Jodohku… bernama Platinum

Peserta saling sharing dengan teman-temannya

JAKARTA-KLIP DJP. Jodoh. Apa itu jodoh? Siapa dia? Kapan akan berjumpa dengannya? Apakah jodoh harus diperjuangkan, bahkan dengan bertaruh seluruh waktu, jiwa, dan raga? Apakah sudah pantas untuk menjemput dan bersanding dengannya saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar, dari seseorang yang sangat rindu, bersatu, dengan jodoh idamannya. Siang malam, pagi petang, dia selalu saja terngiang-ngiang. Seolah tiada waktu yang sia-sia, kecuali selalu memantaskan diri untuk menjemputnya. Tiada ucapan yang percuma, kecuali kalimat do’a, agar Tuhan segera mempersatukan dengannya.

Seperti itu lah gambaran perebutan Platinum di The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017. Platinum itu bagaikan jodoh, yang selalu menjadi idaman setiap peserta, diperjuangkan dengan berbagai pengorbanan luar biasa, tanpa mengenal rasa lelah dan pantang menyerah. Berbagai persiapan dan latihan, mewarnai hari-hari mereka. Tidak hanya berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan, mereka berjuang dengan segala pengorbanan.

Persaingan memperebutkan Platinum, bukanlah persaingan biasa. Kita semua tahu, mereka, peserta TBCCI 2017, adalah orang-orang terpilih dan terbaik dari instansi mereka masing-masing. Mereka semua melakukan berbagai persiapan panjang dan ketat. Diseleksi dengan standar tinggi, bahkan di kalangan internal sendiri. Mereka orang yang hebat dan penuh prestasi. Tidak hanya unggul di bidang akademi, tapi juga dalam berpresentasi. Tidak hanya paras yang memikat hati, tapi juga mental yang membuat juri sampai gerogi.

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha”, itu lah klise yang sering kita dengar dari mereka yang sedang berkompetisi. Mereka terus berusaha keras, dengan harapan hasil terbaik bisa tercapai. Masing-masing dari mereka tampil all out. “Saya pasti dapat Platinum”, itu lah sebagian besar keyakinan mereka.

3 bulan persiapan dan latihan, sebagai tanda usaha yang begitu kerasnya. Hari demi hari, dihiasi dengan latihan, latihan, dan latihan.

Apa kata mereka?

Niky Adam (kiri) – sesi photo booth

Niky Adam. Peserta kategori Team Leader Outbound dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan DJP. Dia mengaku puas atas presentasinya, terutama di bagian tengah hingga akhir. Niky, panggilannya, pun telah berhasil meraih hasil terbaik di tes tertulis. Dia berharap, presentasinya meraih poin maksimal.

“Harapan, pastinya harapan untuk menang. Sudah berusaha yang terbaik, mengeluarkan yang terbaik. Berharap untuk menang, semoga dapat platinum”, ungkapnya tentang harapan meraih platinum di ajang ini. Ketika ditanya tentang persiapan, dia menuturkan, ”Persiapan, paling banyak si ketika presentasi. Untuk lomba tertulis, persiapan cuma dua hari. Untuk presentasi hampir seminggu.”

Munajat. Pria yang biasa dipanggil Adjat ini, bermain di kategori videografi dan fotografi bersama timnya. Dia membela tim Astra Honda Motor (AHM). Dengan tema “Satu hati berkompetisi”, Adjat dan timnya mengaku, kemenangan bukan tujuan utama, tapi kemajuan bersama lah yang menjadi semangat motivasi untuk berkompetisi.

“ Ya, pengennya sih menang. Menang dibanyak kategori…”, kata Adjat, yang merupakan harapan dari timnya (AHM). Kalau untuk persiapan, dia menuturkan bahwa timnya sudah banyak persiapan dan latihan. Belajar dari pengalaman kompetisi tahun lalu juga dilakukan. Terus berkreasi dan berinovasi menemukan konsep dan metode baru, kemudian diterapkan saat ini.

