Catatan Singkat Nares

Jakarta hari ini tidur pulas, saatnya siap-siap menuju pentas yang pantas ku tuntas. Tak ada yang menyiapkan sarapan pagi. Maaf, aku ke Jakarta tiga tahun ini untuk mencoba cari pengalaman yang ku idamkan. Kutinggalkan adik serta mamah dan papah di pulau Sumatera. Ke ibu kota membuat meninggalkan ibu kandungku, jadi semenjak tiga tahun lalu tak ada lagi perempuan dengan rambut sebahu itu membangunkan tidurku untuk bertemu matahari pagi.

Oke, semuanya sudah siap, bring … bring … pangeran motorku sudah menjemput untuk mengantar ke Kalbis Institute. Dia adalah objek kemarahanku saat aku pusing, lelah dan lemah. Catat !!! wanita tak pernah salah, jika salah kamu lah penyebabnya. Namanya Candra, ia adalah orang yang selalu memberikan perhatian sampai aku lupa ingatan. Ia adalah orang yang selalu menerbangkan namaku dalam doanya, iya juga yang selalu memberikan pipinya disaat aku ingin menampar seseorang, ia juga yang selalu … akhh sudah tak perlu banyak bahas dia. Ini adalah ceritaku.

Candra & Nares Sedang berlatih sebelum Presentasi
Candra & Nares Sedang berlatih sebelum Presentasi

Perkenalkan aku Nares, nama panjangku Naaarrreessssssssss, nama lengkapku
Emiliana Priyanka Hayunindya Nareshwari, diambil dari bahasa sansekerta. Berisi harapan dan doa. Emiliana adalah nama baptisku.Priyanka yg berarti wanita cantik parasnya, Hayunindya diambi dari kata ayu-ning-tyas artinya berhati baik, dan Nareshwari berarti ratu atau pemimpin.Dengan nama yg diberikan, kedua orangtuaku berharap kelak aku mampu menjadi wanita cantik berhati baik yg dapat dijadikan panutan. Selamat berhafal arti namaku.

Dilahirkan di Sumatera Selatan, OKU Timur salah satu kabupaten dengan jarak tempuh 7-8 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi Palembang 25 tahun lalu tepatnya 25 september 1992. Sudah, tak perlu dicatat tanggal kelahiranku kecuali jika kamu ingin memberi kado nanti. Aku sepupu dari penyanyi Jazz hebat Citra Scholastika Jebolan Indonesian Idol 2010. Dia salah satu orang yang kujadikan kiblat, mimpinya menjadi artis melalui suaranya sudah terwujud. Tapi mimpiku tak setinggi dia, cukup ku salurkan suaraku melalui headset dan kuberikan suara merdu kepada nasabah setia.

Dulu sewaktu di kampung halaman, aku aktif di kegiatan gereja mulai dari pengisi paduan suara dan menjadi tenaga pengajar sekolah minggu. Sekarang, aku cukup menjadi anggota paduan suara di gereja itupun kadang-kadang. Saat ini aku bekerja sebagai telemarketing di salah satu bank terbesar Indoneisa. Hari ini jadwalku untuk berkompetisi dengan perusahaan lainnya. Bukan tahun pertama untukku mengikuti kontes ini. Ya aku sudah mengikuti kontes ini kali ke tiga.

Hmmm, teringat tahun pertama menjadi ujian berat bagiku karena kegagalan sempat membuatku runtuh tak utuh. Tepatnya gala dinner, saat semua orang yang mengikuti perlombaan dikumpulkan menjadi satu. Ingin rasanya ada namaku terpanggil saat pengumuman pemenang di acara tersebut. Tapi apa mau dikata ternyata tidak ada namaku di papan kemenangan.

Menangis adalah hal yang mungkin tidak dapat terbendung saat acara itu usai. Padahal menangis itu butuh tenaga dan kebetulan saat itu aku belum makan. Wahai Tuhan sang pencipta perasaan, seperti kira – kira berkata; Menangislah, itu pertanda bahwa kamu masih memiliki hati dan belum berubah menjadi batu. Lupakan, saat itu kemenangan adalah anugerah dan kekalahan adalah keikhlasan.

