Mencari Orisinalitas Peserta Talent

Gempita ajang The Best Contact Center Indonesia 2017 untuk kategori Individual telah berlalu. Riuh sorakan tim pendukung juga telah menghilang dari area lantai enam dan tujuh Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Timur. Namun kemegahan acara yang berlangsung selama empat hari berturut-turut tersebut tidak akan hilang begitu saja. Festival tersebut telah terekam dengan baik oleh sahabat-sahabat yang mengikuti lomba ini dalam kategori Talent Writing, Photo, dan Video.

Menenteng kamera, perekam gambar, dan perekam suara, serta catatan juga laptop, peserta ajang The Best CCI untuk kategori Talent Writing, Photo, dan Video terlihat beredar di seluruh area lantai enam dan tujuh Kalbis Institute. Merekalah yang paling hafal seluruh sudut area tersebut karena selama empat hari berturut-turut dari tanggal 24 Juli hingga 27 Juli menggali setiap aspek yang ada dari ajang The Best CCI. Mereka menangkap setiap momen, mulai dari rasa nervous peserta sebelum masuk ruang presentasi, sisi lain peserta, kekompakan tim pendukung, kesan dewan juri, kesibukan panitia, hingga perasaan tak karuan yang dihadapi peserta saat presentasi di hadapan minimal sepuluh orang dewan juri.

Sosok-sosok di balik layar yang menjaga memori ajang The Best CCI 2017 juga tidak luput dari penilaian dewan juri. Bedanya, jika peserta kategori Individual langsung dinilai pada saat proses presentasi, peserta kategori Talent ini dinilai selepas seluruh karya foto dan video mereka dikumpulkan oleh panitia. Untuk tulisan, peserta sendiri yang mengunggahnya ke laman ICCA untuk kemudian dinilai oleh dewan juri.

Sabtu, 28 Juli, satu hari setelah rangkaian lomba kategori Individual dan Talent Writing, Photo, dan Video, adalah hari dimana seluruh karya peserta lomba Talent Writing, Photo, dan Video dinilai oleh dewan juri. Proses penjurian diadakan di Graha Seti, Jakarta Selatan selama satu hari penuh. Tiga orang juri independen yang merupakan praktisi dan dosen, berkutat dengan seluruh karya yang telah masuk arsip panitia.

Pada kategori Writing, Dwi Firmansyah mengutarakan pendapatnya bahwa secara keseluruhan, peserta Writing memberikan tulisan yang menarik. Peserta mampu menyajikan tema-tema yang unik berkaitan dengan event The Best CCI kategori Individual. Salah satu yang menarik perhatian Dwi adalah adanya satu tema tentang Agent Disabilitas. Peserta mampu menggali hal secara maksimal dan menyentuh human interest. Namun tak bisa dipungkiri bahwa dari sisi hard news peserta juga mampu menyajikan dengan baik disertai dengan hal-hal unik dari peserta kategori Individual. Jika dilihat dari segi penulisan dan ejaan, sebagian besar peserta sudah memahami dan menuliskannya dengan benar.

Menurut Dwi, sisi orisinalitas menjadi salah satu hal yang penting dalam menilai sebuah tulisan. Beberapa peserta sudah mampu menghadirkan tulisan yang orisinal dengan melakukan in-depth reporting untuk menggali hal-hal unik dari peserta kategori Individual. Selain melalui in-depth reporting, satu hal lagi yang menarik perhatian Dwi yaitu pengetahuan dan pengalaman peserta untuk memasukkan teori-teori bahkan tentang sastra ke dalam tulisan mereka. “Tulisan mereka menjadi lebih hidup, tidak kaku, dan lebih bertutur. Dari sisi keunikan ini yang membuat kami memberikan skor lebih tinggi. Dengan demikian, dua hal utama yang menjadi penilaian kami adalah orisinalitas dan keunikan tulisan.” Demikian komentar Dwi.

Sejumlah aspek penilaian untuk kategori Photo kemudian dijelaskan oleh Wisnu Tri Rahardjo. Wisnu, sapaan akrabnya, menyampaikan poin utama untuk penilaian kategori Photo. Teknik pengambilan gambar memang penting dan sebagian peserta sudah dapat dikatakan sebagai profesional oleh Wisnu, namun hal utama yang dicari dari hasil pengambilan gambar adalah sisi uniqueness atau keunikan foto. Wisnu juga menambahkan ada baiknya untuk menetapkan sebuah tema dalam satu hari pengambilan foto agar peserta dapat menangkap momen-momen yang lebih spesifik serta untuk memudahkan penilaian.