Adjat, mewakili tim AHM, juga berharap bahwa kompetisi ini bukan hanya untuk mencari menang, tapi bisa juga untuk mencari solusi untuk perusahaan dari hasil berbagi informasi dan pengetahuan yang di dilakukan perusahaan yang lain melalui presentasi perwakilan mereka.

Yulian Agung Effrata – peserta kategori Agent Disability dari PT Telkom Indonesia

Ada yang berbeda di hari keempat TBCCI 2017 tahap kedua ini. Hari ini, Kamis (27/7), ada kompetisi untuk kategori Agent Disability. Kategori ini diikuti oleh 8 peserta dari 5 perusahaan yang berbeda, yaitu: 3 peserta dari Telkom Indonesia, 2 peserta dari Bank Mandiri, yang lainnya dari Telkom C4, BI, dan BCA.

Beruntung, hari ini saya sempat berbincang dengan salah satu pesertanya. Yulian Agung Effrata namanya. Beliau wakil dari Telkom Indonesia, untuk kategori Agent Inbound.

Motivasi Agung mengikuti ajang ini adalah untuk menjadi kebanggaan keluarga dan PT Telkom Indonesia itu sendiri. Sudah 3 bulan dia melakukan persiapan. Lebih diperhatikan dan diberi kesempatan lebih luas untuk kalangan difabel, adalah harapannya. Ada satu harapan yang sangat menyentuh darinya. Dia ingin juara, menjadi nomor satu. Bukan untuk meraih platinum, tapi untuk bisa umroh. Ya, tahun ini, kabarnya, hadiah benchmarking ke eropa bisa ditukar dengan satu tiket umroh. Semoga sukses ya, Agung. Niatnya sangat mulia. Saya pun sangat tersentuh mendengarnya.

Ario Bimo Pranoto (paling kiri) – foto bersama rekan satu kantor

Lain peserta, lain pula dengan Person in Charge (PIC) peserta dari masing-masing perusahaan. Menurut seorang PIC, sebut saja Bimo, tugas PIC itu sangat berat. Karena harus mempersiapkan seluruh peserta, terutama untuk latihan dan juga registrasinya.

Seorang pria yang lucu dan bernama lengkap Ario Bimo Pranoto ini adalah PIC dari KLIP DJP. “…mudah-mudahan tahun ini kita bisa mendapatkan medali platinum…”, menjadi harapannya. Bukan hanya medali, tapi juga pengalaman dan pelajaran tentang inovasi dan kreasi perusahaan lain untuk maju, menjadi harapan utamanya.

Untuk usaha yang dilakukan, dia mengaku selalu melakukan yang terbaik, mulai dari seleksi peserta, persiapan, dll. termasuk melakukan regenerasi peserta. Analisis juga dilakukan, agar semua persiapan maksimal dan matang.

Andi Anugrah (tengah) – duduk di meja panitia

Andi Anugrah, ketua panitia TBCCI 2017, mengatakan bahwa peserta tahun ini sangat antusias sekali, sangat bagus, dan sangat bersemangat, terlihat dari berbagai feedback yang diberikan oleh peserta. “Semoga lebih semangat, lebih sportif, lebih membangun kekeluargaan, networking, kebersamaan, saya kira itu lebih penting ya…” pungkasnya tentang harapan ajang ini.

Lalu, apa yang membuat peserta berhasil menjadi juara? Menurut pandangan Andi, kemampuan dalam presentasi yang dipadukan dengan ide-ide dan penyajian materi yang memukau juri, menjadi kuncinya, selain hasil tes tertulis yang maksimal.