Nares Sedang Berfoto Dengan Peserta Lainnya
Nares Sedang Berfoto Dengan Peserta Lainnya

Di tahun kedua aku diberikan kesempatan kembali untuk mengikuti ajang yang sangat bergengsi ini. Ragu? Lupakan kekalahan tahun lalu, memangnya berapa ember air mata yang sudah kau tumpahkan sampai kau lemah tak bertulang Nares? Aku tahu kamu sudah memaafkan walaupun tak bisa kamu lupakan. Itu bukan kataku, tapi kata isi hatiku, Ceritanya.

Baiklah, ku ambil kesempatan kedua kalinya, aktif dalam berbagai acara ataupun kegiatan lainnya di dalam ataupun di luar kantor menjadi bekalku saat itu. Di TBCCI 2017 kamu bisa pilih ingin ke Eropa (Prancis, Belgia, Belanda) atau Thailand. Aneh memang, disaat semua orang mengingnkan Eropa, aku hanya ingin ke Thailand yang menjadi keinginanku jauh – jauh hari sebelum kompetisi ini. Baiklah mungkin ini jalan Tuhan untuk mengabulkan keinginanku ke negeri gajah itu. Seperti halnya kamu mencintai seseorang sederhana yang membuatmu nyaman padahal ada orang lain yang lebih tampan dan mapan yang patut dipilih, tapi kamu lebih memilih ia. Kumohon , jangan pernah ragukan dirimu yang lugu nares, karena kamu pantas untuk maju ke atas pentas. Semoga aku takkan pernah kehilangan kesempatan untuk memberikan maaf terhadap diriku atas kegagalanku.

Akhirnya, tahun itu ku dapatkan tiket Gold untuk pergi ke Thailand, senang rasanya disaat orang lain senang dengan kesenangannya masing – masing bersama tiket Platinumnya. Dan tahun sekarang, akan kuulangi keberhasilanku tahun lalu. Jika gagal? Tak apa, aku sudah pernah menangis, tak percaya? Bacalah dari awal lagi. Karena doa takkan pernah salah alamat, bukan masalah cepat atau lambat, tapi Tuhan mengabulkan di waktu yang tepat.


Baiklah, senja sudah memberikan kabar bahwa ia akan pulang. Karena ada perasaan yang tak bisa kujelaskan. Jadi cukup sampai disini. Selanjutnya kuserahkan kepada sang maha Pencipta. Tidurlah sekarang, ada rindu yang harus ku istirahatkan esok, sampai nanti namaku terpanggil kembali di papan pemenang.

-Catatan Nares

M&E
Bank Mandiri

Ulfah Zakiya : “Assalaamualaikum Turkey…”

Sudah kubilang, dia bukan wanita biasa di TBCCI (The Best Contact Center Indonesia) ini. Belum? Baiklah yang penting kamu sudah mengetahuinya baru saja. Tak percaya? Iqro Milea …

Dia itu namanya Ulfah Zakiyah, nama itu diberikan kedua orang tuanya yang sangat hebat. Mereka tinggal di Bogor-Jonggol. Iya mereka hebat, bagamaina tidak selain memiliki delapan anak, selama tiga puluh tahun orang tuanya mendirikan sekolah non-formal (Al-Anwariyah) diperuntukan bagi siapa saja yang mau mengembangkan dirinya, baik intelektual ataupun spiritual terutama untuk anak-anak. Saat ini sekolah itu telah diteruskan kepada anak-anaknya, mereka siap memberikan ilmu apapun yang anak-anak butuh walaupun itu tak utuh.