Aditya Rizky Gunanto, salah satu juri yang bertugas menilai karya video peserta juga berkenan berbagi tentang penilaian video peserta Talent Video. Ada beberapa peserta yang secara teknik sangat menguasai dan mampu menyajikan sebuah video yang ‘wow’. Skor tinggi diberikan untuk video yang secara penyajian menarik. Beberapa poin yang digarisbawahi oleh Aditya dalam menilai video dengan penyajian yang menarik adalah isi cerita yang bertutur, perpindahan scene yang mulus dan memiliki alur yang baik, serta adanya host yang mampu membawa cerita agar mengalir dengan baik.

Di luar sisi teknik pengambilan gambar, Aditya juga memberikan poin yang tinggi dari sisi penceritaan. Ada juga peserta yang mampu mengangkat tema yang unik dan memberikan penceritaan yang baik. Dalam hal ini tugas editor video menjadi penting. “Pada dasarnya kita harus tahu mau bikin video apa, ini terkait tema video. Kedua, harus tahu audiens-nya agar tidak terkesan menggurui penonton. Proses perencanaan atau pra-produksi juga sangat perlu diperhatikan agar tidak bingung saat proses take video.”

“Masukan saya untuk ke depannya adalah agar peserta mempersiapkan proses perencanaan atau pra-produksi dengan baik, kedua adalah masalah teknis, dan proses ‘memasak’ materi atau editing video. Satu lagi, perbanyak stock shot juga perlu agar editor tidak bingung saat mengedit dan tidak terjadi pengulangan scene.” Demikian pungkas Aditya. (MZ)

Customer Service On Train, Sepenuh Hati Melayani Pelanggan

Sebagai pelanggan, bagaimana Anda menentukan kapan layanan pelanggan itu dinyatakan “baik”, hebat, luar biasa, atau, di sisi lain, buruk? Apa yang penting untuk Anda ?

Iksanudin, sang pelayan hati para pelanggan diatas Kereta Api Indonesia

Layanan pelanggan yang baik bukan tentang praktik terbaik generik tapi tentang HASIL yang berhasil mereka capai. Saya tidak benar-benar percaya pada serangkaian tindakan konstan yang akan memberi Anda layanan pelanggan kelas dunia terlepas dari semua keadaan lainnya (tipe industri proses penjualan, kategori pelanggan yang Anda tawarkan produk / layanan Anda, dll). Cara kerjanya tidak seperti itu. Bukan berarti Anda tidak bisa menempatkan diri Anda dalam posisi terbaik untuk memberikan layanan pelanggan yang luar biasa. Justru sebaliknya.

Customer Service secara umum ialah setiap aktivitas yang diperuntukkan atau ditujukan untuk memberikan kepuasan pelanggan, melalui pelayanan yang bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Customer service juga adalah pelayanan yang disediakan oleh suatu perusahaan untuk melayani kebutuhan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan yang biasanya meliputi penerimaan order atau pesanan barang, menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memberikan informasi, dan penanganan keluhan-keluhan yang berhubungan dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Dalam menjalankan suatu fungsi dan tugasnya, seorang customer service harus benar-benar memahami tugas customer service dan fungsi customer service dengan baik agar nantinya mampu menjalankan tugasnya dengan prima.

Sangat penting untuk memahami dan menghindari perilaku tertentu yang akan membuat konsumen marah dan menghentikan hubungan dengan perusahaan Anda. Beberapa konsumen mengekspresikan frustrasi saat mencari produk layanan dan menemukan perusahaan atau pengecer yang produknya tidak tersedia bila dibutuhkan.
Kemudian klien lain merasa bahwa garis bantuan terlalu lambat untuk menyelesaikan masalah mereka, dan teknik manajemen kemarahan tidak akan membantu. Beberapa klien juga dapat merasa bahwa layanan yang mereka terima terlalu impersonal, dan persentase klien yang berkembang pesat merasa mereka tahu lebih banyak tentang produk daripada agen yang mereka ajak bicara.

Adalah Iksanudin, pelaku pelayanan pelanggan di perusahaan yang bergerak dibidang transportasi perkereta-apian Indonesia. Menurut Iksan; begitu ia akrab dipanggil, bekerja di bidang pelayanan itu susah-susah gampang . “Pelayanan itu batasnya langit dan yang kita layani adalah manusia yang tidak akan pernah puas” begitu tuturnya.