Seperti itulah kompetisi. Ada kalah ada menang. Kita semua istimewa. Sama-sama lahir sebagai bayi yang lemah. Lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia luar biasa. Kompetisi bukan ajang untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain, tapi kompetisi adalah ajang untuk belajar dan sarana pendewasaan diri. Sebagai cerminan bahwa kita manusia yang hanya bisa berencana dan usaha, tapi Tuhan lah yang menentukan segalanya. (MI)

Hari Ketiga: Tangan-Tangan Tak Terlihat

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Pramoedya Ananta Toer

Para Pemburu Karya di TBCCI 2017

JAKARTA-KLIP DJP. Rabu, 26 Juni 2017. Seperti anak-anak yang sembunyi di balik daster kembang-kembang ibunya, matahari juga malu-malu pagi itu. Sinarnya lamat menerobos awan yang berarak. Tiris dan tipis. Jakarta telah memulai segenap keriuhannya sendiri. Sejak berjam-jam lalu, hingga berjam-jam nanti. Kalbis Institute juga tak lepas dari keriuhan itu. Membaca judul di atas, mungkin Anda berpikir tulisan ini akan mengulas tentang horor yang bersembunyi di gedung Kalbis Institute. Atau malah teringat Adam Smith, ekonom liberal yang dijuluki Bapak Ekonomi Modern itu?

Frasa tangan-tangan tak terlihat memang berasal dari Smith tetapi tulisan ini tak akan membahas tentangnya. Pun Kalbis Institute, gedung ini tak terlihat menyimpan horor sama sekali. Tulisan ini tetap akan membahas The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017 yang telah memasuki hari ketiga. Selain lomba individu yang telah banyak diulas, ada pula lomba talent yang hampir luput dari sorotan. Lomba talent yang diselenggarakan dari 24 sampai 27 Juli itu, terdiri dari kategori foto, video, dan writing. Itu yang sedang kita bicarakan.

***

Sudah menonton Dunkirk? Artistik betul, bukan?

Sisi artistik jugalah yang sedang dicari oleh Ius A Ganny setiap kali membuat video. Ia adalah peserta Kategori Video dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan, Direktorat Jenderal Pajak (KLIP DJP). Sedari pagi, Ius sudah sibuk keliling gedung, berburu angle dan adegan terbaik, berkenalan dengan peserta lain, melakukan wawancara, dan banyak lagi.

Ius A Ganny, ditemani dua kru, sedang merekam video.

“Sebenarnya waktu lomba itu, ingin cari pengalaman dan pengakuan sih. Saya suka membuat video. Saya tahu kalau video saya lumayan bagus. Tapi bener ga sih, orang lain berpikiran sama dengan saya? Dengan itu, cara tepat adalah mengikuti sebuah perlombaan. Kita bisa tahu betulkah karya kita bagus? Apa nggak? Dan kalaupun tidak, setidaknya dengan ajang ini kita bisa belajar,” ujarnya.

Pria pencinta film ini mengaku saingan terberatnya adalah peserta dari AHM karena mereka membawa lima kru.

Seperti Ius, Bustanul Maftuhin juga perwakilan dari KLIP DJP. Bedanya, ia mengikuti Kategori Fotografi. Jika tidak tahu ada kategori ini, mungkin saya telah menyangka Bustanul dan peserta lain adalah jurnalis betulan. Mereka mondar-mandir sepanjang lantai 6 dan 7, membidikkan kamera ke mana-mana. Ada yang cantik, jepret. Ada yang lagi make up, jepret. Ada yang menangis, jepret. Dan jepret-jepret lainnya yang tidak bisa dihitung jari.

“Motivasinya (red: ikut lomba) awalnya sih karena disuruh oleh kantor. Tapi sebenarnya juga karena saya emang suka jadi saya ingin membuktikan aja bahwa saya bisa,” katanya. Bustanul mengaku fotografi sudah menjadi hobinya sejak lama.

