Gagal Move On

AstraWorld (01/08/2016). Meskipun diadakan tiap tahun, perhelatan The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) selalu memberikan sesuatu yang berbeda dari tahun sebelumnya. Begitu juga tahun ini. Ada beberapa hal berbeda di ajang tahunan milik para praktisi contact center di Indonesia ini.

Yang pasti, demi mengejar kualitas yang lebih baik setiap tahunnya selalu dilakukan pembaruan dan perubahan. Penulis menanyakan seperti apa perbedaan lomba individu TBCCI kepada panitia dan peserta yang telah berpartisipasi sejak tahun lalu. Di hari pertama penyelenggaraan TBCCI 2016, penulis rangkum beberapa perbedaan TBCCI dari tahun 2015 ke 2016.

  1. Lokasi

TBCCI ICCA AstraWorldTahun lalu, presentasi individu TBCCI diadakan di Balai Kartini, Jakarta Pusat. Masih teringat betapa kami, para peserta writing competition, setiap hari beredar di Balai Kartini demi dapat meliput rangkaian acara TBCCI 2015. Tahun ini, presentasi individu TBCCI yang berlangsung 1-4 Agustus 2016, dilaksanakan di Kalbe Institute, Rawasari Jakarta Timur.

Menurut ketua panitia TBCCI 2016 yang juga ketua Indonesia Contact Center Association (ICCA) Andi Anugrah, lokasi acara memang berpindah dari tahun ke tahun. Tahun-tahun sebelumnya TBCCI pernah diadakan di Bidakara, Menara 165, dan Balai Kartini.

“Pemilihan lokasi pelaksanaan TBCCI mengutamakan kebebasan dan kenyamanan peserta. Di beberapa tempat tidak diijinkan membawa makanan atau peserta membuat keributan. Sebagai tempat penyelenggaraan TBBCI tahun ini, Kalbis dianggap cukup nyaman karena peserta lebih bebas dan bisa membawa makanan”, jelas Andi Anugrah.

Bagi Rani Apriantini, peserta dari AstraWorld untuk kategori Quality Assurance (QA), lokasi TBCCI tahun ini lebih menyenangkan karena lebih dekat dari rumah atau kantornya di daerah Sunter. “Cuma kalo untuk tag lokasi di social media, lokasi tahun lalu di Balai Kartini lebih oke dari tahun ini”, ungkap Rani yang juga menjadi peserta lomba individu tahun lalu.

 

  1. Kostum

Inilah salah satu perbedaan yang terasa paling signifikan dalam TBCCI 2016 dibandingkan 2015. Tahun lalu para peserta lomba individu berlomba-lomba memberikan penampilan yang terbaik. Ternyata selain mempersiapkan materi presentasi, peserta juga menyiapkan kostum sesuai dengan materi presentasi.

Suasana lokasi perlombaan makin meriah dengan para peserta yang hilir-mudik dengan kostum yang eye catching. Mulai dari kostum profesi, baju daerah, atau kostum super hero. Ketika hari pertama liputan TBBCI tahun

Peserta TBCCI dari AstraWorld
Peserta TBCCI dari AstraWorld

lalu, tim penulis beserta peserta dari AstraWorld terpukau oleh meriahnya penampilan para peserta dari perusahaan lain.

Tahun ini panitia mengeluarkan kebijakan baru untuk meniadakan kostum khusus bagi peserta yang lolos ke sesi presentasi. “Kami minta peserta tidak menggunakan kostum untuk menghindari perlombaan ini menjadi festival atau hura-hura. Acara ini adalah ajang sharing dan memotivasi antar peserta”, tutur Andi Anugrah.

  1. Jambore

Rangkaian kegiatan acara ini yang penuh keseruan dan sangat terasa semangat kompetisinya, tentu saja saat Jambore. Menurut penulis, acara Jambore merupakan salah satu acara yang bermanfaat untuk mempererat kerjasama dan meningkatkan motivasi peserta dalam satu tim.