Iksan juga menuturkan bahwa saat kita bekerja di bidang pelayanan, kita harus menyadari bahwa pelayananan itu terus meningkat sesuai dengan perkembangan jaman. Begitu pula ekspektasi pelanggan dan kebutuhan pelanggan yang terus meningkat.

Sebagai praktisi pelayanan mau tidak mau Customer Service juga harus meningkatkan kemampuan interpersonalnya. Jadi bekerja di bidang pelayanan ini tidak cukup hanya bisa melayani saja, butuh skill-skill pendukung lainnya yang akan sangat membantu sekali dalam keberlangsungan kegiatan pelayanan pelanggan di dalam suatu perusahaan.

 

“Semua orang bisa bekerja di bidang pelayanan yg penting care, peduli sama orang” ucap Iksan saat ditemui usai presentasinya dihadapan juri. Yang kita hadapi dalam dunia pelayanan pelanggan adalah manusia bukan barang. Untuk berkomunikasi antar manusia, tidak cukup hanya verbal saja, akan lebih baik jika didasari dengan hati yang tulus pula. Ketika kita bekerja dengan hati, secara otomatis hati pelanggan kita juga akan tersentuh dan layanan kita tanpa disadari juga akan berkembang menjadi layanan pelanggan yang lebih baik.

Iksan memang sudah cukup lama berkecimpung didunia Pelayanan Pelanggan, khusunya pelayanan diatas kereta api. Iksan sudah bergabung dengan perusahaannya sejak tahun 2014. Saat ditanyai pencapaian prestasi sepanjang karirnya ia menyampaikan bahwa Iksan termasuk dalam Tiga Besar Frontliner terbaik di ajang Frontliner Award perusahaannya. Tidak hanya itu, tahun ini ia di percaya dan terpilih menjadi The Best Employee di Daerah Operasi 6 Yogyakarta; stasiun kereta api tempat Iksan melayani pelanggannya.

Iksanudin berharap kedepannya ada sharing ataupun training antar perusahaan untuk bertukar ide dan gagasan satu sama lain. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui keunggulan perusahaan satu dengan yang lain sehingga kita dapat mempelajari hal baik mana yang kemudian dapat diterapkan untuk kebaikan perusahaan kita masing-masing. “Karena saat ilmu kita dibagikan, sebetulnya tidak akan berkurang, justru malah akan menambah ilmu kita” ungkapnya.

Jodohku… bernama Platinum

Peserta saling sharing dengan teman-temannya

JAKARTA-KLIP DJP. Jodoh. Apa itu jodoh? Siapa dia? Kapan akan berjumpa dengannya? Apakah jodoh harus diperjuangkan, bahkan dengan bertaruh seluruh waktu, jiwa, dan raga? Apakah sudah pantas untuk menjemput dan bersanding dengannya saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar, dari seseorang yang sangat rindu, bersatu, dengan jodoh idamannya. Siang malam, pagi petang, dia selalu saja terngiang-ngiang. Seolah tiada waktu yang sia-sia, kecuali selalu memantaskan diri untuk menjemputnya. Tiada ucapan yang percuma, kecuali kalimat do’a, agar Tuhan segera mempersatukan dengannya.

Seperti itu lah gambaran perebutan Platinum di The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017. Platinum itu bagaikan jodoh, yang selalu menjadi idaman setiap peserta, diperjuangkan dengan berbagai pengorbanan luar biasa, tanpa mengenal rasa lelah dan pantang menyerah. Berbagai persiapan dan latihan, mewarnai hari-hari mereka. Tidak hanya berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan, mereka berjuang dengan segala pengorbanan.

Persaingan memperebutkan Platinum, bukanlah persaingan biasa. Kita semua tahu, mereka, peserta TBCCI 2017, adalah orang-orang terpilih dan terbaik dari instansi mereka masing-masing. Mereka semua melakukan berbagai persiapan panjang dan ketat. Diseleksi dengan standar tinggi, bahkan di kalangan internal sendiri. Mereka orang yang hebat dan penuh prestasi. Tidak hanya unggul di bidang akademi, tapi juga dalam berpresentasi. Tidak hanya paras yang memikat hati, tapi juga mental yang membuat juri sampai gerogi.