Selain kesibukannya sebagai agent contact center dan kesibukan merindukan rumah, wanita yang sederhana namun mempesona ini melanjutkan kuliah strata 2 di salah satu Universitas Islam Negeri Jakarta jurusan tafsir hadist. Baginya, perempuan berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi untuk membangun sebuah generasi. Bahkan dalam waktu dekat ia akan menerbitkan buku Diskursus Tafsir Hadist Kontemporer, percayalah penulis tidak mengerti judulnya, tapi yang jelas buku ini mengangkat isu-isu sosial dan keagamaan yang berkembang di masyarakat yang dikupas secara kontemporer. Begitupun kurang lebih materi yang nanti akan disampaikan berkaitan dengan isu – isu sosial dan pendidikan, bagaiamana ia bisa berguna bagi masyarakat dan bisa diimplementasikan pula dalam ruang lingkup pekerjaan yaitu memberikan pelayanan terbaik dan berkualitas kepada nasabah.

Tunggu dulu, wanita yang aktif menjadi MC di seminar nasional ini juga ternyata kurang lebih 4 sampai 5 juz ayat Quran ia pun faham atau bisa dibilang hafal. Kuncinya? Libatkanlah Tuhan dalam setiap apa yang kamu lakukan sebanyak mata kamu berkedip. Seperti halnya merindukan seseorang yang selalu kamu libatkan dalam pikiran yang kosong. Dan tentu bacalah berulang-ulang. Tidak heran jika rekan kerjanya ternyata selalu meminta ia untuk mendendangkan shalawat dan lagu religi di selah – selah waktu senggang saat bekerja. Suaranya yang sangat menyejukan keadaan ketika kita sedang bosan atau lelah menghadapi masalah nasabah membuat rekan kerjanya ingin selalu duduk dekat meja kerja perempuan dengan berat badan 46kg ini.

Lupakan sebentar, ia juga sedang merintis perpustakaan gratis, bagi siapapun yang ingin menyumbangkan buku, peralatan belajar bahkan tenaga, maka dengan senang hati ia terima dengan tangan terbuka. Menjadi sebuah tantangan hidup di lingkungan dengan tingkat pendidikan minor, tapi dengan tantangan itu pula ia bisa mengeluarkan jurus terbaik agar bisa memberikan yang terbaik. Tiap sore hari jika ada kesempatan ibunya menyuruh ulfa untuk mengajar anak didiknya. Bahkan keluarganya juga membangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) untuk masyakarat dekat rumah bagi mereka yang membutuhkan.

Bukan hanya itu, minatnya terhadap fashion menjadikan ia sangat menyukai bidang design, bahkan sesekali ia mendesign baju sendiri. Pun sahabatnya kerap meminta ia untik menggambar baju sesuai pesanan. Karena bakat yang diturunkan dari ibunya pula saat ini ia juga bisa dibilang berprofesi sebagai perias pengantin. Nama jasa riasnya ia berikan nama Zakiya Beauty

Bagaimana bisa membagi waktumu wahai Ulfah Zakiyah? Percayalah, menurutnya Tuhan sudah memberikan 24 jam dalam sehari, itu sangatlah luas. Lelah? Iya tapi itu hanya untuk wanita yang kalah. Ia harus membagi waktu antara bekerja, belajar dan mengajar. Butuh liburan memang, tapi ketika ia kembali bertemu dengan anak didik, kembali ke rekan kerja, itu adalah hiburan baginya. Prinsipnya, tertawalah bersama sahabat dan orang-orang disekitarmu, maka nikmatilah karena suatu saat ada kalanya kita akan dibuat sakit oleh orang yang disayang. Sulit memang, tapi kesulitan itu sangat keterlaluan, mereka tak kenal waktu dan keadaan yang entah akan muncul dari ruang sebelah mana.

Sesi Foto Bersama Ulfa Zakiyah dengan Rekan-Rekan
Sesi Foto Bersama Ulfa Zakiyah dengan Rekan-Rekan

Tidur jam satu malam sering ia lakukan dalam mempersiapkan semuanya untuk lomba ini, terkadang saat – saat seperti ini ia harus berpura-pura lupa tentang apa itu lelah, karena raga takan pernah bisa bertahan dimana pikiranmu masih berada di ruang kekalahan. Yang jelas, bekerja dimanapun, Tuhan akan selalu memberikan kesempatan dan kekuatan kepada hambanya yang ingin mengembangkan potensi diri.