Sayangnya untuk TBCCI tahun ini Jambore ditiadakan. Sedih, karena masih teringat keseruan acara jambore TBCCI ICCA 2015 lalu. Ditambah lagi para peserta Jambore sangat menikmati acara outbond beserta joged-joged seru sembari berlomba.

Tahun ini, untuk memperkuat kerja sama tim, panitia menggantinya menjadi perlombaan teamwork  yang terdiri dari Smart Team, Quality Team, Reporting Team, dan Scheduling Team. Menurut Andi Anugrah, lomba-lomba tahun teamwork tahun ini lebih menekankan pada aktivitas pekerjaan contact center dan tidak terlalu menonjolkan teamwork seperti tahun lalu. Meski diubah, besar harapan rangkaian acara ini pun dapat memperkuat teamwork dan memotivasi semua peserta.

 

  1. Suvenir Khas ICCA

Di salah satu sudut ruang perlombaan, ada satu meja kecil yang memajang pernak-pernik TBBCI. Ada boneka, mug, kaos, pouch, pin, dan lanyard atau gantungan tanda pengenal. Tahun sebelumnya, bagian yang khusus menjual suvenir TBBCI ini belum tersedia.

Setiap tahun penyelanggaraan acara ini memang meninggalkan kesan bagi para pesertanya. Ada beberapa kejadian yang tak terlupakan dan menjadi pembanding penyelenggaraan tahun-tahun berikutnya. Meski memang ada beberapa hal yang berubah, tentunya semangat TBCCI dan para pekerja Contact Center dalam memeriahkan acara ini tetap sama, yaitu memajukan industri Contact Center dengan tidak pernah berhenti berkarya.

Ayo move on!

Semarak The Best Contact Center Indonesia 2016

Pagi-pagi sekali, Kawas sudah rapi dengan setelan jas dan dasi. Penampilan memang menjadi salah satu poin untuk memikat para juri. Untuk itulah, Kawas berupaya tampil dengan setelan terbaiknya. Tentunya bukan cuma penampilan yang jadi perhatian Kawas. Saat menunggu panggilan memasuki ruangan presentasi, Kawas juga terus berlatih menguasai materi yang akan dipresentasikan di hadapan para juri.

imageTahun ini, gelaran The Best Contact Center Indonesia 2016 (TBCCI 2016) kembali menyemarakkan dunia contact center tanah air. Gelaran yang menjadi ajang terbesar ICCA ini, setiap tahunnya, mempertemukan para pelaku contact center di tanah air untuk berlomba menjadi yang terbaik.

TBCCI 2016 yang berlangsung di Kalbis Institute, Jakarta Timur, diikuti oleh tujuhpuluh satu peserta dari korporasi, BUMN, institusi pemerintah. Mereka akan saling melakukan presentasi terbaiknya di depan dewan juri. Seperti gelaran-gelaran sebelumnya, kompetisi kali ini pun begitu ramai dengan keceriaan para pesertanya. Selain itu, acara juga menarik dengan beragamnya kompetisi.

Hari pertama ini menjadi giliran para Trainer, Quality Assurance, dan Agen Sosial Media dari masing-masing korporasi, BUMN, maupun institusi yang menjadi peserta. Mereka akan berlaga menunjukkan kemampuannya di hadapan para juri. Para kompetitor tentu tak ingin kalah satu dengan yang lainnya. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menjadi yang terbaik dengan performa maksimal.

Peserta tampak bersemangat. Semenjak pagi, suasana di Kalbis Institute sudah ramai dengan para peserta. Mereka sudah datang dan menyiapkan diri jauh sebelum acara dimulai.

Kring Pajak 1500200 turut menjadi peserta di kategori individu. Pagi ini, Kring Pajak menurunkan empat peserta yang akan berjuang mewakili institusi. Kawas Rolant Tarigan, misalnya, perwakilan dari kategori Trainer ini menjadi salah satu peserta yang datang paling awal.