Jika fotografi adalah visual, videografi adalah audio-visual, maka menulis adalah seni merangkai kata dalam teks. Saya punya keyakinan, di tangan penulis hebat, tulisan sanggup menyampaikan emosi dan suasana lebih intim ketimbang video. Setidaknya itu yang saya rasakan setiap kali selesai menonton film yang diangkat dari novel. Kita tak akan kekurangan contoh tentang ini, sebut saja karya-karya Dan Brown atau Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Bukan tidak mungkin, di TBCCI 2017 ini, kita akan bertemu dengan Dan Brown atau Ahmad Tohari milenial, bukan?

Saya berkenalan dengan Deska Setia Perdana. Pria berkacamata bulat ini mewakili PT. Telekomunikasi Indonesia untuk dua kategori sekaligus, Writing dan Best of Best Back Office. Meski begitu, ia mengaku mudah mengatur tempo karena menulis dilakukan per tim. Sebelum berangkat, ia sudah mengobrol dengan temannya tentang formula menulis. Deska merupakan penulis yang produktif, khususnya puisi. Ia bahkan sudah membuahkan tiga belas antologi puisi. Salah satunya “Antologi Pendhopo 13”, diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah.

Peserta lain yang saya temui adalah Dona Adrian Yusma, perwakilan dari PT. Adhya Tirta Batam. Ya, Batam. Ia otomatis menjadi peserta yang berangkat dari tempat terjauh. Ternyata Dona seorang beauty blogger. Blog pribadinya bisa dikunjungi di Langkah Ketiga Puluh. Ketika ditanya saingan terberat, ia menganggap semua sama. Masing-masing memiliki karakter karena menulis pada dasarnya adalah bakat. Sungguh diplomatis.

Dona (kanan), salah satu talent writing, dalam sesi wawancara.

“Motivasi ikut lomba Writing ini sebenarnya menyalurkan hobi. Karena memang passion saya menulis, jadi yah mengikuti ini seperti jalan-jalan. Enjoy banget. Saya juga menulis buletin internal perusahaan, buletin departemen. Kalau departemen itu lebih spesifik ke contact center. Kemudian selain itu juga menulis di beberapa antologi khusus syair dan puisi,” kata Dona.

***

“Contact center itu kan orangnya kreatif, jadi tujuan menulis itu agar terbiasa untuk nulis, membuat laporan. Kan memang diperlukan ya. Kalau lomba foto itu kan seni ya. Video, kedepannya, sebenarnya kan kita tidak bisa pungkiri bahwa media komunikasi video itu sangat dibutuhkan. Foto juga. Sehingga dengan adanya ini, ya itu kan apresiasi buat mereka untuk bisa kreatif. Bahwa contact center itu tidak hanya duduk di belakang meja, tapi mereka juga bisa meliput, mengomunikasikan ke suatu media,” terang ketua Indonesia Contact Center Association (penyelenggara TBCCI), Andi Anugrah.

Sebenarnya lomba Talent sudah ada tahun lalu. Bedanya, penilaian tahun ini tak lagi semata-mata berdasarkan engagement di media sosial (seperti like, share, dan comment di Facebook dan Twitter). Tahun ini ada juri yang terdiri dari para wartawan, akademisi, dan praktisi. Mula-mula mereka akan menyeleksi sepuluh karya terbaik dari masing-masing kategori. Lalu sepuluh besar itu dikonteskan untuk perolehan engagement media sosial sebesar 20% dari total nilai. Andi mengatakan perubahan penilaian dilakukan karena ada masukan dari peserta. Dan merupakan perbaikan dari tahun sebelumnya.

Foto, video, dan menulis pada dasarnya sama. Ketiganya bertujuan mengabadikan peristiwa. Kita berusaha membekukan waktu di dalamnya, agar bisa menimang-nimangnya kembali sebagai kenangan lima atau sepuluh tahun kemudian. Seolah menjadi eskapisme atas ketakutan-ketakutan terdalam manusia pada kehilangan, pada ingatan yang mungkin saja berkhianat saat usia telah jompo. Kita bisa mengingat betapa dulu pernah ada yang diperjuangkan sekuat tenaga. Kita berusaha menolak lupa. Dengan ketiganya pula, pengalaman disebarkan. Masyarakat luas bisa mengetahui peristiwa yang tidak mereka saksikan langsung di Kalbis Institute.

