Unik, Itulah Kami

Selamat pagi, saya Gia Duta Larangan Merokok (DLM), mohon maaf bapak, disini area dilarang merokok, silakan bapak matikan rokoknya atau silakan merokok ditempat yang sudah disediakan, terim kasih. Renyah dan enak didengar, begitulah trik Peggi Luchita yang saat ini menjadi Team Leader DLM di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta), menghadapi para pengguna bandara yang merokok di sembarang tempat.

Sopan dalam menegur, tak membuatnya kesusahan dalam ‘mengusir’ smokers di Bandara Soetta. Selain dengan kata-kata, cara jitu lain yang dimiliki gadis cantik berkulit putih ini adalah selalu membekali diri dengan asbak, dengan begitu rokok dapat cepat dibuang. “Cara lain yang saya gunakan juga adalah dengan memberikan mereka permen, jadi satu puntung rokok saya ganti dengan permen. Ini cukup efektif dan para perokok pun tak ada yang marah dengan cara saya seperti ini,” cerita lajang 24 tahun itu.

Dalam penampilannya di hari terakhir lomba individu TBCCI 2016, Perempuan cantik yang biasa disapa Egi membawakannya dengan sempurna di depan para juri yang rata-rata penasaran dengan pekerjaan DLM yang hanya ada di Bandara Soetta. Yaa,,, Bandara Soetta menjadi pioneer untuk Duta Larangan Merokok, langkah ini bertujuan untuk menertibkan ‘perokok liar’ yang dapat mengotori lingkungan bandara. 

Selain DLM, masih ada keunikan lain yang dimiliki AP2, yakni Customer Service Mobile (CSM) yang sehari-harinya bekerja dengan menggunakan rollerblade dan segala perlengkapannya. Berperan sebagai CSM, Tiophani Naomi dengan lincah berjalan menggunakan rollerblade yang menjadi senjata utamanya. Para juri juga diakui Naomi cukup interesting dengan penampilannya, karena ini merupakan hal baru yang tidak pernah ditemui sebelumnya di bandara selain Soetta.

Memanfaatkan kemampuannya bermain rollerblade, membuat Naomi mengambil tema CSM yang memang unique. “Ini pertama kali ada di bandara, dan hanya AP2 yang memiliki CSM dan menggunakan rollerblade seperti ini. Bangga banget deh, bisa memberikan penampilan yang berbeda dengan customer service (cs) yang ada di perusahaan lain,dan memperkenalkan cs AP2 yang unik banget,” cerita gadis jangkung berambut panjang ini menggebu.

Persiapan ini cukup lama, berbeda dari penampilan kontestan yang lain yakni dari Januari 2016.

TIm AP II
TIm AP II

Peserta lain dari AP2 yang turut memanfaatkan kemampuannya adalah Wahyudin. Mencintai masak-memasak, “yah  hobi saya masak,“ aku Baim, sapaan Wahyudin.

Baim tampil di depan juri, menghidangkan sayur asem dalam presentasinya. Bagaimana bekerja di customer service seperti sayur asem, kalau kita asal-asalan membuatnya maka rasanya akan aneh. Akan tetapi kalau kita menghilangkan rasa asamnya maka ciri khasnya akan hilang.

Barbie dari AP2

Kali ini barbie tampil tanpa Ken melalui beauty service-nya, Sylvia Febrina tampil menarik di hadapan pada juri. “Saya mengambil tema tentang boneka barbie karena saya memang suka barbie dari kecil, apalagi saya anaknya juga feminin, girly dan pecinta warna pink. Saya pengen nunjukkin bagaimana AP2 memberikan pelayanan cantik sebagai customer service,” kenang si barbie upsss…  Sylvia.

Antusias juri, lanjut Sylvia semakin tampak saat ia membawakan lagu Aqua yang berjudul barbie girl.

Masih cerita tentang para peserta AP2, selain Ratih, Egi, Sylvia, Wahyudin dan Elisa ada lagi peserta AP2 yang lebih ganteng dan cantik. Mereka ini adalah orang-orang  yang berada dibalik suksesnya nama peserta dari AP2.

Superheroes

Mereka adalah Rendi, Inneke, Dewa dan Haris. Hmm…hmm… berhubungan mereka mau ikutan narsis diajang bergengsi ini. Ada baiknya kita bahas tentang mereka satu persatu. Jangan kuatir, cerita mereka tidak akan setebal buku Harry Potter, jadi siap-siap aja yaa.. cerita ini seperti rollercoster singkat, padat dan jelas.

Superheroes
Superheroes

Empat sekawan ini bukanlah sebuah grup lawak atau jelmaan Enid Blyton (itu mah lima sekawan). Mereka adalah para superhero yang ahli dibidangnya. Baik Rendi, Dewa, Inneke dan Haris adalah orang-orang yang bekerja sebagai Public Relation.

Walaupun mereka tidak tinggal satu rumah, mereka selalu berada di Lantai 7 Kalbis institute bersama-sama. Rendi dan dewa adalah  anak kembar yang beda umur dari lain ibu. Mereka berdua mendapatkan sebuah tugas untuk meramaikan lomba kategori Multimedia. Liat saja gaya mereka, bawa-bawa kamera tapi engak ada baterainya.

Lain lagi dengan Inneke dan Haris, dua makhluk antah berantah ini berkeluyuran di Lantai 7. Mereka berusaha untuk mencatat setiap kejadian yang menarik di ajang TBCCI 2016. Berbekal dengan laptop, mereka berlagak layaknya wartawan profesional. Mereka mencari mangsa, lalu mewawancarai korban, mencatat kutipan penting kemudian menyalakan laptop dan bermain sudoku.

Pukul menunjukan 17.00 WIB dan matahari mulai tenggelam, sudah saatnya bagi para superheroes ini pulang. Mereka berjalan menempuh jalannya masing-masing, dan esok akan kembali ketempat yang sama, bercerita tentang kejadian-kejadian menarik lainnya di ajang TBCCI 2016.(AP2)