Bukan Lomba Biasa

Hidup ini perlombaan tiada akhir, dari lahir hingga ke pusara. Setiap fasenya adalah babak penyisihan tanpa ujung. Tidak pernah ada final yang dijanjikan. Namun, ternyata selalu ada pemenang.

Padahal udara di luar masih dingin dan sejuk, tapi rasa itu tak mampu menembus kehangatan suasana di gedung Kalbis Institute. Pagi ini, lantai 7, pukul 07:00 WIB, Kalbis Institute sudah ramai peserta. Layaknya korban tsunami menanti sembako yang dijanjikan. Mereka yang berjejer di meja registrasi, serta peserta yang sibuk mencari namanya di papan pengumuman. Panitia? Ah, jangan ditanya. Mereka sudah siap dari pagi-pagi buta.

Lantai 7, Pukul 07:00, susana di Kalbe Institute mulai dipadati peserta

Tidak kurang dari 478 peserta akan berkompetisi untuk meraih gelar juara. Mereka berasal dari 79 perusahaan ternama. Setiap mereka membawa keyakinan, tapi apakah keyakinan saja cukup? Hanya akan ada 4 pemenang untuk masing-masing kategori, dengan total 40 kategori. Itu artinya hanya 160 dari 478 peserta yang akan memanen tropi. Sisanya harus pulang dengan keikhlasan.

Untuk memotivasi para peserta, para panitia sudah menyiapkan hadiah berupa benchmarking ke Eropa untuk pemenang Platinum, ke Thailand untuk pemenang Gold dan Silver, serta ke Singapura untuk pemenang Bronze. Namun, ternyata tidak semua peserta mengincar hadiah menarik itu. Seperti Muhammad Thayib Isfari, peserta kategori “Best of Best Support” yang baru saja keluar ruangan lomba. Peserta nomor urut pertama itu mengatakan, “jalan-jalan keluar negeri itu bonus, ajah. Yang penting saya bisa mengekspresikan diri. Jarang-jarang kan bisa bicara dan mengutarakan ide saya ke orang banyak”.

Muhammad Thayib Isfari, peserta kategori “Best of Best Support” perwakilan Bank BCA

Namun ternyata ada pula peserta yang hanya “partisipan”. Tidak berhasrat menjadi pemenang. Seperti sebuah percakapan yang terdengar di dalam lift kecil. “Aku mah ikut-ikutan ajah. Lumayan gak kerja seharian. Menang kalah bodo amat,” kata peserta itu. Ini bukan lelucon, tapi ironi. Kita memang tidak selamanya harus serius. Tapi hidup ini harus tegas. Siapa kamu? Apa yang harus kamu lakukan? Jika kamu sudah memilih menjadi seorang pembicara, maka bicaralah. Jangan pernah setengah setengah mengidentitaskan diri.

Ini bukan lomba biasa. Bukan untuk menang atau kalah, tapi lebih kepada merealisasikan diri. Menegaskan siapa dirimu. Dan yang lebih penting lagi sesuai dengan apa yang dikatakan Ketua Indonesia Contacts Center Association (ICCA) Pak Andi Anugrah, “tujuan utama dari event ini adalah untuk pelayanan publik, jika pelayanan masyarakat lebih baik, tentunya ekonomi kita juga bergerak lebih baik, lebih bahagia, serta lebih sejahtera. Hal itu dimulai dengan memotivasi orang, menghargai orang dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, serta menyalurkan bakat. Bahkan tahun ini ada kategori baru, yaitu disabilitas. Hal itu membuktikan bahwa kita memberikan kesempatan kepada orang, tanpa mendiskriminasi.”

Pesan yang disampaikan Pak Andi Anugrah sangat jelas. Sebagaimana kita ketahui bahwa service atau pelayanan adalah jantung utama sebuah perusahaan. Jangan berharap memiliki pelanggan yang loyal, jika service yang kita berikan hanya ala kadarnya saja. Dengan pelayananlah sebuah kepercayaan dibangun. Tujuan utama perlombaan ini digelar adalah untuk membandingkan dan mencari formulasi yang nantinya dapat diterapkan di perusahaan-perusahaan peserta lomba. Sehingga, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa event ini bukan lomba biasa. Karena dampaknya begitu besar untuk kepuasan pelanggan, kemajuan perusahan, berkembangnya ekonomi bangsa dan lebih penting lagi untuk kesejahteraan bersama.

Salah satu peserta penyandang disabilitas. Julian Sulistianto, perwakilan Bank Mandiri

Selain itu Pak Andi Anugrah juga mengatakan acara ini adalah bentuk apresiasi untuk mereka yang mengabdikan dirinya selama ini di belakang layar. Sebuah kesempatan bagi para pembicara untuk didengar, penulis untuk dibaca, serta fotografer dan kameramen untuk dilihat. Bahkan dengan dibukanya kategori baru, yaitu disabilitas, maka semakin mempertegas, bahwa acara ini berkomitmen penuh untuk menampilkan bakat-bakat yang selama ini mungkin belum terapresiasi.

Setiap orang punya identitas. Jika kamu seorang pembicara, maka suarakanlah suaramu. Bukan untuk didengar. Bukan untuk dimengerti. Tapi untuk merealisasikan jati dirimu. Muhammad Ali, Sang Legenda Tinju, boleh saja telah meninggal, tapi dia tetap Sang Juara. Karena dia berhasil menunjukkan kepada dunia siapa dirinya. Pemenang sejati adalah mereka yang berhasil menegaskan identitasnya.