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha”, itu lah klise yang sering kita dengar dari mereka yang sedang berkompetisi. Mereka terus berusaha keras, dengan harapan hasil terbaik bisa tercapai. Masing-masing dari mereka tampil all out. “Saya pasti dapat Platinum”, itu lah sebagian besar keyakinan mereka.

3 bulan persiapan dan latihan, sebagai tanda usaha yang begitu kerasnya. Hari demi hari, dihiasi dengan latihan, latihan, dan latihan.

Apa kata mereka?

Niky Adam (kiri) – sesi photo booth

Niky Adam. Peserta kategori Team Leader Outbound dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan DJP. Dia mengaku puas atas presentasinya, terutama di bagian tengah hingga akhir. Niky, panggilannya, pun telah berhasil meraih hasil terbaik di tes tertulis. Dia berharap, presentasinya meraih poin maksimal.

“Harapan, pastinya harapan untuk menang. Sudah berusaha yang terbaik, mengeluarkan yang terbaik. Berharap untuk menang, semoga dapat platinum”, ungkapnya tentang harapan meraih platinum di ajang ini. Ketika ditanya tentang persiapan, dia menuturkan, ”Persiapan, paling banyak si ketika presentasi. Untuk lomba tertulis, persiapan cuma dua hari. Untuk presentasi hampir seminggu.”

Munajat. Pria yang biasa dipanggil Adjat ini, bermain di kategori videografi dan fotografi bersama timnya. Dia membela tim Astra Honda Motor (AHM). Dengan tema “Satu hati berkompetisi”, Adjat dan timnya mengaku, kemenangan bukan tujuan utama, tapi kemajuan bersama lah yang menjadi semangat motivasi untuk berkompetisi.

“ Ya, pengennya sih menang. Menang dibanyak kategori…”, kata Adjat, yang merupakan harapan dari timnya (AHM). Kalau untuk persiapan, dia menuturkan bahwa timnya sudah banyak persiapan dan latihan. Belajar dari pengalaman kompetisi tahun lalu juga dilakukan. Terus berkreasi dan berinovasi menemukan konsep dan metode baru, kemudian diterapkan saat ini.

Adjat, mewakili tim AHM, juga berharap bahwa kompetisi ini bukan hanya untuk mencari menang, tapi bisa juga untuk mencari solusi untuk perusahaan dari hasil berbagi informasi dan pengetahuan yang di dilakukan perusahaan yang lain melalui presentasi perwakilan mereka.

Yulian Agung Effrata – peserta kategori Agent Disability dari PT Telkom Indonesia

Ada yang berbeda di hari keempat TBCCI 2017 tahap kedua ini. Hari ini, Kamis (27/7), ada kompetisi untuk kategori Agent Disability. Kategori ini diikuti oleh 8 peserta dari 5 perusahaan yang berbeda, yaitu: 3 peserta dari Telkom Indonesia, 2 peserta dari Bank Mandiri, yang lainnya dari Telkom C4, BI, dan BCA.

Beruntung, hari ini saya sempat berbincang dengan salah satu pesertanya. Yulian Agung Effrata namanya. Beliau wakil dari Telkom Indonesia, untuk kategori Agent Inbound.

Motivasi Agung mengikuti ajang ini adalah untuk menjadi kebanggaan keluarga dan PT Telkom Indonesia itu sendiri. Sudah 3 bulan dia melakukan persiapan. Lebih diperhatikan dan diberi kesempatan lebih luas untuk kalangan difabel, adalah harapannya. Ada satu harapan yang sangat menyentuh darinya. Dia ingin juara, menjadi nomor satu. Bukan untuk meraih platinum, tapi untuk bisa umroh. Ya, tahun ini, kabarnya, hadiah benchmarking ke eropa bisa ditukar dengan satu tiket umroh. Semoga sukses ya, Agung. Niatnya sangat mulia. Saya pun sangat tersentuh mendengarnya.

Ario Bimo Pranoto (paling kiri) – foto bersama rekan satu kantor

Lain peserta, lain pula dengan Person in Charge (PIC) peserta dari masing-masing perusahaan. Menurut seorang PIC, sebut saja Bimo, tugas PIC itu sangat berat. Karena harus mempersiapkan seluruh peserta, terutama untuk latihan dan juga registrasinya.

