4 Fakta Bermedia Sosial yang Jarang Terekspos, Salah Satunya Komplain Tidak Pada Tempatnya

AHM – Media sosial (medsos), perkembangannya cukup pesat dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia.

Bahkan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini hampir semua lapisan masyarakat kenal medsos.

Mau yang tua, muda, pejabat, pelajar dan lainnya, bisa dipastikan minimal memiliki 1 akun di sebuah platform medsos.

Data yang beredar menyebutkan, bahwa medsos Facebook jadi platform yang banyak penggunannya di seluruh dunia.

Nah untuk urusan yang satu ini, ternyata Indonesia ada diperingkat keempat pengguna medsos Facebook terbanyak di dunia (data We Are Social).

Dengan angka yang mencapai 130 juta orang atau sama dengan 6% dari total jumlah pengguna diseluruh dunia.

Oleh masyarakat Indonesia, banyak hal yang dilakukan dengan akun medsosnya.

Salah satu dan paling banyak dilakukan adalah sebagai sarana dan prasarana untuk bersosialisasi.

Lalu juga ada yang menggunakan medsos sebagai tempat untuk mencari dan menyebarkan informasi.

Bagi orang-orang yang kekinian, medsos juga dijadikan tempat buat mengekspresikan diri.

Caranya juga bermacam-macam, diantara bisa lewat tulisan, foto ataupun video.

Ada juga pengguna medsos yang menggunakan akun miliknya buat mempengaruhi orang lain.

Pokoknya, perkembangan medsos yang cukup pesat membuat fungsinya jadi cukup kompleks bagi penggunanya.

Asteria Floretta, agent social media PT Astra Honda Motor

Hal tersebut sangat disadari oleh Asteria Floretta yang jadi agent medsos di Divisi Honda Customer Care Center, PT Astra Honda Motor.

Makanya saat jadi wakil perusahaan di ajang The Best Contact Center Indonesia 2018 di kategori The Best Agent Social Media, cewek kelahiran 1993 itu memperkenalkan istilah POP.

“Agent medsos itu kudu POP dan itu kepanjangan dari Proaktif, Optimis serta Prospektif,” papar Asteria Floretta yang ditemui di di Kalbis Institute, Pulo Mas, Jakarta Timur (11/7/2018).

Selain memperkenalkan istilah POP untuk seorang agent, Asteria Floretta juga menemukan fakta-fakta yang jarang diekspos mengenai medsos yang terkait dengan konsumen.

1. Komplain Tidak Pada Tempatnya.

Dengan keterbatasan dan cari gampangnya, konsumen memiliki kecenderungan melakukan komplain via akun medsos pribadi mereka.

Alhasil, komplain rentan ditanggapi oleh orang yang nggak berkompeten.

Ujung-ujungnya, bisa jadi memicu timbulnya tanggapan yang negatif.

Menemui hal yang seperti ini, Asteria Floretta memberikan arahan pada konsumen untuk melakukan komplain pada akun resmi @Astra Honda Care.

Dengan cara yang sesuai aturan, komplain dapat fast response dan oleh orang yang memiliki kompetensi dibidangnya.

2. Data Konsumen Kurang Valid

Tidak sedikit pengguna medsos yang nggak mau menuliskan lengkap data pribadi di akun mereka.

Hal seperti ini terjadi salah satu alasannya terkait dengan faktor keamanan.

“Data yang valid dari konsumen yang berinteraksi via medsos, sangat diperlukan.

Agar agent bisa memberikan penanganan yang sesuai, misalnya dalam pemanggilan bro, sis atau pak,” jelas Asteria Floretta.

3. Konsumen Tidak Mau Ribet

Masih soal validitas data konsumen Honda yang berinteraksi pakai medsos.

Dengan diberikan gimmick yang menarik, diharapkan konsumen Honda mau memberikan data yang valid.

Agar tidak membuat konsumen berpikir ribetnya mengisi data, maka dibuatkan cara sesimple mungkin.

Asteria Floretta mengarahkan konsumennya untuk mengisi form disiapkan di google form.

“Mereka hanya diminta mengisi nama, alamat email, alamat akun medsos, tipe motor, nomer handphone dan nomer rangka,” jelas cewek lulusan S1-Bio Teknologi Industri.

Database sudah didapat, selanjutnya dilakukan validasi untuk memastikan kebenarannya.

4. Peluang Jualan Produk

Medsos juga dipakai konsumen atau calon konsumen, untuk tahu soal produk baru sepeda motor Honda.

Menyadari adanya peluang seperti, maka perlu disiapkan strategi khusus untuk menjaring konsumen potensial.

Caranya dengan mengumpulkan database sebanyak-banyaknya.

“Lalu kalau ada konsumen yang bertanya soal produk, langsung difollow up dengan mengirim brosur ke alamat email mereka.

Baru beberapa hari kemudian melakukan follow up call,” beber Asteria Floretta.

Dengan apa yang dilakukan itu, tanpa ragu dipamerkan dihadapan juri angka pencapaian penjualan yang lebih dari Rp 2 milyar.(AHM)