Melalui tangan-tangan tak terlihat itu, TBCCI disiarkan dan diabadikan. (NND)

Hari Kedua: Orang Istimewa

Suasana di photo booth TBCCI 2017 hari kedua

JAKARTA-KLIP DJP. Itu adalah Selasa pagi di Kalbis Institute, hari kedua lomba The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017. Bermula dari beberapa kesalahan yang dilakukan oleh peserta lomba, ia menggelar konverensi pers. Kali ini ditujukan untuk seluruh peserta Kategori Writing, Foto, dan Video. Ia menekankan kembali hal-hal teknis yang sebenarnya sudah pernah dijelaskan sebelumnya, termasuk informasi lain tentang acara hari ini.

Pak Andi Anugrah – sedang mengadakan konferensi pers

Laki-laki itu tampak kasual dengan polo shirt hijau, celana bahan, dan sepatu kets. Jam tangan melingkari pergelangan kirinya. Ia terlihat begitu santai menghadapi pertanyaan dari para peserta. Bicaranya serba-terukur. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya. Dia ketua Indonesia Contact Center Association (ICCA), Andi Anugrah.

“Di Facebooknya harus muncul karena nanti nilainya ada dua, dari Facebook dan Twitter engagement-nya ya,” kata Andi.

Andi menekankan kembali mengenai komposisi penilaian, di mana 20 persennya berasal dari engagement media sosial. Rupanya, beberapa tulisan peserta tidak otomatis muncul di media sosial. Ada juga yang belum mencantumkan foto. Padahal, salah satu syaratnya adalah minimal harus ada satu foto untuk setiap tulisan.

Di kejauhan, saya tanpa sengaja melihat seseorang duduk di kursi roda. Tidak hanya percaya diri dan ceria, ia juga terlihat selalu memberi motivasi untuk teman-temannya. Tak salah lagi, dia pasti salah satu peserta dari kategori yang baru ada tahun ini, Agent Disability. (Saya tak tahu mana yang benar, Agent Disability, atau Agent with Disability, atau Disability Agent.) Saya selalu penasaran dengan orang-orang tangguh sepertinya. Siapa orang di balik ketangguhan itu? Kekasih, misalnya?

Sayang sekali, saya tidak mendapat izin mewawancarainya.

ibu Henny Setyawati – ekspresi kebahagiaan

Beranjak ke tempat lain, saya melihat wajah yang familiar. Henny Setyawati telah selesai dengan penampilannya. Kepala Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan, Direktorat Jenderal Pajak (KLIP DJP) ini, bersaing di Kategori Manager Contact Center – Small. Ia mengaku sangat puas dengan penampilannya. Pasti, kepuasan itu erlihat dari senyumnya yang merekah saat keluar dari ruang presentasi. Ia yakin bisa menyikat platinum di malam penentuan nanti.

“Ada pasti. Kebetulan yang mendampingi saya latihan adalah mas Ahmad Hidayah dan Zulfa Hanna Mas’uda. Mereka support saya dalam melatih diksi, kemudian cara saya berpenampilan supaya presentasinya bagus. Mereka tak segan-segan untuk memberikan masukan dan juga mengkritisi saya. Dan saya seperti inilah hehehe.” tuturnya saat saya tanya tentang orang spesial di balik kesuksesan presentasinya. Henny mengaku ingin seperti teman-teman yang sudah berhasil menjuarai lomba ini. Apa yang telah mereka raih begitu menginspirasi bagi dia.

pak Andi Anugrah – saat sedang diwawancarai oleh peserta lomba

Selain peserta, acara ini tentu tidak bisa lepas dari adanya panitia. Mereka yang berjuang agar TBCCI berjalan sukses. Saya pun kembali kepada Andi Anugrah, selaku ketua panitia. Menurut pengakuannya, ia puas dengan TBCCI tahun ini. Namun, bukan itu pertanyaan utama saya. Melainkan, apakah ada orang spesial di balik suksesnya acara ini?

