang biasa aja, camera Canon 60D dan 80D. Untuk editing cukup menggunakan laptop. Tapi proses rendering menjadi cukup lama,” tutur Richard dengan ringan sembari membereskan alat-alat yang baru dia gunakan shooting.

Dengan segala ilmu yang telah ia dapat dari bangku kuliah dan kompetisi yang telah diikutinya, dengan rendah ia menambahkan. “Untuk pengambilan gambar kita masih menggunakan teknik biasa. Medium shot, serta long shot.”

Dunia tempat semua realitas dan penggambaran itu bermuara, menyediakan banyak hal yang belum mampu kita ketahui dengan sempurna. Melihat dunia dengan keragaman yang ada. Lewat mata kesan pertama didapat. Lewat mata penolakan bisa mendekat. Lewat mata kita merekam semua gambar. Gambar yang baik adalah gambar yang bisa diterima semua mata. Mata kita adalah lensa terbaik yang diberikan Tuhan untuk melihat realitas.

Pada saat melakukan pengeditan tulisan ini kami mendengarkan lagu dari Wilco berjudul “Kamera” dari album Yankee Foxtrot Hotel. I need camera to my eye // to my eye, reminding // which lies i have been hiding // which echoes belong. Kira-kira begitulah penggalan liriknya. Mendengarkan dari speaker laptop adalah pilihan terakhir dalam hal mendengarkan musik, suara frekuensi tinggi yang tidak terlalu nyaman didengar telinga. Tapi karena Yankee Foxtrot Hotel adalah album yang luar biasa semua itu bisa sedikit dikesampingkan.

 

PT Bank Central Asia, Tbk (DH & HNP)