Seorang pria yang lucu dan bernama lengkap Ario Bimo Pranoto ini adalah PIC dari KLIP DJP. “…mudah-mudahan tahun ini kita bisa mendapatkan medali platinum…”, menjadi harapannya. Bukan hanya medali, tapi juga pengalaman dan pelajaran tentang inovasi dan kreasi perusahaan lain untuk maju, menjadi harapan utamanya.

Untuk usaha yang dilakukan, dia mengaku selalu melakukan yang terbaik, mulai dari seleksi peserta, persiapan, dll. termasuk melakukan regenerasi peserta. Analisis juga dilakukan, agar semua persiapan maksimal dan matang.

Andi Anugrah (tengah) – duduk di meja panitia

Andi Anugrah, ketua panitia TBCCI 2017, mengatakan bahwa peserta tahun ini sangat antusias sekali, sangat bagus, dan sangat bersemangat, terlihat dari berbagai feedback yang diberikan oleh peserta. “Semoga lebih semangat, lebih sportif, lebih membangun kekeluargaan, networking, kebersamaan, saya kira itu lebih penting ya…” pungkasnya tentang harapan ajang ini.

Lalu, apa yang membuat peserta berhasil menjadi juara? Menurut pandangan Andi, kemampuan dalam presentasi yang dipadukan dengan ide-ide dan penyajian materi yang memukau juri, menjadi kuncinya, selain hasil tes tertulis yang maksimal.

Seperti itulah kompetisi. Ada kalah ada menang. Kita semua istimewa. Sama-sama lahir sebagai bayi yang lemah. Lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia luar biasa. Kompetisi bukan ajang untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain, tapi kompetisi adalah ajang untuk belajar dan sarana pendewasaan diri. Sebagai cerminan bahwa kita manusia yang hanya bisa berencana dan usaha, tapi Tuhan lah yang menentukan segalanya. (MI)

Bertekad untuk Menjadi yang Terbaik

JAKARTA, ENSEVAL – Meski matahari belum jauh dari peraduannya, sorak sorai supporter berhasil memecah keheningan yang memenuhi gedung Kalbis Institute Pulomas, Jakarta Timur pada hari Kamis (27/7). Layaknya cheerleaders, mereka tak segan meneriakkan kata-kata penyemangat untuk meningkatkan kepercayaan diri rekan mereka yang akan bertanding. Tak tanggung-tanggung, beberapa supporter bahkan ada yang berjumlah lebih dari delapan orang. Jumlah yang cukup fantastis mengingat hanya ada satu orang saja yang maju untuk presentasi.

Rupanya hari ini merupakan hari terakhir dari rangkaian lomba kategori presentasi individu The Best Contact Center Indonesia tahun 2017. Tersisa sembilan dari total 40 kategori yang dilombakan, antara lain Best of Best Customer Service & Social Media, Manager Customer Service, Best of Best Outbound, Best of Best Team Leader CS & Outbound, Customer Service (Large), Customer Service (Small), Team Leader Customer Service, Team Leader Outbound, Telemarketing, Telesales, dan Agent Disability. Di samping itu, ada kategori lain juga yang tengah beradu yakni Talent Writing, Talent Photo, dan Talent Video. Bedanya ketiga lomba multimedia itu berlangsung secara empat hari berturut-turut, sejak 24 Juli 2017.

Walau hampir seluruh penjuru dilengkapi dengan penyejuk ruangan, tetap saja tidak mampu mengusir kegerahan yang menyelimuti hati setiap peserta. Hari terakhir ini justru membuat aura persaingan makin kuat terasa. Hal itu dapat dilihat dari keaktifan mereka dalam mempersiapkan amunisi presentasi. Mulai dari materi hingga properti yang akan digunakan untuk memukau para dewan juri.

Andi Anugrah melakukan press conference terakhir bersama sejumlah peserta talent multimedia pada Kamis (27/7).

Tak hanya perwakilan kategori presentasi individu, para peserta talent multimedia yang meliputi writing, photo, dan video ini ternyata juga merasakan hal yang sama. Tidak ada istilah “menyerah” dalam kamus kosakata mereka. Sebaliknya, berjuang sampai akhir dengan berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik akan mereka lakukan semata demi kepuasaan diri dan kebanggaan perusahaan. “Hari keempat ini gak jauh beda dengan yang kemarin, euforianya masih tetap sama. Yang penting kita berpartisipasi dengan memberikan hasil foto yang terbaik kepada dewan juri,” ujar Donny Manurung, satu-satunya perwakilan kategori talent photo dari PT Primalayan Citra Mandiri (Datascrip Service Center).