“Saya kira kalau untuk orang spesial, tiada yang secara khusus ya. Tapi mereka semua praktisi contact center sahabat saya,” jawabnya diplomatis.

Andi bercerita, selama sebelas tahun perjalanan TBCCI, ia dan tim selalu  berinovasi dan berkreasi. Melakukan berbagai pembenahan dan penambahan agar acara ini bukan sekadar acara rutin tahunan tetapi dapat memberi banyak arti untuk seluruh praktisi contact center. Baginya, teman dan sahabat sangat berarti. Motivator hidup untuk selalu menunjukkan hasil yang terbaik kata Andi sembari membetulkan letak kacamatanya. (MI)

TBCCI 2017: the Story Begins

JAKARTA, KLIP DJP. Sepanjang sejarah umat manusia, sebenarnya, hal macam apa yang paling memotivasi kita untuk berkompetisi? Yang paling mendorong kita saling mengalahkan satu sama lain?

Senin, 24 Juli 2017. Langit sedang cerah belaka. Dari jendela kaca Kalbis Institute Jakarta yang lebar-lebar itu, cahaya matahari menerobos ke lantai 7, menerpa keriuhan yang telah dimulai sejak pagi. Ini adalah hari pertama dimulainya The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2017, ajang bergengsi tahunan contact center se-Indonesia yang diadakan oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA).

Acara berlangsung hingga tiga hari ke depan untuk kategori individu. Diikuti oleh 561 peserta pada seleksi tertulis (tahap I). Dan dari 561 peserta itu, 478 peserta berhasil lolos dan berhak mengikuti babak presentasi.

Andi Anugerah selaku Ketua Indonesia Contact Center Association (ICCA) periode 2014-2019

Jam di gawai saya menunjuk angka 09.00 lewat sedikit saat Andi Anugrah berbicara pada sebuah konverensi pers. Ketua ICCA itu mengungkapkan ada yang baru tahun ini, yaitu kategori disabilitas. Menurutnya, 1 persen dari populasi seluruh manusia adalah penyandang disabilitas. Oleh karenanya, TBCCI perlu memberikan porsi untuk mereka. Total ada delapan peserta yang akan presentasi Kamis depan. Selebihnya, acara dan kategori berjalan seperti tahun lalu.

Hari ini adalah saatnya para agent social media, quality assurance, IT support, desk control, dan trainer memamerkan kebolehannya. Saya sempat mengintip salah satu ruangan yang sedianya akan mereka pakai untuk presentasi. Suasananya dingin. Seolah rasa gugup menguap dari para peserta, memenuhi udara, lalu merambati dinding-dindingnya. Di ruangan itu, para peserta akan berhadapan dengan minimal sepuluh orang juri dari berbagai latar belakang. Ibarat pertandingan gladiator, para jurilah yang menjadi penonton sekaligus hakim. Di acungan jempol mereka, ‘hidup-mati’ gladiator ditentukan: menjadi juara, memenangkan benchmarking ke luar negeri, dan membawa nama baik untuk lembaga masing-masing, atau tidak sama sekali.