Pagi-pagi sekali, Kawas sudah rapi dengan setelan jas dan dasi. Penampilan memang menjadi salah satu poin untuk memikat para juri. Untuk itulah, Kawas berupaya tampil dengan setelan terbaiknya. Tentunya bukan cuma penampilan yang jadi perhatian Kawas. Saat menunggu panggilan memasuki ruangan presentasi, Kawas juga terus berlatih menguasai materi yang akan dipresentasikan di hadapan para juri.

Peserta lain pun tak kalah semangat. Fitri, salah satu peserta dari BCA, juga tampak serius menyiapkan diri. Selain sebagai penampil pertama, kesempatan kali ini sekaligus juga menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kategori Trainer. Pun begitu, tak tampak raut tegang atau nervous di wajahnya. Fitri tetap tenang dan menampakkan muka yang penuh senyum. Sikap itu dia pertahankan hingga akhirnya masuk ke ruang presentasi dan tampil di hadapan para juri.

Andi Anugerah, chairman ICCA, mengapresiasi antusiasme para peserta. Dengan sumringah dan senyum lebar, Andi berkeliling, bercengkerama, dan menyemangati para peserta. Dia juga salut dengan mutu dan kualitas para peserta yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Apa yang dikatakan Andi menjadi refleksi untuk ICCA. Dia memastikan ICCA terus melakukan perbaikan dari tahun ke tahun. Perbaikan yang tampak dari gelaran kali ini, bisa dilihat dari alur registrasi yang rapi, panitia yang sigap, dan yang paling penting adalah, waktu pelaksanaan yang dimulai tepat waktu.

Pemilihan tempat pun menjadi salah satu progress yang nyata ditunjukkan oleh ICCA. Ruangan yang digunakan sangat representatif, luas, didukung cahaya yang memadai, dan sound system yang mumpuni.

Perbaikan ke arah positif ini, menunjukkan komitmen ICCA untuk terus menyemarakkan dunia contact center di tanah air. Harapannya, dengan gairah berkompetisi yang terus ditumbuhkan dari tahun ke tahun, ICCA bisa menjadikan pelaku contact center di Indonesia sebagai yang terbaik di kancah global. Selama kita punya niat dan selalu berusaha, tak ada yang tak mungkin bukan?

Yang khas dari kompetisi TBCCI 2016 ini, dan selalu hadir dari setiap tahun penyelenggaraan acara ini, adalah antusiasme dan kegembiraan para pendukung yang tak kenal lelah memberikan suntikan semangat kepada para peserta.

Pendukung dari Telkom Indonesia, misalnya, aktif memberikan dukungan tanpa henti. Mereka meneriakkan yel-yel, bernyanyi, dan menari untuk memberi semangat bagi peserta lomba dari Telkom Indonesia yang akan tampil di depan juri. Penampilan mereka, sekaligus menjadi pertunjukkan tersendiri bagi peserta dari institusi yang lain. Banyak orang yang mengalami ketegangan dan membutuhkan hiburan memang.

Dari tahun ke tahun, ICCA selalu memberikan warna bagi dunia contact center Indonesia. Kali ini, di Kalbis Institute, kemeriahan ini semakin terasa karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan Indonesia. Seolah semangat kemerdekaan ikut mengiringi semaraknya gelaran The Best Contact Center Indonesia 2016. (FNR)

 

 

Gokilnya TBCCI 2016

Riuh terdengar di lantai 7 gedung Kalbis Institute, para peserta The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2016 mulai memenuhi pelataran lantai 7, dan beberapa peserta mulai masuk ke “ruang sidang” memulai presentasi individu.

Tahun 2016, merupakan tahun ke 10 diselenggarakannya lomba ini. Antusiasme para peserta terlihat dengan terdaftarnya 394 peserta dari berbagai perusahaan besar yang ada di Indonesia. Berbagai perusahaan besar terdaftar sebagai peserta lomba TBCCI 2016, yang terdiri dari badan pemerintah maupun swasta.