Bangun Dwi Nugroho selaku Telesales Agent Pro Telekom Indonesia.

Di sisi lain, Bangun Dwi Nugroho, Telesales Agent Pro Telekom Indonesia, berpendapat bahwa rasa gugup yang melanda akan berangsur-angsur hilang begitu mendekati hari-H pelaksanaan lomba. Lulusan S1 Administrasi Negara Universitas Indonesia ini juga menambahkan, kepercayaan diri untuk melakukan yang terbaik adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi performa pada saat presentasi. Tak lupa pula untuk selalu berdoa dan menjaga pola hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi serta rutin berolahraga. “Puncak nervous biasanya terjadi beberapa hari sebelumnya. Kalo persiapan udah matang dan tubuh fit sih, Insya Allah akan lancar,” jelasnya.

Arifudin, perwakilan peserta kategori Telesales dari Coca Cola Amatil Indonesia.

Berbeda halnya dengan Arifudin. Pria yang bekerja di Coca Cola Amatil Indonesia sejak tahun 2016 ini memaparkan bahwa predikat terbaik tidak melulu soal dunia pekerjaan, tetapi juga berlaku dalam kehidupan sosial di sekitar kita. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan sosial yang rutin dilakukannya. Minimal sebulan sekali, Arif akan menyisihkan waktu luangnya untuk pergi ke Kendal dan Semarang dalam rangka mengunjungi desa-desa yang telah dibinanya bersama rekan-rekan sesama sociopreneur sejak empat tahun silam. Rutinitas ini dilakukan sebagai bentuk usaha dalam menyeimbangkan passion-nya, baik di bidang pekerjaan maupun pelayanan sosial.

Bukan hal yang mudah untuk mengikuti ajang berkelas seperti TBCCI. Ratusan kandidat terbaik dari berbagai wilayah di Indonesia harus mempersiapkan mental dan fisik mereka secara matang. Terlebih tahun ini TBCCI menambah satu lagi kategori yang cukup unik yakni Agent Disability. Andi Anugrah menyatakan bahwa keikutsertaan para agent disabilitas merupakan perwujudan dari ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. “Paling tidak kita mencoba lah. Ternyata pesertanya juga ada yang berpartisipasi. Ada delapan orang. Ini juga yang menjadi bukti bahwa kami selaku penyelenggara ikut mendukung implementasi undang-undang tersebut,” ungkap Ketua Indonesia Contact Center Association periode 2014-2019 ini.

Kumyati, satu-satunya agent disabilitas PT Telkom Corporate Customer Care Center (Telkom C4).

Kumyati adalah salah satu agent disabilitas yang tidak pernah menyangka bisa ikut serta dalam sebuah perlombaan bergengsi. Perwakilan dari PT Telkom Corporate Customer Care Center (Telkom C4) ini mengatakan bahwa kategori Agent Disability ini mampu membuka peluang baginya untuk menunjukkan kepada dunia jika keterbatasan yang ia miliki tidak akan menghalanginya dalam berkarya. “Saya ingin menjadi contoh bahwa seorang difabel itu bisa melakukan yang seperti orang lain lakukan, bahkan lebih,” ucap perempuan yang akrab disapa Yati ini.

Sebagai pendatang baru dalam ajang TBCCI, Yati tidak terlihat gentar. Kepercayaan diri tampak begitu lekat padanya. Ia juga mengaku sangat senang dan bangga karena mampu mewakili Telkom C4 dalam kategori baru ini. Tidak berlebihan, perempuan asal Indramayu ini ternyata memiliki keinginan mulia untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, khususnya bagi teman-teman difabel. Memberikan motivasi kepada mereka merupakan salah satu cara agar dapat merealisasikan mimpi tersebut. Dirinya yakin bahwa teman-teman difabel di luar sana juga mampu untuk berprestasi tanpa harus takut menghadapi persaingan.

Bertekad untuk menjadi yang terbaik adalah tujuan setiap umat manusia di muka bumi ini. Tak heran banyak orang yang menghalalkan berbagai macam cara untuk meluluskan niat tersebut, tapi nyatanya hanya segelintir yang berhasil mewujudkannya. Percaya atau tidak, semua harus dimulai dari pola pikir positif, niat, dan ketulusan hati masing-masing pribadi. Niscaya hal itu akan menimbulkan energi yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses, doa, dan usaha.

(CSR/ANS/EPM)