Pelangi, ingatan itu yang melintas saat melihat aneka rupa ekspresi para peserta. Warna-warni. Ada yang terlihat begitu tegang seolah menahan sesuatu dan ingin cepat-cepat dimuntahkan. Pendingin ruangan berfungsi dengan baik, sebenarnya, tetapi ada saja yang tetap sibuk mengelap keringat. Beberapa bahkan terlihat duduk menyendiri dengan mata terpejam, hanya bibirnya yang tak henti komat-kamit. Satu-dua lainnya berjalan mondar-mandir sambil mengingat-ingat sesuatu. Ada juga yang jadi lebih muram setelah keluar ruangan dibandingkan saat sebelum masuk. Ada yang justru sumringah seolah ingin memeluk siapa saja di sekitarnya. Perasaan dan ekspresi mereka boleh berbeda. Namun, tetap ada satu kesamaan. Siapa pun peserta yang datang ke Kalbis Institute hari ini, dari mana pun mereka, tujuannya hanya satu: menang.

Hana Indriati adalah salah satu yang sumringah setelah keluar dari ruangan. Bagaimana tidak, Peserta dari PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) untuk kategori Agent Social Media Large ini, telah ditunggu rekan-rekan sejawatnya di depan pintu ruangan dengan yel-yel, sebuah buket bunga, juga novel Dilan. Setelah itu, mereka (supporter dan peserta) berkumpul melingkar, saling memeluk, lalu bersorak satu sama lain untuk merayakan sebuah kemenangan—yang mereka harap akan didapat di hari pengumuman nanti. Saya kira, kamera pun tidak akan bisa mengabadikan perasaan haru itu.

“Semalam aja ga bisa tidur sih. Cuma pas tadi keluar (red: ruang presentasi) kaget.”, ungkap Hana. Matanya masih berbinar-binar, tak menyangka akan mendapat sambutan begitu rupa dari teman-temannya.

Lain Hana, lain pula Dwi Wahyuni. Peserta dari PT. Angkasa Pura II ini teramat mencintai Doraemon, tokoh kartun yang ditayangkan di RCTI tiap Minggu pagi. Tak hanya mengenakan bando baling-baling bambu, ia juga membawa boneka Doraemon, boneka tikus (yang selama ini ditakuti Doraemon—kucing kok takut tikus), dan berbagai peralatan “dari abad ke-21” yang dimasukkan ke kantong ajaib Doraemon.

Dwi Wahyuni-Angkasa Pura II

“Doraemon ini passion saya, jadi saya tadi (red: saat presentasi) ngalir aja. Bisa all out.” Saat ditanya siapa saingan terberat, Dwi menjawab peserta dari PT. Kereta Api Indonesia. “Namun, karena saya berlatih secara optimal, saya tidak perlu khawatir lagi, dan yakin akan mendapatkan Platinum.” Semangat dan kepercayaan diri wanita cantik ini sungguh patut dikagumi.

Setelah bertemu Dwi dengan boneka Doraemonnya, ada pula Aulia Rahimi. Wanita yang anggun dengan baju biru ini adalah perwakilan dari Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan, Direktorat Jenderal Pajak. Ia mengikuti kategori Best of the Best Quality Assurance. Terbaik di antara yang terbaik. Bagai memilih berlian terindah di antara berlian, tanpa dipoles pun ia sudah berkilauan. Ini adalah kali ketiga Aulia mengikuti ajang bergengsi TBCCI. Ia bahkan pernah memenangkan Platinum untuk kategori Quality Assurance di 2015.

Saat ditanya apakah yakin menang atau tidak, dia optimistis, “I give the best, let the God give the rest.”

Aulia Rahimi – KLIP Ditjen Pajak

Tentu tak semua kisah dapat dituliskan di sini. Yang jelas, para peserta adalah perwakilan-perwakilan terbaik dari kantor masing-masing. Mereka telah berusaha keras untuk sampai pada titik ini. Dengan segala persiapan, doa, pakaian, dan riasan terbaiknya. Lomba hari ini memang telah usai, tidak dengan harapan-harapan peserta untuk memenangkan hadiah sesungguhnya. Bukan sekadar hadiah ke luar negeri, melainkan kebanggaan untuk keluarga dan lembaga yang telah percaya kepada mereka selama ini. (NND)