Ulfah Zakiyah dkk Berdoa Sebelum Masuk ke Ruang Juri
Ulfah Zakiyah dkk Berdoa Sebelum Masuk ke Ruang Juri

Hari ini 10 juli 2018, jam 16.00 ketika semua orang mulai mengantuk, ia siap memberikan materi terbaik kepada para juri. Diteguknya segelas teh di samping teko putih sebelum masuk pintu ruangan juri kategori agent reluger. Saatnya melepaskan malu sementara, walaupun malu adalah bagian besar dari mahkota wanita.

Huffftt .. jangan sampai perasaan ini juga terjajah oleh rasa ketakutan. Akh itu biasa.
Sungguh, Tuhan kamu adalah penenang hati yang paling ampuh daripada ribuan kalimat gombal di ribuan malamku.

Jangan terlalu percaya diri, itu akan membuatku tak tahu diri

Karena saatnya nanti ketika kemenangan adalah sebuah “semoga” terbesar untuk sekarang. Teriakan lepas keluar dari gincu merahnya padahal baru separuh badan keluar dari pintu juri. Hmm luar biasa kamu Ulfah sampai – sampai suara kehebohamu menggeser posisi meja juri di pojokan sana.

Baiklah, tugasnya sudah selesai, Kami pun juga. Saat ini ia hanya menunggu hasil yang sedang ia impikan. Iya, impian yang ingin terulang kembali untuk menyapa “assalamualaikum” ke negeri orang tanpa menguras kantong sedikitpun. Ia bergurau dari pada terbang ke negeri orang dengan ongkos yang tidak sedikit, lebih baik ia gunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Ia berharap TBCCI ini akan selalu ada selagi ada manusia yang memiliki impian seperti dia.

Prancis, Belgia, Belanda sudah ia singgahi berkat The Best Contact Center Indonesia 2017 tahun lalu. Dan sekarang, ia ingin dan akan mengulanginya.

Assalaamualaikum Turkey ….. :’)

Ulfah Zakiyah photo by Mia
Ulfah Zakiyah photo by Mia

M&E
Bank Mandiri

TBCCI, Filosofi Kopi dan Dian Wulandari

Dian Wulandari salah satu peserta TBCCI 2018 (The Best Contact Centre Indonesia) mewakili Bank Mandiri. Wanita kelahiran 28 Desember 1993 lahir di Bekasi keturunan darah Jawa mulai meniti karir di Bank Mandiri sejak tahun 2016 setelah lulus dari kuliahnya di salah satu kampus bergengsi Universitas Gunadarma jurusan sastra Inggris.

Bukan kali pertama, sempat ia mengikuti seleksi internal perusahaan di tahun 2017 namun tak berhasil, tapi itu tak menyulutkan keinginanannya untuk mengikuti ajang bergengsi ini, baginya kegagalan adalah cara Allah mencintai hambahnya untuk berusaha.

Ia menuturkan, persiapan untuk mengikuti lomba ini sangat luar biasa.
“Aku kudu siap-siap kehilangan waktu main, waktu pacaran, waktu sama keluarga, karena separuh hari kita bakal habis di dikantor buat semuanya, belum lagi tenaga, dan pikiran, jika udah merasa lelah, maka siap-siap lah kalah.

Mulai dari pulang kantor lewat dari jam kerja normal hanya untuk mempersiapkan materi, tema, menerima masukan dan tekhnis lainnya. Ditambah dengan kerja shifting membuat ia harus pintar-pintar mengatur waktu.

Tapi Aku berterima kasih terhadap jarak bekasi sampai jakarta, karena ia telah melatihku dengan lelah menjadi wanita yang kuat dan itu menjadi kebahagiaan yang tak bisa didefinisikan hehehe…

Ruang Juri TBCCI 2018 - Dian Wulandari
Ruang Juri TBCCI 2018 – Dian Wulandari

Butuh delapan bulan untuk mempersiapkannya, mulai dari seleksi internal sampai dengan saat ini hanya untuk berbicara di depan juri selama 15 menit. Tapi bukan itu, yang terpenting menurutnya adalah bagaimana proses untuk sampai dengan hari ini.

