Tom and Jerry ke Thailand

 

 

“Naik kereta api tut tut tut…

Siapa hendak turut…

Ke Bandung.. Surabaya..”

 

Sepenggal lirik lagu diatas tentu tidak asing lagi di telinga seluruh masyarakat Indonesia. Ya, lagu ciptaan Ibu Soed ini adalah lagu yang sering kali dinyanyikan di bangku Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Sejarah perkereta-apian di Indonesia telah dimulai sejak zaman Belanda, hingga zaman now pemerintah telah menguasai sepenuhnya aset berharga tersebut dibawah naungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Bila lirik lagu diatas hanya menuju Bandung dan Surabaya, tidak halnya bagi Nur Hidayat Indriadi dan Elsa Gultom. Siapakah mereka? Kemanakah kereta api mengantar mereka?

Nur Hidayat dan Elsa Gultom adalah pegawai yang telah bekerja di PT. KAI sejak 2012. Lima tahun lebih lamanya, mereka berkecimpung didunia contact center. Nur Hidayat lelaki berperawakan tinggi tegap itu mengawali karir sebagai seorang Staff Inbound, hingga kini karirnya menanjak menjadi Junior Manager Community. Sedangkan Elsa wanita yang ramah dan keibuan tersebut mengawali karir sebagai Agent Call Center hingga kemudian karirnya meningkat menjadi Staff Customer Relation.

Kamis, 12 Juli 2018 berlokasi di gedung Kalbis Institute, Pulomas, Jakarta Timur. Indonesia Contact Center Association(ICCA) kembali mengadakan ajang bergengsi didunia contact center untuk yang ke-12 kalinya. Ajang tersebut ialah The Best Contact Center Indonesia(TBCCI) 2018. Lomba yang berlangsung hari itu adalah Lomba Teamwork untuk kategori; Reporting Team, Business Process Team, Scheduling Team,dan Quality Team.

Nur dan Elsa bergabung menjadi satu tim untuk kategori Business Process Team. Tim untuk kategori ini terdiri dari dua peserta. Tugas yang dilakukan adalah menyusun diagram alur atas recording yang disediakan. Setiap recording dapat diputar sesuai kebutuhan peserta. Waktu yang disediakan hanya dua jam, dari pukul 08.30-10.30 WIB. Wow recording, mendengar kata tersebut dapat dibayangkan bahwa lomba ini memerlukan konsentrasi tinggi dengan harus siap pasang telinga tajam-tajam.

 

Senyum ceria Elsa Gultom dan Nur Hidayat Indriadi dari PT. KAI

 

Seperti kutipan dari Theodore Roosevelt “Believe you can and you’re halfway there”.

Tampaknya seperti itu lah seorang Elsa Gultom mempersiapkan dirinya mengikuti TBCCI 2018. Sedari awal saat ia mengikuti lomba tersebut, ia meyakini bahwa dirinya akan menang. “Menang” kalimat yang memberi sugesti kepada Elsa Gultom. Sungguh sugesti tersebut berhasil menjadikan dirinya meraih juara Gold. Ternyata benar adanya bahwa berpikiran positif akan menghasilkan sesuatu yang positif.

Tak jauh berbeda dengan Nur Hidayat, pria yang telah berkeluarga dan memiliki satu orang anak ini memiliki keyakinan “believe in your self”. Nur menjelaskan bahwa sebagai manusia wajib menjalani hidup dengan percaya akan kekuatan diri sendiri. Jangan takut untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jika mau terus berusaha dan berjuang, Tuhan pun melihat dan mendengar. Maka bukan perkara mustahil jika suatu hari sukses dapat diraih.

“iya.. lumayan melelahkan perjuangannya, seminggu kita bisa dua atau tiga kali latihan yang akhirnya kita perlu lembur. Latihannya lebih kepada mengerjakan soal-soal seputar contact center. Syukur alhamdullilah sebelumnya panitia mengadakan try-out, jadi kita sudah punya gambaran khusus untuk mengatur strategi.” papar Nur menjelaskan persiapannya sebelum lomba.

“Kalau strategi khusus, intinya kami harus siap pasang telinga dan konsentrasi penuh mendengarkan recording dan mencatat pembicaraan di recording saja sih yahh..”ungkap Elsa menambahkan.

Touch up sedikit boleh lah yahh..

Beragam persiapan dan pelatihan telah Nur dan Elsa lewati dengan penuh kerja keras. Tentunya banyak hal yang dikorbankan seperti; waktu, tenaga dan pikiran. Tak ada mentor khusus yang mendampingi persiapan mereka. Namun siapa sangka, ternyata kerja keras dan pengorbanan mereka untuk TBCCI 2018 sangat berbuah manis.  Ya, mereka berhasil meraih score 276. Score tersebut menempati kedua tertinggi sebelum Platinum yang diraih oleh Bank Indonesia. Namun demikian dengan score tersebut, mereka berhasil meraih Golden Ticket menuju Thailand. Hip-hip horay…

Pada akhirnya melalui ajang bergengsi TBCCI 2018, PT. KAI sukses membawa Nur dan Elsa menuju Thailand negeri yang terkenal dengan sebutan Gajah Putih itu. Merupakan suatu kebanggaan bagi Nur dan Elsa karena telah berhasil memenangkan perlombaan tersebut.

“Selamat ya.. selamat ya.. selamat ya…” ungkap teman-teman PT.KAI yang turut mendampinginya.

Begitulah ungkapan dan salam membanjiri Nur dan Elsa setelah pemenang TBCCI 2018 kategori Business Process Team diumumkan.

 

 

Behind The Golden Ticket

Melirik sedikit dibalik perjuangan kedua insan PT. KAI tersebut. Rupanya terdapat hal unik yang terjadi diantara Nur Hidayat dan Elsa. Perbedaan karakter kerap kali menjadi dilema. Bukan dilema yang memilukan ala drama korea, tetapi dilema unik yang mengundang tawa diantara teman-temannya. Elsa merupakan wanita berdarah Batak yang supel dan gesit.  Hal itu berlawanan dengan karakter Nur Hidayat berdarah Jawa yang kalem dan simpel.

“jadi mereka itu akur banget.. saking akurnya kadang-kadang berantem.. tapi bukan berantem kaya sinetron, berantemnya bikin ketawa deh..” sahut Claudy rekan kerja dari PT. KAI sambil tertawa.

Lalu pertanyaan menarik. Bagaimana mereka bisa menang?. Ya, dibalik kisah Tom and Jerry mereka, dapat terlihat bahwa mereka sebenarnya adalah rekan kerja yang kompak dan saling melengkapi.