Ketua panitia ICCA (Indonesia Contact Center Assosiation) Andi Anugrah menuturkan, peserta lomba yang tiap tahunnya selalu bertambah menjadi bukti antuasiasme perusahaan-perusahaan terhadap perlombaan ini. Dengan adanya ajang ini, Andi berharap para peserta dapat saling berbagi pengalaman dan meningkatkan kreatifitas mereka. “Merupakan suatu kebanggaan bagi kami karena para peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti ajang lomba tahun ini “ kata Andi.

Kehebohan tampak dari kontestan PT Telekomunikasi Indonesia, salah seorang peserta bernama Ihwal Periyasa sungguh tampak heboh, beberapa saat sebelum presentasi hingga keluar “ruang sidang” kehebohan masih tampak dari pria berkacamata ini. Bahkan kehebohannya makin menjadi-jadi saat dia mengeluarkan suara teriakan melengking usai keluar ruang sidang yang mengagetkan peserta yang lain. Kehebohan tersebut diakuinya sebagai pembawaannya yang memang rame, dan heboh. Dengan ikatan kain tenun yang melekat dikepalanya, pria gokil ini membawa balon berwarna merah serta berteriak-teriak dan jelas saja hal ini menarik perhatian para peserta lain. “Saya memang seperti ini mba, orangnya suka rame,” cerita Ihwal sambil tertawa lebar.

Dia memang begitu bersemangat mengikuti ajang ini. “Ini pengalaman pertama saya mengikuti ajang ini, dan saya sangat senang, bersemangat untuk mengikutinya,” pungkasnya.

Dalam presentasinya, Ihwal mengambil tema tentang Agent Social Media, Bolang. Alasan dipilihnya tema ini, karena sesuai dengan kepribadiannya yang suka petualang, traveling dan juga laut. Ihwal merasa yakin akan penampilannya di “ruang sidang”. Pria gokil yang mewakili PT Telekomunikasi Indonesia ini mengakui bahwa dirinya sempat grogi di dalam ruang sidang. “Penampilan yang tadi masih terdapat kekurangan,tapi saya tetap yakin dapat memenangkan lomba dan ini  merupakan kebanggaan dapat mewakili PT Telekomunikasi Indonesia dan dapat bertanding melawan perusahaan-perusahaan terkemuka lainnya,” Ihwal tersenyum lebar dan kembali bersorak-sorak.

Kehebohan Ihwal, didukung pula oleh “Tim Hore” Telkom Indonesia, yang terus memberikan support kepada para kontestan menggunakan balon berbentuk pensil berwarna merah. Kehebohan mereka sesuai balon merah yang dipegangnya “meriah euy”. Heboh dan kompak, seperti itulah tampak pandangan mata saat menyaksikan kontestan dan tim hore Telkom Indonesia.

Tim Hore PT Telkom Indonesia
Tim Hore PT Telkom Indonesia

Ada yang menarik dari salah seorang peserta individu kali ini. Lucky Nurhalim, salah seorang peserta dari PT Angkasa Pura II (Persero) menggunakan iket sunda. Jejaka asal bandung ini menggenggam erat instrumen kesayangannya. Pencinta alat musik angklung ini, dalam presentasinya akan memainkan sebuah lagu Sunda yang berjudul Manuk Dadali dan Pileuleuyan.

Kecintaan terhadap alat musik tradisional Sunda ini, menjadi salah satu alasan Lucky mengangkat tema tersebut. “Dengan mengangkat tema angklung ini, saya berharap dapat mempromosikan budaya tradisional Indonesia,” ujar pria 27 tahun yang pada 13 Agustus mendatang akan mengakhiri masa lajang.

Lucky dan angklung kesayangannya
Lucky dan angklung kesayangannya

Lucky yang gemar memainkan angklung sedari kecil mengatakan bahwa dirinya optimis dan berusaha memberikan yang terbaik dalam ajang ini serta membawa nama AP2 menjadi salah satu pemenangnya.

“Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh ICCA, saya berharap saya dan ‘selingkuhan’ saya (angklung) dapat memenangkan ajang bergengsi ini,” Lucky tertawa lebar sambil mengelus angklung kesayangannya. (AP2)