Hari Pertama TBCCI 2017: Ada yang Beda!

Salah satu tim peserta TBCCI 2017 kategori agent disabilitas tengah berfoto sambil memberikan dukungan teman setimnya pada hari pertama TBCII 2017, Senin, 24 Juli 2017, di Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta.

SIM, Jakarta – Hari yang ditunggu-tunggu insan Contact Center di seluruh Indonesia telah tiba. Pasalnya pada Senin, 24 Juli 2017 acara lomba The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) kembali digelar di Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Timur. Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan rutin oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA) guna mewadahi bakat dan kreativitas karyawan di perusahaan yang melibatkan jasa contact center.

Acara perlombaan andalan TBCCI pun kembali dihelat, seperti lomba kategori individu, writing, foto dan video yang diselenggarakan pada 24-27 Juli 2017. Sedangkan, lomba Teamwork akan diadakan pada tanggal 1-2 Agustus 2017, menyusul selanjutnya adalah lomba Dancing dan Singing pada tanggal 3 Agustus 2017 di Gedung Kesenian Jakarta. Lomba terakhir adalah lomba kategori korporat yang akan dilaksanakan pada 7-9 Agustus 2017 di Hotel Bidakara Jakarta.

Untuk hari ini sampai tiga hari kedepan di Kalbis Institute Pulomas, akan dilangsungkan lomba kategori individu yang akan diikuti 478 peserta lomba. Kegiatan terebut akan dinilai oleh dewan juri vote lock, yang terdiri dari akademisi, praktisi dan pengurus ICCA dengan jumlah kurang lebih sebanyak 150 orang.

“561 peserta itu tes tertulis, nah yang akan bertanding untuk presentasi individu adalah 478 peserta. Sisanya gugur,” kata Ketua ICCA, Andi Anugrah di Gedung Kalbis Institute Pulomas, Jakarta Timur, Senin, 24 Juli 2017.

Andi menambahkan, untuk TBCCI tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Selain karena memang jumlah perusahaan yang bertambah, ada kategori khusus yang perlu kita apresiasi. Tahun ini, kategori lomba individu khusus tersebut untuk agent penyandang disabilitas.

“Untuk jumlah kategori tahun ini kebetulan ada satu kategori khusus yaitu dari penyandang disabilitas. Jadi penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan. Jadi nanti di hari keempat (Kamis, 27 Juli 2017), kita akan ada ketambahan satu kategori saja, selebihnya masih sama dengan tahun sebelumnya,” jelas Andi.

Ketua Indonesia Contact Center Association (ICCA) Andi Anugrah sedang memberikan informasi saat press conference TBCCI 2017 di Gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta.

Andi kembali menjelaskan, tujuan utama dari kegiatan TBCCI ini tentunya diharapkan dapat menjadi tolak ukur kesuksesan dan perkembangan bisnis contact center di Indonesia. Sekaligus memberikan kesempatan untuk sharing kreativitas kepada praktisi contact center. Tentunya, yang sangat menarik adalah ICCA berusaha untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang selama ini duduk di belakang meja melayani pelanggan. Terlebih lagi, bagi mereka yang berkebutuhan khusus dan aktif menjadi praktisi contact center.

Salah satu peseta TBCCI kategori individu agent penyandang disabilitas adalah Julian Sulistianto. Hari ini dia hadir ke Gedung Kalbis dengan pakaian batik rapi berlengan panjang untuk mensupport teman-temannya yang sedang berjuang mewakili perusahaannya, yaitu Bank Mandiri.

“Aku ikut lomba kategori individu untuk agent disabilitas. Hari kamis nanti presentasinya. Ini mau support teman-teman dulu, jadi kebetulan ada waktu dan dikasih, jadi kita kesini,” ujar Julian di Gedung Kalbis, Pulomas, Jakarta Timur, 24 Juli 2017.

Julian bercerita awal mulanya dia bisa bergabung di dunia Contact Center. Dia merupakan agent disabilitas angkatan pertama dari Call Center Bank Mandiri dan saat ini sudah memasuki pembukaan angkatan ketiga. Supaya dapat menjadi seorang agent ternyata tidak semudah yang dibayangkan, terlebih bagi seorang yang menyandang disabilitas. Layaknya seperti orang biasa, seorang penyandang disabilitas juga akan diseleksi terlebih dahulu melalui psikotes dan interview. Segala tahapan itu dia berhasil jalani dengan baik sampai saat ini menjadi agent inbound Customer Service.

“Untuk agent difabel, seleksinya dibatasin untuk lulusan SMA. Psikotes pasti ada dan seleksi ada juga. Ada juga yang tidak keterima. Bank Mandiri-nya juga akan melihat betul, karena perusahaan tidak mau ambil resiko juga,” imbuh Julian.

Untuk perlakuan di tempat kerja, Julian bercerita kalau tidak ada yang membedakannya dengan karyawan non difabel lainnya. Dia sangat menyukai hal tersebut. Hal ini dikarenakan, semua karyawan diperlakukan adil dan sama secara beban pekerjaan serta tanggung jawabnya.

“Kalau kesulitan, kita sendiri harus se-kreatif mungkin bisa mandiri ketika kerja. Saya senengnya kita tidak dibeda-bedain, kalau kita salah juga kita kena hukuman. Kita juga mintanya memang tidak dibeda-bedain karena kita memang ingin kerja maksimal,” ujar Julian.

Julian Sulistianto, salah satu peserta lomba individual khusus kategori agent penyandang disabilitas, hadir menyemangati rekannya yang sedang berjuang.

Selain bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya di dunia kerja, Julian juga banyak memberikan masukan bagi perusahaan Contact Center di Indonesia lainnya supaya ikut memberdayakan agent-agent difabel seperti dirinya. Sebagai alumni dari Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa di Cibinong, dia merekomendasikan tempat tersebut bilamana ada perusahaan yang tertarik untuk memberdayakan para pekerja terlatih dari kalangan difabel.

Hal yang paling berharga yang didapatkan oleh Julian selama menjalani pendidikan di Balai Vokasional tersebut adalah mengenai softskill dan bagaimana cara dia dapat membaur dengan masyarakat. Bagi dia, ilmu kesiapan mental lah yang bisa dijadikan dasar supaya penyandang disabilitas tetap survive di masyarakat. Selain itu, sikap kembali bangkit juga harus dimiliki oleh dirinya. Maka dari itu, dia menganalogikan hidup dia dengan seorang pembalap motor, yang juga merupakan tema presentasi individu dia saat kompetisi kamis nanti.

“Tema presentsinya ambil pembalap, karena kalau dia jatuh harus bisa kembali bangkit. Nanti kalau seandainya dia mau mencapi garis finish dia harus latihan terus menerus. Menurut aku di dunia contact center, tema yang paling inline itu pembalap,” jelas Julian.

Soal persiapan saat presentasi nanti, Julian merasa sangat optimis bisa melakukannya dengan baik. Pasalnya, dia sudah berlatih selama empat sampai enam bulan untuk mempersiapkan presentasi kategori individu ini, bersaing dengan tujuh agent difabel lainnya dari empat perusahaan yang berbeda. Julian sangat senang atas bantuan semua pihak di sekelilingnya atas pengalaman pertama yang akan dia lalui di ICCA 2017 ini.

“Ini saya pertama kali ikut presentasi, memang untuk agent disabilitas baru dibukannya tahun ini. Jadi kami merasa dihargai banget ya. Jadi ICCA sampai buka kategori khusus ini, kita sangat bangga sekali,” tutup Julian.

(HDA-SIM)