Dalam presentasinya ia memakai tema MotoGP. Ia menganalogikan bahwa agent call centre seperti halnya pembalap MotoGP yang harus mengetahui kekurangan dan kelebihan motor serta track balapan. Pedrosa-lah pembalap favoritnya, paras yang tampan, low profil, dan selalu tampil maksimal dalam setiap race-nya membuat ia tak pernah pindah ke lain hati. Walau tak pernah juara dunia, ia selalu berusaha untuk meraih podium dengan team pabrikan motornya. Bagianya Pedrosa itu juara tanpa mahkota.

Ia bercerita, Ruangan juri seketika berubah menjadi panas walau suhu AC 18 derajat. Bermacam-macam raut muka juri siap untuk menggetarkan para peserta. Mulai dari berpura-pura menguap ditengah presentasi, mengambil foto, terlihat bosan dan sampai ada yang bersenderan. Rasanya seperti tak dipedulikan, tapi di akhir presentasi alhamdulilah beberapa juri memberikan tepuk tangan dengan wajah yang ceria. Disitulah ia sadar bahwa para juri sedang menguji mental. Karena tak ada satupun manusia yang tak memiliki rasa gugup, hanya bagaimana mereka mampu menyembunyikan kegugupan itu sendiri.

Menjadi seorang agent english Ia berkata: tantangannya itu kalau nasabah “bule” lebih kritis, apa yang dia inginkan harus cepat kita selesaikan. Mungkin sedikit berbeda dengan nasabah orang Indonesia yang masih bisa mengerti terkait solusi ataupun informasi yang kita sampaikan..

Menjadi agent english di call centre juga menjadi kebanggaan tersendiri karena dipercaya mampu menyelesaikan masalah nasabah dengan bahasa yang berbeda. Menurutnya bahasa adalah hal penting dalam berkomunikasi, baik bagi si pemberi informasi, isi dan si penerima informasi itu sendiri. Ketiga komponen itu harus menyatu agar tercapainya solusi yang tepat, cepat dan mudah bagi nasabah.

Dian berharap, dengan mengikuti ajang TBCCI ini menjadi pengalaman berharga. Baginya, pengalaman adalah guru yang paling hebat, ia akan selalu memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk melakukan dan memberikan yang terbaik. Menang kalah itu biasa, tapi menerima kekalahan dengan ketenangan itu baru luar biasa. ia berharap Syukur alhamdulilah jika Allah mengizinkan Platinum mampu ia raih.

Kami tanya:
“Siapkah jadi juara tanpa mahkota seperti Pedrosa?
Ia menjawab:
Yang terpenting proses dan usaha maksimal. Selanjutnya hanya menunggu campur tangan Tuhan. Masih banyak jalan menuju kemenangan, jika tidak disini mungkin di ruang lain. Jika ke surga saja banyak jalan, apalagi dengan kesuksesan.

Jika gagal, ia akan bertanya kepada Tuhan, karena Ia maha memiliki segala jawaban. Jika masih belum menemukan jawaban, maka minumlah kopi, dari sana kita tahu bagaimana cara menikmati rasanya pahit.

Di ruang berbeda, Ibu Ike selaku mentor dari Dian menambahkan bahwa sebetulnya Dian adalah anak yang pendiam, jadi kita harus memberikan semangat yang lebih untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Tidak untuk Dian saja, ajang ini tepat untuk menumbuhkan atau menambahkan rasa percaya diri seseorang. Kami percaya bahwa ia memiliki potensi dan kemampuan untuk mengikuti lomba ini. Dan alhmadulilah selama beberapa bulan ini Dian memiliki kemajuan baik dari personality ataupun materi. Mengenai hasilnya seperti apa, Ibu Ike tidak berharap apapun selain harapan untuk mendapatkan Platinum untuk semua kategori. Katanya sambil tertawa.

Berbincang dengan Mentor Dian Wulandari - Ibu Ike Yulindawati
Berbincang dengan Mentor Dian Wulandari – Ibu Ike Yulindawati

M&E
Bank Mandiri