SEBAIT KAYUHAN PENGANTAR SANG JUARA

“Persahabatan bukanlah sebuah kesempatan, tapi merupakan tanggung jawab yang manis” – Khalil Gibran

            Sinar hangat mentari pagi ini mengiringi gelombang semangat yang tercipta di lantai 7 Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Timur. Riuh lantang peserta saat membagikan idenya di hadapan dewan juri, doa yang mengalir dari sesama peserta, wajah tegang sebelum memasuki arena presentasi, hingga teriakan “SEMANGAT!” yang terus bergulir mondar-mandir hari ini sungguh mewarnai cantiknya pagi ini.

            Bukan hanya para peserta yang berpakaian begitu rapi atau sesuai khas seragam perusahaannya yang mampu menakjubkan mata, melainkan juga para pendukung yang datang dan melowongkan sebagian waktunya demi memberi tepukan semangat dan doa tulus untuk para sahabatnya dalam ajang The Best Contact Center Indonesia 2018.

            Seperti pria yang satu ini. Julian Sulistianto namanya. Salah satu Agent Call Center Bank Mandiri berusia 27 tahun ini penuh tekad memberi semangat kepada sahabat-sahabatnya yang satu demi satu mendapat giliran untuk mempresentasikan gagasan mereka di depan dewan juri dalam menjadi agent contact center terbaik yang dapat diteladani juga oleh lainnya. Sempat beberapa orang menanyakan kehadirannya, “Halo, peserta juga ya?”; “Bukan”, jawabnya.

            Kayuhan roda yang begitu kuat ternyata mampu membuat orang di sekelilingnya berkontemplasi. Meski duduk di kursi roda, ternyata hal ini tidak menjadikannya sebagai  hambatan dalam memberi dukungan penuh pada Agent Call Center Bank Mandiri lainnya dalam The Best Contact Center Indonesia 2018 kali ini. Senyum semangat selalu ia lemparkan, baik bagi para sahabatnya maupun orang di sekelilingnya yang bahkan baru berkenalan dengan Julian pada pagi itu. Ramah. Itu kesan yang bisa didapatkan darinya ketika tangan ini bersalaman dengannya sembari bertukar melempar nama.

            2,5 tahun lamanya peran agent call center telah dijalaninya dengan penuh semangat dan keyakinan. Atmosfer kekeluargaan yang tercipta antara Julian dengan sahabat-sahabatnya telah membentuk pribadi Julian yang sangat menghargai dan menyayangi kawan sejawatnya, yang bukan lagi hanya sekedar sejawat karena satu lingkungan pekerjaan, melainkan sudah seperti saudara sendiri. “Aku di sini juga karena temen-temen… Selama di Bank Mandiri mereka membantu aku terus…”, ujar pria ini sambil menatap teman-temannya saat itu.

            Tidak muluk-muluk, Julian berharap agar kehadirannya pagi ini bisa membantu para sahabatnya. “Aku melihat teman-teman yang lain juga deg-degan banget… Mungkin aja aku bisa sedikit bantu, dengan kedatanganku, aku bisa kasih support dan semangat ke yang lain.. Memang sih gak seberapa tapi semoga bisa membantu temen-temen..”, ucapnya dengan tulus.

            Sosok Julian pagi ini mengingatkan kita pada banyak kisah yang telah ada. Anne Sullivan yang telah menjadi guru sekaligus sahabat Helen Keller, misalnya. Betapa butanya hidup Helen tanpa kehadiran Anne Sullivan yang mampu menyulap hidupnya hingga Helen menjadi tuna rungu dan tuna netra pertama yang mampu lulus dari universitas dengan predikat magna cum laude. Mau pun cerita lainnya, Andy Dufresne dan Ellis Boyd Redding dalam The Shawsank Redemption atau Samwise Gamgee dan Frodo Baggins dalam The Lord of The Rings. Pertemanan dan dukungan yang terus mengalir antar mereka di tengah kesulitan dan hambatan yang ada ternyata berbuah manis pada ujungnya. Sama seperti Julian, dukungan tulus yang ia berikan tentu mampu mengantar sahabat-sahabatnya pada tampuk juara yang diinginkan semua peserta. Tentu, juga dengan iringan doa yang dilantunkan terus menerus.

            “Teruslah berjuang memajukan nama perusahaan”, ucap Julian dengan lantang. Ucapan ini mampu menjadi cermin bagi kita semua. Apa yang sudah kita berikan pada perusahaan yang telah kita tempati? Sudah kah kita tawarkan persahabatan tulus pada teman sejawat lainnya? The Best Contact Center Indonesia bukan hanya sekedar ajang lomba demi memperjuangkan predikat tertentu, tetapi apabila kita menyelam lebih dalam, ada proses indah yang ditawarkan di situ. Solidaritas dan ilmu yang terus mengalir mestinya bisa kita petik dari sini. Dan lakukanlah sekarang karena waktu terbaik adalah sekarang, bukan besok, bukan nanti, dan bukan kapan pun.*)